Persaingan Parpol ‎ Menuju Pemilu 2019‎

‎Gong perhelatan politik menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 telah dimulai. Pasca-verifikasi partai politik pekan lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan nomor urut partai.
Ini menjadi awal bagi parpol peserta pemilu untuk bersaing ketat dalam Pemilu Legislatif. Meski demikian, sejumlah parpol lama maupun partai baru mengakui cukup berat untuk bersaing meraih kemenangan pada pemilu. Terlepas dari persaingan parpol. Para elite, dan calon anggota legislatif berlomba untuk meraih target raihan dengan ambang batas 4 persen.

Hal tersebut terungkap dalam‎ diskusi “Obrolan Mang Fajar” bertema “Persaingan Partai Politik Menuju Pemilu 2019”, di Kantor HU Kabar Banten, Jalan A. Yani Kota Serang, Kamis (22/2/2018).
Diskusi dipandu Direktur HU Kabar Banten Rahmat Ginanjar. Diskusi dimoderatori Redaktur Pelaksana Yadi Jayasantika dan para redaktur. Hadir di ruang diskusi, Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan Banten, James Tangka, Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Serang, H. Bahrul Ulum, Sekretaris Wilayah Partai Berkarya, ‎Alfauzi Salam, pengurus DPW PKS Banten, Saukatuani.
‎Hadir pula, Ketua Jaringan Rakyat Demokrasi Untuk Pemilu, Eka Satia Laksmana, Ketua KPP Demokrat, Azwar Anas, dan Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat, Deding.

Dalam diskusi tersebut, ‎Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan Banten, James Tangka mengatakan, ‎sekitar tahun 2004, partainya sempat mengalami guncangan dan kekalahan. Dan ini fakta empiris, bahwa PDIP kalah, termasuk partai lainnya seperti PKS dan Demokrat. Namun perubahan politik tersebut bisa dipengaruhi kekuatan figur, plat form, kekuatan dan ideologi. “Jadi tidak juga, jika akan ada parpol tergerus . Karena masing-masing parpol memiliki pasar masing-masing. Ya, kalau sekarang lagi trend kehadiran empat parpol baru. Dan itu kita anggap sebagai mitra,” ujarnya.

‎Menurutnya, ada tujuan umum parpol, yakni bagaimana menyejahterakan masyarakat Indonesia. Siapa pun figur dan parpolnya tujuannya ke arah itu.‎ Tujuan khususnya adalah mendidik hak dan kewajiban warga negara. “Jadi parpol harus memberikan pembelajaran politik bagi masyarakat. Dan tujuan itu akan ketemu pada out-put di masing-masing Parpol,” katanya. Lain hal yang disampaikan Sekretarus DPD Partai Golkar, Bahrul Ulum . Ia mengatakan, diskusi bersama “Mang Fajar” ini sangat menarik. Karena temanya cukup seram. Persaingan parpol menuju Pemilu 2019.

Terlepas dari itu semua, soal kehadiran partai baru atau kembaran yang mirip Golkar, dianggap sesuatu hal biasa. ‎”Golkar banyak melahirkan partai -partai lahir dari kekecewaan Golkar, seperti PKPI, Hanura, Gerindra dan Nasdem. Sehingga partai yang identik warnanya, mirip logonya lahir dari kekecewaan Golkar dan hal itu dianggap biasa. ‎Kehadiran partai baru ada plus dan minusnya. Secara kelembagaan partai itu masih bersih. Karena belum pernah berbuat sesuatu. Namun bagaimana parpol bisa meraih kepercayaan masyarakat tinggal bagaimana menjual mimpi dan gagasannya ke masyarakat.‎

Sementara Golkar yang lahir cukup lama , plus minusnya sudah diketahui masyarakat. Tinggal Golkar me-review ke depan. Tinggal bagaimana mengajak masyarakat untuk bergabung dengan Golkar. Selain itu, golkar mendelegasikan kader dan anggota untuk berkarya. Berkarya di eksekutif maupun di legislatif.
“Terlepas plus minus Partai Golkar, kita kembalikan ke masyarakat,” katanya. Dikatakannya, tahun 1999 hujatan ke Golkar sangat banyak. Kemudian ada perheletan politik lainnya yang dianggap berat.

‎Sementara itu Saukatuani, politisi dari DPD PKS, menuturkan, Pemilu 2019 harus dijadikan momentum para elite politik untuk beramal. Karenanya, lanjut dia, bagaimana PKS terus berupaya seoptimal mungkin untuk berkompetisi sehat, melakukan edukasi politik yang baik. Pemilu bagaimana melakukan teras politik yang baik. Karena, tidak ada politik, maka tidak akan ada kehidupan dinamis di negara ini. “Kita sudah menyiapkan para caleg petahana. Karena mereka memiliki pengalaman lebih banyak. PKS berupaya agar Pemilu 2019 sukses dengan baik. Karena kalau tidak maksimal menyukseskan pemilu yang baik dengan kerjasama parpol, ulama dan masyarakat. Termasuk peran media pengaruhnya sangat luar biasa menentukan kesuksesan pemilu,” katanya.

Menurut dia, PKS tahun 2014 pernah mengalami penurunan kursi di provinsi , termasuk penurunan kursi di kabupaten. Jika tahun kemarin perolehan PKS mencapai 8 persen, ke depan ditargetkan 12 persen. Pemilu ini harus dikawal bersama karena momentumnya bersamaan dengan Pilpres. Agenda pemilu ini rawan kecurangan-kecurangan seperti memainkan infrastruktur yang ada.
“Yang terpenting, dalam pemilu harus bekerjasama dengan aparatur pemerintah dan aparat keamanan. Bagainana pemilu ini berjalan aman, tentram dan sejahtera,” katanya.

‎Sekretaris Wilayah Banten Partai Berkarya, ‎Alfauzi Salam mengatakan, Partai Berkarya lahir tanggal 15 Juli 2016. Namun meksi baru Berkarya mampu lolos peserta Pemilu 2019. ‎
“Perjuangannya sangat berat, karena syaratnya harus memiliki sebaran pengurus di 34 provinsi. Termasuk keterwakilan perempuan 30 persen,” katanya. ‎”Kami mendambakan nomor urut 7, karena nomor 7 sangat bagus. Karena di alam ini juga menunjukkan ada 7 keajaiban dunia. Jadi sebaik-baiknya angka adalah angka 7,” katanya. ‎

Partai Berkarya mengemban visi menyejahterakan dan keadilan masyarakat Indonesia. “Jadi visi ini jangka panjang dan misinya mewujudkan kepemimpinan bersih, berwibawa untuk kesejahteraan masyarakat. Melalui program ekonomi kerakyatan,” katanya. ‎Dalam Pemilu 2019, Berkarya menargetkan setiap DPD meraih kursi 1. Target utamanya bisa mencapai ambang batas 4 persen.

‎Sementara itu, Azwar Anas, politisi Partai Demokrat, mengatakan, dalam menghadapi pemilu tahun ini, Demokrat mengajak anak muda dan masyarakat untuk bergabung dengan Demokrat. Selain itu melakukan konsolidasi politik mulai dari tingkat DPD, DPC, sampai tingkat ranting. “Kita memunculkan tokoh gagah, tokoh hebat, tokoh intelektual dan mantan militer, Agus Harimukti Yudhoyono (AHI). Dan secara masif kita menghadapi Pilkada mulai memanaskan mesin politik. Yang jelas, Pak SBY punya target raihan suara 15 persen skala nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Jaringan Relawan Rakyat Demokrasi untuk Pemilu, Eka Satia Laksmana menilai setiap parpol pasti punya target menguasai kekuasaan. Sehingga banyak caleg yang punya modal dia bisa masuk dalam pemilu. Tinggal bagaimana pemilu tersebut memberikan pembelajaran politik yang baik bersih dari kecurangan, korupsi dan lainnya. “Kehadiran parpol baru harus kerja dengan lompatan keras. Sementara parpol lama dimungkinkan masih bisa unggul karena punya konsep dan pengalaman politik,” ujarnya. (EM)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here