Selasa, 25 September 2018
Komandan Peleton Satpol PP Provinsi Banten, Ahmad Basarudin (kiri) mencoba untuk berkomunikasi dengan sejumlah orang penderita gangguan jiwa yang terjaring razia disejumlah titik di Kota Serang, Selasa (20/2/2018).*

Penyerangan Ulama Meresahkan, Orang Gila Diburu

SERANG, (KB).- Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau orang gila di beberapa daerah di Banten diburu, melalui razia yang melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), TNI dan kepolisian. Razia orang gila tersebut menindaklanjuti isu terkait ODGJ yang berbuat anarkis hingga penyerangan terhadap ulama dan tokoh agama yang mulai meresahkan.

Berdasarkan pantauan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Banten melakukan razia ODGJ di pusat Kota. Untuk hari pertama, dilaksanakan di wilayah Kota Serang. “Rencananya kami melakukan razia di 4 titik di Kota Serang, namun baru sampai 3 titik saja,” kata Danton Satpol PP Provinsi Banten, Ahmad Basarudin kepada Kabar Banten, Selasa (20/2/2018).

Ia mengatakan, razia tersebut merupakan kegiatan gabungan dari Dinas sosial (Dinsos) Kota Serang, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang dan Satpol PP Kota Serang dan Provinsi Banten. “Kegiatan ini untuk menindaklanjuti perintah Gubernur Banten, Wahidin Halim terkait ODGJ yang berbuat anarkis,” kata Ahmad.

Ahmad menuturkan, adapun 3 titik yang telah disisirnya yaitu daerah Ciceri, SMAN 1 Kota Serang dan Alun-alun Kota Serang. Dari hasil penyisiran ODGJ tersebut, Satpol PP berhasil menertibkan 3 ODGJ. “Kami menurunkan 2 armada dan sejumlah personel,” ujarnya. Saat ini, pihaknya masih melakukan penyisiran di jalur kota saja. Untuk selanjutnya, pihaknya akan melanjutkan ke daerah-daerah juga.”Saat ini di jalur kota dulu, nanti akan dilanjutkan di daerah-daerah yang ada di semua wilayah,” ucap Ahmad.

Meresahkan masyarakat

Dia mengatakan, isu terkait ODGJ saat ini sudah meresahkan masyarakat. Rencananya untuk sementara Satpol PP akan menyerahkan ODGJ tersebut ke Dinsos Kota Serang. “Nanti mereka akan kami serahkan ke Dinsos Kota Serang untuk sementara ini, karena nanti kami akan melanjutkan kembali razia,” tuturnya. Ahmad menuturkan, razia gabungan akan dilaksanan kembali pada 22 Februari 2018 mendatang yaitu melibatkan Dinsos Kota Serang, Dinkes kota Serang dan Satpol PP Kota Serang. “Kami dari provinsi sifatnya hanya membackup, kemungkinan kami akan dilibatkan,” ujarnya.

Sementara itu, petugas gabungan dari Polsek Serang, Koramil dan Satpol PP Kota Serang mengamankan delapan orang yang mengindap gangguan jiwa, Senin (19/2/2018). Delapan orang gila tersebut diamankan sebagai tindak lanjut isu penyerangan terhadap ulama dan tokoh agama yang mulai meresahkan. “Bersama dengan TNI dan Pol PP melakukan operasi cipta kondisi. Terutama, dengan maraknya isu kekerasan terhadap tokoh agama yang dilakukan oleh yang diduga orang gila,” ujar Kapolsek Serang Kompol Irwanda kemarin.

Kapolsek mengatakan, kedelapan warga yang mengidap kelainan jiwa ini didapat dari sejumlah lokasi di sekitar wilayah hukum Polsek Serang Kota, di antaranya di Jalan Ahmad Yani, Pasar Induk Rawu, dan di Jalan Abdul Hadi. Setelah diamankan, hasil operasi selanjutnya diserahkan ke Dinas Sosial Kota Serang. “Sebelum kita serahkan ke Dinas Sosial, warga kelainan jiwa ini kita berikan pakaian bersih agar tidak terlihat kotor. Dari pemeriksaan juga tidak ditemukan adanya senjata tajam,” katanya.

