Perempuan Berperan Penting Dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Perempuan dan anak seringkali menjadi korban dalam tragedi terorisme. Namun seiring waktu perempuan saat ini telah menjadi aktor dan pelaku terorisme. Seperti yang terjadi pada 13 Maret 2019 lalu, Sholimah, pelaku bom bunuh diri di Sibolga, memiliki puluhan kilogram bahan peledak jenis potasium.

Kemudian, 14 Mei 2018, Puji Kuswati mengajak dua putrinya yang masih berusia 9 dan 12 tahun sebagai pelaku bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya, dan 10 Desember 2016, Densus 88 Antiteror Mabes Polri menemukan sebuah bom panci berbobot 3 kg di dalam sebuah tas ransel hitam milik Dian Yulia Novi yang rencananya akan diledakkan di pos penjagaan Istana Kepresidenan.

Hal tersebut merupakan dampak radikalisme yang terpapar pada perempuan, dimana seorang ibu memaksa anaknya dengan doktrin-doktrin tertentu sehingga dapat menumbuhkembangkan radikalisme pada diri anak dan anggota keluarga lainnya.

“Ini menjadi sangat berbahaya jika terus dibiarkan sehingga perlu adanya pelibatan perempuan dalam upaya pencegahan penyebaran radikalisme dan terorisme di kalangan perempuan,” ujar Ketua Bidang Perempuan dan Anak, pada FKPT Banten, Eneng Purwanti dalam laporannya pada kegiatan diskusi publik Pelibatan dan Partisipasi Perempuan Menuju Indonesia Damai “Perempuan Pilar Bangsa” yang diselenggarakan FKPT Banten di Ponpes Al Marjan Mulabaru Cipanas Lebak, Sabtu (31/8/2019).

Ia mengatakan, peran perempuan dalam keluarga diharapkan jadi motor pendidikan keluarga, kunci penanaman karakter wawasan keagamaan serta mengakomodir permasalahan dalam keluarga. “Perempuan sebagai pilar bangsa sangatlah penting untuk memahami apa itu radikalisme dan terorisme. Karena kepada ibu-lah anggota keluarga seringkali berdialog banyak hal sehingga seorang ibu dapat mendeteksi lebih awal jika didapati anggota keluarganya terpapar paham radikal,” ujar Eneng.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Banten Brigjen. Pol. (Purn) Hj. Rumiah Kartoredjo mengatakan, bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk menumbuhkan kepedulian perempuan sebaga agen perdamaian dan sebagai pilar bangsa.

“Ini merupakan salah satu bentuk sosialisasi FKPT dalam upaya pencegahan penyebaran radikalisme dan terorisme di Provinsi Banten. Diharapkan kaum perempuan dapat melalukan deteksi dini terhadap anggota keluarga, demikian juga para pendidik di PAUD, SD dan SMP serta masyarakat dapat memahami berbagai upaya pencegahan penyebaran radikalisme dan terorisme,” ujar Rumiah.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al Marjan Mulabaru, Ustadz Saepudin, S. Pd dalam sambutannya menyampaikan bahwa FKPT Banten bersilaturahmi dan menggelar diskusi dengan harapan masyarakat Cipanas, Kabupaten Lebak dapat memahami dan mampu bersinergi untuk bersama-sama mencegah bahaya radikal terorisme terutama kepada kaum ibu-ibu.

“Kami berharap kaum perempuan berupaya dalam pencegahan penyebaran paham radikal dan terorisme karena peran perempuan sangat vital dalam keluarga. Selain itu, kontribusi masyarakat juga sangat besar dalam melakukan tindakan preventif dalam pencegahan radikalisme dan terorisme di lingkungan keluarganya. Semoga kegiatan ini membawa berkah untuk Indonesia yang kita cintai ini,” ujar Saepudin. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here