Peredaran Beras Manipulasi, Disperindakop Kota Serang Belum Tindak Lanjuti

SERANG, (KB).- Dinas perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Serang belum menindaklanjuti peredaran beras manipulasi yang di produksi PT Indo Beras Unggul yang merupakan anak usaha dari PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA). Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop Kota Serang, Handriyan Mugin. ”Kami belum melakukan tindakan apa-apa karena belum ada perintah,” ujar Riyan kepada Kabar Banten, Senin (24/7/2017).

Dia mengatakan, Disperindakop Kota Serang pun tidak melakukan sidak terkait harga eceran tertinggi (HET) yang diperbincangkan di beberapa media. ”Kami hanya menunggu perintah, dan sampai saat ini belum ada perintah untuk pencabutan edaran ataupun sidak HET di ritel modern terkait beras manipulasi tersebut,” ucapnya.

Komisaris Utama Pabrik PT Tiga Pilar Sejahtera sekaligus mantan menteri Pertanian era Presiden SBY menyikapi informasi yang telah beredar luas tersebut. Dalam pesan singkatnya, ia mengatakan, varietas IR 64 itu merupakan varietas lama yang sudah digantikan dengan varietas yang lebih baru yaitu Ciherang kemudian diganti lagi dengan Inpari, jadi IR 64 itu sudah tidak banyak lagi. ”Selain itu, tidak ada yang namanya beras IR 64 yang disubsidi, ini sebuah kebohongan publik yang luar biasa. Yang ada adalah beras raskin, subsidi bukan pada berasnya tapi pada pembeliannya. Beras raskin tidak dijual bebas, hanya untuk konsumen miskin,” kata pria kelahiran Serang 1959 tersebut.

Dia menjelaskan, di dunia perdagangan beras dikenal namanya beras medium dan beras premium. SNI untuk kualitas beras pun ada, yang diproduksi TPS sudah sesuai SNI untuk kualitas ke atas. Selain itu, mengenai tuduhan di atas HET, dikatakannya tidak bijak. ”SK Menteri perdagangan (Mendag) mengenai HET beras baru ditandatangani dan berlaku 18 Juli 2017. Sementara itu 20 Juli 2017 sudah diterapkan ke PT IBU saja, tidak kepada yang lain dan tidak diberikan waktu untuk melakukan penyesuaian,” ucapnya.

Menurutnya, HET Rp 9.000 terlalu rendah karena harga rata-rata beras sudah di atas Rp 10.000. ”Perlu dievaluasi lagi. Selain itu, tetap harus dibedakan antara beras medium dan beras premium karena kualitasnya berbeda,” tuturnya. Dia menuturkan, terkait penyimpanan 3 juta ton beras atau membeli beras 3 juta ton beras adalah tidak benar karena kapasitas terpasang seluruh pabrik TPS hanya 800 ribu ton.  ”Beras Maknyus sampai di pasaran sekitar Rp 62.000 per 5 kg, jadi harga per kg di pasar adalah Rp 12.400. Jika diasumsikan toko ambil untuk 20 persen maka harga jual dari pabrik sekitar Rp 9.920/kg,” tuturnya. (H-49)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here