Kapolres Serang Kota, AKBP Komarudin mengatakan, saat ini isu penyerangan ulama oleh orang penderita gangguan jiwa semakin marak, termasuk di wilayah Kota Serang. Bahkan, pada pekan kemarin beberapa orang gila menjadi korban dari kecurigaan masyarakat. “Karena itu, perlu ada solusi yang cepat supaya masyarakat tidak terpancing dengan isu menyesatkan ini. Saya tegaskan warga tidak boleh main hakim sendiri dan mengambil tindakan diluar batas terhadap orang gila sekalipun,” ucap Kapolres.

Kapolres menambahkan, pihaknya kini sedang menggiatkan operasi cipta kondisi dalam beberapa hari ke depan. Hal tersebut dilakukan menindaklanjuti di tengah maraknya isu orang gila yang menyerang ulama dan antek Partai Komunis Indonesia (PKI) yang meresahkan di Kota Serang. Ia meminta kepada masyarakat agar dapat memilah-milah informasi dengan cerdas dan tidak sembarangan menyebarkan informasi yang belum jelas valid atau tidaknya. “Jangan gunakan medsos untuk membuat kekacauan,” tuturnya.

Tersebar di 29 kecamatan

Di Kabupaten Serang, Satpol PP setempat merilis sebanyak 248 ODGJ yang tersebar tersebar di 29 kecamatan. Dari jumlah tersebut, Kecamatan Ciruas menjadi kantong terbesar dengan jumlah mencapai 134 orang. Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Dinas Satpol PP Kabupaten Serang, Hanafi mengatakan, ODGJ merupakan bagian dari aspek yang dapat menyebabkan rawan ketentraman dan ketertiban umum.

“Jadi ada 10 item yang dapat menyebabkan rawan trantibum itu, di antaranya PKL, warung remang-remang, sektor usaha, waralaba, peternakan, pergudangan dan ODGJ,” ujarnya kepada Kabar Banten di kantornya, Selasa (20/2/2018). Berdasarkan data tahun 2017, untuk wilayah Kabupaten Serang terdapat 248 orang dengan gangguan jiwa. Keberadaan mereka pun dinilai dapat memicu timbulnya keresahan. Dari jumlah tersebut, didominasi oleh wilayah Serang Timur, tepatnya di Kecamatan Ciruas sebanyak 134 orang.

“Kalaupun menurut kasi trantib kalau hanya di jalan ODGJ nya mungkin tidak sebesar itu angkanya, tapi ketika itu ada di rumah atau perkampungan. Kalaupun mereka tidak punya data base, bisa saja angkanya seperti itu,” katanya. Menurut dia, menguatnya kembali isu ODGJ tersebut dikarenakan persoalan yang telah berkembang menjadi isu nasional. Seperti diberitakan di beberapa wilayah ada kiai, pesantren, hingga gereja yang diserang oleh ODGJ. “Itu kan isunya menghangat kembali. Tapi tugas kami, ODGJ ini bagian yang dapat menimbulkan rawan trantibum,” tuturnya.

Berdasarkan hasil rapat lintas sektoral bersama Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan, rencananya akan dilakukan patroli bersama pada 22 Februari ini. Patroli atau pun dalam istilahnya mobiling akan dilakukan meliputi wilayah Kecamatan Ciruas, Kragilan, Kibin dan Cikande. “Kami cek di Serang Timur,” ucapnya. Pada patroli yang akan melibatkan unsur kepolisian dan TNI itu nantinya akan koordinasi dengan pihak puskesmas setempat. Dirinya berharap di Puskesmas itu ada data-data terkait ODGJ yang bisa dikrosschek. “Karena ada informasi yang sudah ditangani oleh puskesmas. Kemudian ada yang ditangani di rehabilitasi,” katanya. (TM/FI/DN)***


Sekilas Info

Wagub Banten Klaim Kekerasan Perempuan dan Anak Menurun

SERANG, (KB).- Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy, mengatakan, korban kekerasan perempuan dan anak di wilayah Provinsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *