Perbaikan 10 Ruas Jalan Gagal Lelang

SERANG,(KB).- Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Serang saat ini sedang fokus melakukan tahapan lelang untuk pembangunan proyek 52 ruas jalan desa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10 ruas jalan gagal lelang dan telah dilakukan lelang ulang. “Saya tuh lagi tahap pelelangan, cuma masih terkendala karena ada yang gagal lelang ada yang lancar. Tadi ada 10 laporan yang harus di lelang ulang, tapi langsung, karena kan ngejar target,” ujar Kepala Seksi Perencanaan Teknis Jalan dan Jembatan DPUPR Kabupaten Serang Yadi Priyadi kepada Kabar Banten di ruangannya, Selasa (5/9/2017).

Yadi menuturkan, pihaknya selalu mendapatkan laporan terkait kondisi terkini dari proses lelang pengerjaan proyek ruas jalan desa tersebut. Untuk 10 ruas jalan yang mengalami gagal lelang tersebut, semuanya langsung di lakukan lelang ulang. Untuk tahun ini, ada 52 ruas jalan desa yang akan dikerjakan. Jumlah tersebut didasarkan dari adanya pengajuan melalui proposal yang kemudian dilakukan seleksi dengan berbagai kriteria. “Supaya cepat kita dapatkan pemenangnya. Karena kan disini itu jalan desa ada 52 ruas jalan (Dalam proses lelang),” katanya.

Dia mengatakan, ada banyak factor yang menyebabkan terjadinya gagal lelang pada ruas jalan tersebut. Seperti sedikitnya perusahaan yang mengajukan dan juga tidak lengkapnya administrasi perusahaan dalam pengajuan untuk tender tersebut. “Jadi enggak ada pilihan lagi. Di lelang ulang kembali makanya, jadi ada beberapa laporannya,” ucapnya.

Dia menargetkan proses pengerjaan 52 ruas jalan desa tersebut bisa diselesaikan sampai akhir tahun 2017 ini. Pihaknya pun meyakini pengerjaan ruas jalan desa tidak akan memakan banyak waktu, sebab ruas jalan desa panjangnya pun di bawah 1 kilometer.  “Jangan lewat dari tahun ini, jalan desa itu kan jaraknya juga enggak panjang di bawah 1 kilo semua, paling 700, 800 meter. jadi bisa cepat kalau itu, dalam waktu 1-2 bulan juga selesai,” tuturnya.

Untuk fisiknya, ruas jalan tersebut akan dibangun dengan menggunakan betonisasi. Sistem itu dipilih lantaran pertimbangan kekuatannya dibandingkan dengan hotmix yang rentan dengan genangan air. “Kami bukan enggak mau hotmix kita juga sekarang pengen pembangunan ini terasa. Jadi terbangun lama, karna nanti factor air atau apa, kalau hotmix kan kalah sama air, sehingga kita supaya awet di beton,” katanya. (H-48)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here