Senin, 20 Agustus 2018

Persediaan Beras Warga Baduy Melimpah, Menjaga Ketahanan Pangan dengan Menjaga Amanat Leluhur

AMANAT leluhur yang terus dijaga dari generasi ke generasi, khususnya tentang tata cara bertani dan pola penyimpanan hasil tani (beras) oleh komunitas masyarakat adat Baduy terbukti sangat ampuh untuk menjaga ketahanan pangan. Saat sebagian besar masyarakat Indonesia digonjang-ganjing oleh fluktuasi harga beras, hampir tak terdengar keluhan dari warga Baduy karena persediaan beras mereka sejak dulu hingga kini salalu melimpah.

Salah seorang petani Baduy, Santa menyatakan, amanat leluhur telah mengajarkan dan mewasiatkan agar seluruh hasil panen wajib disimpan di rumah pangan atau leuit untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga dan warga. ”Kenaikan harga beras di pasaran yang sering terjadi, sama sekali tidak berdampak terhadap masyarakat Baduy. Kami belum pernah mengalami kerawanan pangan, karena seluruh hasil panen padi huma mereka tidak dijual, tapi disimpan di leuit untuk memenuhi keluarga,” ujar Santa, Senin (15/1/2018).

Menurut Santa, selain di tanah Baduy, warga Baduy juga mengembangkan lahan pertanian padi huma sekitar Kecamatan Gunungkencana, Cileles, Leuwidamar, Bojongmanik, Cirinten, Sobang, dan Cimarga.
”Lahan pertanian ladang huma itu dengan sistem sewa maupun bagi hasil dengan pemilik lahan. Selain itu, banyak masyarakat Baduy menanam di lahan milik Perum Perhutani. Kami berharap panen padi huma tiga bulan ke depan bisa dipanen dengan bagus tanpa serangan hama,” ucap Santa.

Salah seorang warga Baduy lainnya, Pulung (50) mengaku, dirinya hingga kini belum pernah membeli beras di pasaran karena persediaan pangan melimpah. Bahkan panen padi huma tahun lalu masih banyak hingga memadati rumah pangan. ”Selain saya juga mendapat bantuan program beras untuk masyarakat sejahtera atau rastra dari pemerintah desa setempat,” katanya.

Kepala adat yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Saija mengatakan, hingga saat ini masyarakat Baduy belum pernah mengalami kerawanan pangan karena setiap panen padi huma disimpan di lumbung-lumbung pangan atau leuit. Saat ini, jumlah lumbung pangan tercatat 405 lumbung dan setiap lumbung dapat menampung gabah antara empat sampai lima ton. ”Bagi kami warga Baduy, kenaikan harga beras tak berpengaruh apa-apa karena persediaan beras kami lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga Baduy yang saat ini berjumlah 11.620 jiwa,” ucap Saija

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan, prinsip masyarakat Baduy yang diwariskan dari nenek moyang selama ini bisa menata produksi pangan cukup baik. Menurutnya, selama ini masyarakat Baduy mempertahankan pangan dengan bercocok tanam padi gogo di lahan darat tanpa menggunakan pupuk kimia. Bahkan, produksi pangan di kawasan Baduy surplus dan melimpah karena sebagian gabah mereka disimpan di lumbung pangan. “Penyimpanan gabah itu untuk mempertahankan ketahanan pangan masyarakat adat tersebut,” tutur Dede. (Nana Djumhana)***


Sekilas Info

Ribuan Lansia Dapat Bantuan Jaminan Hidup

USIA tua merupakan sebuah keniscayaan yang akan dialami oleh sebagian manusia yang diberikan usia panjang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *