Senin, 23 Juli 2018

Perjuangan Jayabaya untuk Baju Lebaran

BAGI sebagian orang, khususnya anak-anak, perayaan Idulfitri atau lebaran identik dengan pakaian atau baju baru yang biasanya akan dipakai untuk Salat Ied dan sepanjang hari raya umat Islam itu.

Berbagai rayuan, rengekan atau bahkan “ancaman” tak jarang disampaikan sebagian anak pada kedua orangtuanya agar bisa mendapatkan baju baru untuk dipamerkan pada rekan sepermainannya pada hari yang fitri itu.

Soal baju lebaran itu, mantan Bupati Lebak dua periode H. Mulyadi Jayabaya berbagi pengalaman pahit pada acara penutupan sementara pengajian Al Ikhlas di Kampung Kaum, Desa Malingping Utara, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Selasa (1/5/2018).

Pada acara yang diisi kegiatan pemberian santunan kepada 2.500 orang anak yatim dan jompo, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Banten yang akrab disapa JB itu mengungkapkan kegetiran perjuangannya untuk sebuah baju lebaran.

”Apa yang diraih saya sekarang ini diperoleh bukan dengan berleha-leha atau tanpa kerja keras. Baheula hayang boga baju jeung lebaran geh eta ngilu kana mobil kalapa di atas muatan yang ditutup terpal (dulu hanya untuk baju lebaran saja harus bersusah payah numpang mobil angkutan kelapa duduk di atas terpal),” tuturnya.

Namanya ikut numpang mobil orang lain, lanjut JB, ia harus rela nunggu sopir dan kernet makan di restoran. Meski demikian, ia tetap bersabar karena dalam benaknya terpenting tiba di rumah uwanya.

”Dalam perjalanan ke jonggol, selain menumpang saya juga harus berjalan dan istirahat di masjid sambil menunaikan salat hingga akhirnya sampai di rumah uwa dan alhamdulillah diberi pakaian untuk lebaran yakni baju tetoron dan celana tetoron,” katanya.

Dikatakan JB, sepenggal cerita pengalaman pahit yang dialami dirinya sebelum menjadi apa-apa dan tidak memiliki apa-apa itu tidak menjadikannya tidak mau berbagi dan bersedekah khususnya kepada anak yatim.

”Alhamdulillah berkat kerja keras dan cara mendidik orangtua saya yang keras, kini saya menjadi pengusaha dan pernah menjadi bupati selama dua periode,” ujarnya.

Menurut JB, sejak dulu menjadi pengusaha lalu menjadi bupati dan kini kembali menjadi pengusaha dirinya akan selalu menyisihkan sebagian hartanya menyantuni anak yatim dan membantu warga kurang mampu.

”Saya berkeyakinan jika kita mau menyantuni anak yatim dan bersedekah Allah akan membalas apa yang telah kita berikan. Karena itu, saya mengimbau kepada pengusaha untuk terus meningkatkan kepeduliannya kepada anak yatim dan warga kurang mampu seperti halnya yang terus dilakukan oleh keluarga besar Ibu Hj. Encuk Sukmaliah dan Pak H. Jejen yang setiap tahun menyantuni anak yatim,” tuturnya. (Dini Hidayat)*


Sekilas Info

Jaring Investor dengan Aneka Potensi Wisata

RENCANA pembangunan jalan tol Serang-Panimbang dan reaktivasi jalur Kereta Api Rangkasbitung-Bayah-Labuan, serta realisasi pembangunan jalur …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *