Kamis, 21 Februari 2019

Peringatan Hari Batik: Menjaga Warisan Adiluhung, Mendongkrak Ekonomi Masyarakat

KEBANGGAAN dan kecintaan akan produk lokal merupakan kuci sukses sebuah negara atau daerah dalam mendorong dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat dalam berbagai bidang usaha yang digelutinya. Salah satu upaya nyata yang telah dilakukan Pemkab Lebak untuk membangkitkan perekonomian masyarakat adalah dengan meluncurkan produk batik khas Lebak yang secara resmi telah diperkenalkan pada masyarakat luas pada tahun 2015 lalu.

Untuk bisa mendapatkan motif batik khas Lebak tentunya bukanlah pekerjaan mudah. Namun setelah melalui proses yang sangat panjang, Lebak akhirnya berhasil meluncurkan 12 motif batik yang diberi nama khusus khas Lebak dengan berbagai keragamannya, mulai masyarakat adat Baduy dan Kaolotan, kekayaan alam baik tambang maupun wisata, serta industri rumahan.

Ke 12 motif khas Lebak dihasilkan dari kerja sama dengan Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta itu masing-masing diberi nama Motif Caruluk Saruntuy, Kahirupan Baduy, Leuit Sijimat, Seren Tahun, Gula Sakojor, Rangkasbitung, Angklung Buhun, Kalimaya, Sawarna, Pare Sapocong, serta Motif Sadulur, dan Lebak Bertauhid.
Ke 12 motif batik itu telah didaftarkan pada Direktorat Jenderal HKI Melalui Direktur Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak, Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI.

Untuk mengenalkan batik khas Lebak pada dunia luar, serta menumbuhkan nilai kecintaan pada produk lokal di tengah gempuran produk luar yang dengan mudah bisa didapatkan, tentunya dibutuhkan berbagai langkah dan upaya. Misalnya dengan menyertakan produk lokal itu pada berbagai ajang pameran, agar dapat diapresiasi oleh masyarakat luas.

Selain mengikutsertakan batik Lebak pada berbagai jenis pameran lokal dan regional Banten, Pemkab Lebak juga mengikutsertakan batik Lebak pada ajang pameran bergengsi seperti Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) ke-13 yang digelar di Summarecon Kelapa Gading Jakarta tahun 2017 lalu.

Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya mengaku senang dan bangga pada akhirnya Kabupaten Lebak memiliki Batik khas yang akan menjadi pakaian wajib ASN di Lebak pada hari-hari tertantu, dan diharapkan akan menjadi salah satu produk unggulan baru Kabupaten Lebak.

”Kita tentu bangga karena dengan adanya 12 motif batik khas Lebak itu, kita telah ikut memperkaya jenis keragaman batik yang telah diakui dunia sebagai warisan bangsa Indonesia. Saya juga berharap keberadaan batik Lebak ini dapat mendorong tumbuhnya usaha kreatif masyarakat,” ujar Bupati Iti, beberapa waktu lalu.

Bupati Iti Octavia Jayabaya menjelaskan, ke 12 motif batik yang memiliki corak, ornamen dan karakteristik sosial budaya masyarakat Lebak. ”Keseluruhan motif itu kita dapatkan setelah melalui tahapan identifikasi lapangan dengan mengamati, mempelajari dan mengeksplorasi kearifan lokal, kekayaan budaya, adat serta kondisi alam di Kabupaten Lebak,” tuturnya.

Ditambahkan, ke 12 motif batik khas Lebak itu memiliki nama khusus khas Lebak dengan berbagai keragamannya, mulai masyarakat adat Baduy dan Kaolotan, kekayaaan alam naik tambang maupun wisata, serta industri rumahan.

”Masing-masing nama memiliki corak dan filosofi tersendiri. Jenis motif Motif Caruluk Saruntuy misalnya, melambangkan kehidupan yang penuh kebersamaan (Sauyunan) meskipun berbeda-beda suku, budaya dan agama, namun tetap saling memberikan manfaat bagi sesama. Ke 11 motif lainnya adalah, Kahirupan Baduy, Leuit Sijimat, Seren Tahun, Gula Sakojor, Rangkasbitung, Angklung Buhun, Kalimaya, Sawarna, Pare Sapocong, serta Motif Sadulur, dan Lebak Bertauhid, yang melambangkan kekeluargaan, kebersahajaan dan kebersamaan,” tuturnya.

Batik Lebak yang dilucurkan pada HUT ke-187 Lebak tahun 2015 lalu, memiliki prospek yang sangat cerah mengingat adanya kebijakan pemerintah pusat yang mewajibkan ASN untuk memakai pakaian batik di hari-hari tertentu. Selain kewajiban penggunaan batik bagi ASN, kebijakan penggunaan batik bagi pelajar, merupakan peluang yang sangat bagus bagi pemasaran produk batik Lebak, terlebih Bupati telah mengeluarkan SK tentang kewajiban penggunaan salah satu motif batik Lebak bagi pelajar.

Peluang itu semakin terbuka menyusul keluarnya kebijakan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk mengembangkan program bantuan usaha untuk para pelaku koperasi dan UKM khususnya mereka yang menggunakan pewarna alam. (Dini Hidayat)*


Sekilas Info

Ribuan Guru Madrasah di Kabupaten Lebak Dapat Insentif

LEBAK, (KB).- Sebanyak 5.426 guru Madrasah Diniyah (MD) di Kabupaten Lebak akan mendapatkan dana insentif …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *