Perekat Kebangsaan Melalui Literasi

Oleh Hadi Susiono

Pasca Pilpres 2019, banyak dari kita berasumsi bahwa kondisi kebangsaan kita dalam kondisi normal. Akan tetapi tidak sedikit beranggapan bahwa kita masih mengalami krisis dalam berbangsa. Saling sindir, curiga bahkan lapor ke pihak berwajib menguatkan anggapan yang kedua. Fenomena terpecah belah sehingga terjadi konflik horizontal adalah tanda yang lain. Para pembesar berebut kata ‘benar’. Saya benar anda salah atau anda salah saya benar. Di lain sisi, masyarakat kita sedang terbuai oleh kebebasan yang kebablasan. Mereka cenderung mudah berkomentar dan menyalahkan pihak yang berseberangan. Mengamati apa saja tanpa memberikan hal solusional. Banyak dari mereka menjadi sok pintar tanpa melihat volume otak. Mereka lupa bahwa cuitan saling serang antar penyebar kebohongan dan kebencian dengan kata-kata tak etis bahkan cenderung tak beradab akan menumpulkan nalar penghormatan pada nilai kemanusiaan. Ironisnya lagi masyarakat masih terpolarisasi. Manakala dibiarkan maka akan terjadi gesekan bahkan perpecahan antar masyarakat. Solusinya?

Bijak Bertutur

Masyarakat paternalistik masih melekat di mana para pemimpin dijunjung tinggi sehingga tutur, tingkah dan pola laku dianut. Para pemimpin ini harus bijak dalam bertutur karena begitu meleset, salah bicara atau slip of the tongue dapat berimplikasi luas. Sedang, sebagai anggota masyarakat bijak bertutur merupakan sumbu terciptanya kondusivitas antar masyarakat. Saling hormat menghormati, saling asah, asih dan asuh. Masyarakat minoritas menghormati mayoritas sedangkan mayoritas menyanyangi minoritas adalah esensi terciptanya keharmonisan berbangsa.

Persoalan bertutur bijak juga sedang melanda dunia maya, dunia para netizen dan netter yang tersentral dalam berbagai layanan media sosial. Dunia ini seolah tak ada etika dalam berujar, mengumbar aib bahkan memfitnah seseorang dan menyinggung persoalan SARA. Bebas tanpa batas! Ucapan kedengkian, kebencian, arogansi, urakan, hingga kabar bohong (hoax) tersaji dengan cepat dan instan layaknya menu makan siang masyarakat Indonesia.  

Tidak sedikit apa yang dituturkan di media sosial juga berdampak pada tataran praksis di kehidupan nyata. Masih segarkah ingatan kita ketika media sosial seperti facebook atau sejenisnya digunakan oleh para pemuda ‘revolusioner’ di Negara seperti Tunisia dan Mesir pada pergolakan di kawasan Timur Tengan dengan Arab Spring nya? Saling saut cuitan yang berujung pergolakan masyarakat, mobilisasi massa, kerusuhan, hingga penjungkalan rezim yang berkuasa. Terlepas apakah berita yang di share itu benar atau hanya sekadar hoax belaka. Inilah bukti betapa dahsyatnya pengaruh cuitan di media sosial.

Kita adalah saksi hidup di mana ketidakelokan dalam bertutur di dunia media sosial di Indonesia cenderung membawa kegaduhan di wilayah negara kesatuan ini. Tengoklah pemberitaan di layar kaca berapa sering para pelaku kegaduhan wira wiri memprovokasi dan mencari dukungan kanan kiri. Sehingga, energi bangsa terkuras menangani masalah tersebut. Jadi bijak lah menggunakan jari-jari serta lisan ketika bertutur di dunia modern sekarang ini.

Literasi

Sejatinya literasi bukan hanya merupakan kualitas atau kemampuan melek aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Akan tetapi lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang dapat diartikan kemampuan mengenali dan memahami gagasan yang disampaikan secara visual berupa adegan, video dan gambar.

Dalam artian mikro tetang literasi, membaca. Membaca ilmu pengetahuan dan yang lainnya. Sering kali diujarkan bahwa membaca dapat membuka cakrawala pengetahuan. Kaya akan referensi aneka bacaan, pemfilteran dan screening materi yang kita baca di berbagai media utamanya media online adalah alternatif lain dimana kita sebagai pribadi dapat menjastifikasi apakah berita yang kita baca benar atau hanya kamuflase yang dibungkus dengan intelektualisme semu dengan tujuan membuat huru hara di dunia netizen. Jika kita tidak membentengi literasi ketika masuk dunia hutan belantara internet dimana banyak sekali informasi yang terpampang maka kita hanya menjadi bagian penambah masalah, trouble maker, bukan sebagai pemecah masalah, problem solver. Sebut saja ketika kita mendapatkan berita tentang sesuatu dari seorang ‘teman’, baik yang kita kenal maupun tidak tanpa melakukan tabayyun diri atau literatur dan langsung membagikan (share) ke teman lain pastikan lah berita itu akan bergulir menjadi viral dan menjadi lingkaran setan.

Persoalan yang mendasar dalam literasi ini adalah kemalasan dalam membaca. Pernahkan kita tanya sudah berapa buku yang kita baca pada minggu, bulan atau tahun ini? Atau pertanyaan ini yang sering kali muncul “Apa judul sinetron setelah ini ya? Atau Bagaimana kelanjutan Drakor (Drama Korea), Film India atau FTV siang yang ada? Untuk itu kita mesti menyebarkan ‘virus’ gemar membaca karena kita anggap bahwa budaya membaca adalah persoalan kolektif komunal yang menjadi tanggung jawab bersama. Kita dapat membumikan budaya membaca ini. Pertama; dengan gerakan gemar membaca. Gerakan ini harus dimulai diri kita terlebih dahulu. Tunjukkan pada teman sebaya, sepermainan, sekantor tentang pentingnya membaca. Sebarkan ‘virus baca’ ke mereka. Kedua; dengan membentuk komunitas membaca. Kedengarannya memang susah dan kemungkinan gagalnya lebih banyak. Tapi apa salahnya kita coba. Jika komunitas lain berdasarkan profesi, kegemaran, kesamaan visi mudah kita bentuk, kenapa tidak dengan komunitas gemar membaca? Ketiga; bersama-sama mendirikan rumah baca, taman bacaan, perpustakaan keliling, dan sejenisnya. Ini mungkin sudah dilakukan oleh banyak kalangan. Tetapi hasilnya? Perlu evaluasi dan kontrol yang jelas. Keempat; perubahan mindset pada anak didik kita, membaca lebih banyak daripada mendengar. Ini dilakukan dengan cara memberikan tugas membaca buku tertentu. Dan terakhir, kenalkan buku pada anak kita sedari dini mungkin. Ini dapat dilakukan misalnya mengajak dan membiasakan anak pergi ke toko buku dan perpustakaan umum yang ada.

Persoalan literasi ini memang menjadi masalah bangsa kita. Tebukti indeks baca kita masih kalah jauh dibanding negara semisal Thailand atau Malaysia. Kita harus belajar bagaimana cara menumbuhkan gerakan gemar membaca dari bangsa Jepang dimana bukan rahasia lagi masyarakat Jepang adalah masyarakat yang sangat gemar membaca, baik di toko buku, di bus, di kereta dan di tempat-tempat umum lainnya.

Pada akhirnya manakala masyarakat kita sudah terbiasa dengan budaya bertutur dengan kode etiknya, baik melalui media langsung, face to face, atau media tidak langsung dengan menggunakan media sosial dibarengi dengan matangnya literasi serta adanya niat baik untuk menjaga keharmonisan dan keutuhan berbangsa dan menjauhi hate speech maka perpecahan, konflik serta diintegrasi bangsa akan dapat ditangkal meski sekarang kita sedang menghadapi perang proxy– musuh tak nampak tapi dampaknya terasa dahsyat. Semua tergantung kita sebagai anak bangsa.***

Penulis, alumnus Pondok Pesantren Al-Khoirot dan Sabilillah, MA Nahdlatul Muslimin, Kudus-Malang, serta Universitas Diponegoro Semarang, berdomisili di Kudus dan bekerja di Lebak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here