Periksa 30 Saksi, Polisi tidak Temukan Kekerasan terhadap Aurel

TANGERANG, (KB).- Setelah 13 hari kematian Aurellia Qurratuaini, Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Polres Tangsel mengungkap hasil penyelidikannya. Polisi menyebutkan, tidak menemukan bukti kekerasan dan penganiayaan terhadap Aurel.

“Kami tidak menemukan adanya bukti penindakan kekerasan atau penganiayaan,” kata Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan.

Selama 13 hari itu, ujar dia, pihaknya telah memeriksa 30 orang saksi, antara lain kedua orangtua Aurel, petugas yang memandikan jenazah, rekan sesama anggota paskibraka, pelatih dari TNI dan Purna-Paskibraka Indonesia, serta dokter yang menangani Aurel.

“Keterangan yang diberikan sama, bahwa tidak ada bekas kekerasan yang nampak di tubuh almarhum (Aurel),” ucapnya.

Ia menyebutkan, bahwa fakta itu berbeda dengan kabar yang beredar dipemberitaan selama ini. Sebelumnya diduga, kematian Aurel terkait dengan pola pelatihan yang sedang dilakukannya sebagai Capaska Tangsel.

Sementara, soal luka lebam pada bagian kepalan tangan Aurel, menurut dia, luka lebam tersebut, diduga karena pola pelatihan peningkatan kedisiplinan seperti lari dan push up dengan tangan mengepal. Menurut dia, yang dilakukan oleh pelatih bukanlah kekerasan.

“(Melainkan) tindakan dalam rangka meningkatkan disiplin dan ketahanan fisik yang dilakukan oleh PPI,” tuturnya.

Baca Juga : Capaska Aurel Meninggal, PPI Bantah Ada Kekerasan Fisik

Sementara, Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany secara lugas menyatakan permohonan maaf kepada orangtua Aurellia Quroatuaini. Ucapan tersebut, disampaikan di hadapan polisi dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Seto Mulyadi.

“Karena, saya dengan orangtua almarhumah sama-sama sebagai purna-paskibra,” katanya di hadapan awak media.

Ia berjanji akan melakukan evaluasi terhadap sistem pelatihan dan pembinaan terhadap para pelajar yang tergabung dalam calon pasukan pengibar bendera. Harapannya, agar kejadian tersebut, tidak terulang lagi ke depannya.

Ia juga meminta kepada awak media media massa untuk ikut bantu memotivasi 49 pelajar capaska yang masih berlatih dan kini sedang dikarantina. Mereka sedang berjuang untuk bisa mengibarkan dan menurunkan bendera pada Sabtu (17/8/2019) nanti.

“Saya mengerti betul suasana kebatinan dari anak-anak, karena pada intinya mereka memiliki kebanggaan menjadi anggota paskibraka dan saya sudah instruksikan kepada inspektorat untuk memeriksa Dispora,” ujarnya. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here