Perahu Eretan, Moda Transportasi Warga Astana

Perahu eretan yang biasa digunakan warga Kampung Astana Desa Purwodadi, Kecamatan Lebak Wangi untuk menyeberangi aliran Sungai Ciujung menuju Kampung Astana, Desa Walikukun, Kecamatan Carenang sempat mengalami kecelakaan pada Sabtu (2/9/2017). Tidak ada korban jiwa pada peristiwa itu, namun empat buah sepeda motor dan pemiliknya sempat tercebur ke aliran sungai yang sudah mulai mendangkal tersebut.

Pengelola perahu eretan Salam mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu sore sekitar pukul 17.30. Pada saat itu penumpang perahu eretan hendak menyeberang dari Lebak Wangi ke Carenang. Namun karena penumpangnya tersebut baru pertama kali, sehingga dia grogi dan membuat kondisi perahu yang terbuat dari kayu itu goyang dan terceburlah para penumpang di kapal tersebut. “Karena baru pertama makanya grogi dan goyang perahunya,” ujar Salam kepada Kabar Banten saat ditemui di lokasi, Senin (4/9/2017).

Ia mengatakan, ada 4 orang yang menumpang di perahu tersebut. Keempat penumpang dan sepeda motornya pun turut tercebur saat perahu eretannya terbalik. Namun tidak ada korban jiwa, semua penumpang berhasil selamat. “Cuma sepeda motornya saja yang kemasukan air, jadi olinya harus diganti kemarin itu,” katanya.

Salam menuturkan, selama ini warga sekitar memang sudah biasa menggunakan moda transportasi perahu eretan untuk menyeberangi alirang Sungai Ciujung tersebut. Setiap hari selalu saja ada warga yang meminta untuk diseberangkan menggunakan perahu eretan tersebut. Perahu eretan itu mulai beroperasi sejak pagi sampai malam hari, namun semuanya bergantung ada tidaknya yang menyeberang. “Ada saja, dan enggak ditarif juga soalnya, jadi seikhlasnya, ada yang ngasih Rp 2.000 sekali nyeberang,” ucapnya.

Menurut dia, penggunaan perahu eretan sebenarnya aman-aman saja, asalkan penumpangnya tidak goyang dan membuat hilang keseimbangan. Perahu tersebut biasanya mampu membawa penumpang maksimal 4 orang dengan sepeda motornya. “Biasanya kalau jatuh itu pas sudah di pinggir karena goyang, kalau di tengah-tengah mah enggak pernah, itu karena goyang,” tuturnya.

Pengelola lainnya Maimun mengatakan, warga sekitar lebih memilih menggunakan perahu tersebut karena jarak ke jembatan penyeberangan cukup jauh. Saat ini, tidak jauh dari lokasi operasi perahu eretan sudah dibangun jembatan gantung. Namun untuk sementara masih belum digunakan untuk kendaraan, karena baru diresmikan. “Jembatan asa itu bantuan, diresmikannya tanggal 22 Agustus kemarin. Kalau buat motor masih ditutup,” ujarnya.

Ia mengatakan, walaupun nantinya jembatan gantung tersebut sudah beroperasi namun pihaknya meyakini perahu eretan tersebut masih diperlukan oleh warga sekitar. Sebab, jembatan tersebut terbatas dalam menyeberangkannya, maksimal 2 unit sepeda motor yang bisa menyeberang secara bersamaan. “Jadi masih diperlukan perahu eretan ini,” ucapnya.

Pantauan di lokasi, walaupun sudah sempat ada kabar penumpang yang tercebur, namun warga sekitar masih tetap menggunakan transportasi tersebut untuk menyeberang. Tidak ada rasa takut dari para penumpang tersebut, bahkan mereka terlihat biasa saja menyeberang dengan perahu kecil yang ditarik dengan tali tersebut. Tidak jauh dari lokasi penyeberangan, terpampang sebuah jembatan gantung yang cukup panjang. Namun di pintu masuk jembatan tersebut masih terdapat tali kawat yang terpasang, sehingga belum bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Hanya pejalan kaki yang bisa melintas di jembatan tersebut.(Dindin Hasanudin)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here