Penyintas Banjir Bingung Cari Tempat Tinggal

Tim dari Dompet Dhuafa bergerak atas motivasi kebutuhan darurat bagi para warga penyintas yang kehilangan harta benda dan rumahnya karena terseret banjir semakin kebingungan mencari tempat tinggal.*

HAMPIR dua pekan bencana banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak. Sejumlah penyintas yang kehilangan harta benda dan rumahnya karena terseret banjir semakin kebingungan mencari tempat tinggal. Mereka ingin kembali bisa melanjutkan hidup secara normal.

Pimpinan Dompet Dhuafa Cabang Banten Mokhlas Pidono mengisahkan, Sabtu (11/1/2020) lalu, di sela gerimis yang masih rajin menyiram wilayah Kabupaten Lebak dirinya bertemu dengan sosok seorang ibu yang sedang tergopoh sambil teriak memanggil anaknya yang mungil berusia sekitar 1,5 tahun yang sedang asyik bermain di tengah genangan air dan lumpur yang tersisa.

Dari percakapannya, diketahui ibu itu bernama Sani yang memiliki tiga orang anak dan sudah menghuni posko pengungsian Dompet Dhuafa sejak awal didirikan. Namun, posko yang berlokasi di Pondok Pesantren Darul Mustafa, Kampung Hamberang, Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak itu akan segera berakhir karena akan kembali digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) santri.

Sani memulai perbincangan dengan menceritakan kisah longsor dan banjir bandang yang menimpa kampungnya di Cigobang. Pada hari itu, sekitar pukul 05.30 pagi longsor mulai melanda kampungnya. Air hujan di selokan rumah yang biasanya jernih menjadi keruh kental, sementara suara kentongan bergema diiringi teriakan RT setempat yang meminta warganya untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan aman.

Kepanikan begitu terasa saat bumi yang dipijaknya bergoyang karena longsoran tanah. Bahkan, bukit yang berada persis di sekitar kampungya mengeluarkan suara berderak menjelang lonsor terjadi.

“Katanya berdebum seperti suara bom dalam film-film perang,” kata Mokhlas menceritakan kembali penuturan Ibu Sani.

Setelah itu, Sani tidak dapat melihat rumahnya kembali yang rata tertutup tanah dan sebagian rumah tetangganya yang hanya hancur dan tertimbun. Dengan kondisi itu, dipastikan dirinya bersama puluhan keluarga lain tidak dapat kembali ke kampung halaman yang membesarkannya.

“Dengan mata berkaca, ia bercerita, kebingungan kini melandanya. Usaha tidak, kerja juga tidak, suami mengungsi dan tak bisa mencari uang entah sampai kapan, sementara hidup harus terus berjalan,” ucap Mokhlas.

Butuh rumtara

Mokhlas mengungkapkan, data terakhir yang masih mengungsi di pos pengungsian Dompet Dhuafa sekitar 455 jiwa pengungsi dari 115 kepala keluarga. Jumlah itu terdiri atas 231 perempuan dan 224 laki-laki dengan anak-anak berjumlah 55 orang dan 58 balita.

“Tentu ini bukan jumlah yang sedikit. Mereka kehilangan rumah, kehilangan keluarga, kehilangan kesempatan sekolah dan keceriaan yang mestinya mereka dapatkan,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, ia pesimistis jika persoalan itu bisa segera diselesaikan oleh pemerintah, baik dari Pemkab Lebak ataupun Pemprov Banten. Hal itu berkaca pada penyelesaian penyintas tsunami Banten yang sampai saat ini pun tidak ada kejelasannya.

“115 KK ini tak mungkin kembali. Dalam benak saya mereka butuh rumah sementara (rumtara), sampai mereka bisa bangun rumah sendiri. Lokasinya silakan pemerintah pikirkan, yang punya tanah kan negara. Kami juga mengajak orang-orang baik nan dermawan, ayo wujudkan rumah sementara bagi mereka, karena inti dari pertanyaan Ibu Sani siang ini ke saya adalah, ke mana kami harus kembali?,” tuturnya. (Masykur)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here