Perempuan dan Bulan Ramadhan

Oleh: Kholid Ma’mun

Menurut Ibnu Mandzur seorang ulama ahli bahasa Arab, menjelaskan bahwa Ramadhan berasal dari kata ar-ramadh yang artinya panas batu akibat sengatan matahari. Ada juga yang mengatakan, Ramadhan diambil dari akar kata ramidha yang berarti keringnya mulut orang yang berpuasa akibat haus dan dahaga.

Menurut pandangan bahasa di atas, Ramadhan tak lain simbol dari sengatan sinar matahari yang bisa “memengaruhi” dan “memanaskan” batu. Batu, sering pula menjadi simbol Al-Qur’an saat menyorot kerasnya hati seorang manusia. Hati yang tidak memiliki ruh petunjuk dan kepekaan terhadap orang lain, sering diumpamakan sebagai “hati batu”. Tidak punya sense dan kepekaan apa-apa, selain kaku dan membisu.

Sekalipun hati seseorang keras seperti batu, Ramadhan sanggup membuatnya panas dan terpengaruh. Seseorang yang berhati batu dan kurang peka terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya bisa berubah seketika jika ia mau menerima ajaran selama bulan Ramadhan.

Kekuatan hati yang tersentuh ajaran Ramadhan, bukan saja mampu mendorong dirinya, melainkan bisa menjadi daya dan kekuatan bagi orang lain. Keberkahan hati, adalah keberkahan seluruh tubuh, prilaku, dan seluruh kehidupan seseorang. Sebab jika hati baik, semuanya akan baik, sebaliknya apabila hati buruk maka segala sesuatunya menjadi buruk.

Peran Perempuan di Bulan Ramadhan

Perempuan/ istri adalah orang yang paling sibuk di bulan suci Ramadhan karena dialah yang menyiapkan makanan untuk saur dan berbuka puasa. Perempuan/ istri adalah orang yang membantu anak-anaknya menyiapkan kebutuhan rutinitas hariannya. Perempuan/ istri adalah orang yang mengurus rumah tangga baik di bulan Ramadhan ataupun di luar bulan Ramadhan. Perempuan/ istri adalah orang yang harus berpura-pura layaknya orang yang berpuasa walaupun pada hakekatnya ia sedang tidak berpuasa karena ada uzur syari’I (seperti haid, nifas), menahan lapar dan dahaga atas dasar menghormati orang yang sedang menunaikan ibadah puasa, itu semua ia lakukan karena ketaatan kepada Allah dan untuk menghormati/ menyenangkan suami, anak dan orang-orang di sekelilingnya.

Tidak salah jika di bulan yang penuh dengan kemuliaan ini, kembali kita agungkan kaum perempuan, sebagaimana apa yang telah Allah swt. Lakukan dan dituangkan penjelasannya dalam firman Al-Qur’an: “laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, (maka) Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. QS. Al Ahzab: 35

Pada ayat di atas Allah hendak menginformasikan kepada kita tentang kemuliaan perempuan. Laki-laki dan perempuan keduanya berhak mendapatkan balasan yang sama dari Allah terhadap apa yang mereka lakukan dan usahakan, tanpa ada pengurangan sedikitkpun, walaupun berbeda jenis kelamin. Yang patut menjadi bahan renungan kita adalah, mengapa pada bulan Ramadhan peran perempuan banyak dilupakan? Dan, mengapa laki-laki dengan enteng seakan terkesan menyerahkan semua pekerjaan kepada perempuan? Apakah tidak sebaiknya jika laki-laki juga membantu perempuan dalam menyiapkan segala sesuatunya pada bulan Ramadhan ini? Karena keduanya sama-sama mengerjakan puasa, sama- sama merasakan haus dan dahaga.

Tak bisa dipungkiri, bahwa Ramadhan adalah bulan kaum perempuan, bulan yang dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas perempuan dalam sisi kehidupan. Perempuan tidak hanya menyiapkan makan saur, dimana mereka adalah orang yang bangun paling awal diantara anggota keluarga yang lain. Alunan suara orang membaca Al-Qur’an setelah pelaksanaan shalat subuh-pun banyak yang terdengar dari perempuan, bahkan di rumah orang tua saya sejak dulu saya masih kecil sampai dengan sekarang setiap bulan Ramadhan tiba diadakan ngaji tadarusan ibu-ibu baik dipagi hari yang biasanya dimulai dari pukul 09.30 sampai menjelang dzuhur ataupun di malam hari selepas pelaksanaan shalat tarawih hingga tiga puluh sampai dengan enam puluh menit.

Peran Utama Perempuan

Begitu pentingnya peran perempuan dalam kehidupan kita, sehingga Rasulullah saw. Memberikan penegasan dalam sebuah hadis, “Yang terbaik diantara kamu adalah yang paling baik kepada perempuan.” HR. Ibnu Majah. Dari hadis tersebut bisa kita artikan bahwa seseorang belum dianggap menjadi hamba Allah yang baik jika selalu membebani beban-beban berat kepada perempuan. Walaupun sebenarnya ada batasan-batasan pekerjaan yang masing-masing ditanggung oleh laki-laki dan perempuan, namun ada baiknya di bulan Ramadhan kaum laki-laki pun ikut membantu perempuan dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh mereka, sehingga beban mereka menjadi berkurang.

Peran utama yang dimainkan perempuan itu mulai dari urusan mengatur rumah tangga hingga urusan negara, sehingga tidak berlebihan jika ada ungkapan yang masyhur “perempuan adalah tiang negara, bila perempuan itu baik maka negara akan kuat. Tetapi jika perempuan rusak, maka hancurlah negarat tersebut”. karena pada dasarnya seorang ibu adalah pendidik utama bagi anak-anaknya sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab “Al-um madrasah al-ula li auladiha, Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya”.

Perempuan yang biasa disebut dan diidentikkan dengan kelemahan dan ketidak berdayaan ternyata justru mampu menaklukkan benteng pertahanan yang kokoh. Termasuk, di balik kelemahan perempuan ternyata tidak menghalangi mereka untuk memberikan partisipasi yang luar biasa banyak, baik dalam berumah tangga maupun dalam kehidupan sosial- kemasyarakatan. Selamat dan terima kasih untuk para kaum perempuan. Wallahu alam bisshawab. (Penulis buku Celoteh Santri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here