Kamis, 24 Mei 2018
perda ramadhan kabupaten serang

Penolakan Perda Pariwisata Terus Bergulir, DPRD Diminta Jalankan Tupoksi

SERANG, (KB).- Penolakan terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pariwisata Kota Serang, yang merupakan program legislasi daerah (Prolegda), terus bergulir. Setelah mendatangi Wali Kota Serang, Tubagus Haerul Jaman, Selasa (17/10/2017), pihak Gerakan Pengawalan Serang Madani (GPSM) mendatangi Gedung DPRD Kota Serang, Kamis (19/10/2017).

Dalam kesempatan tersebut, pihak GPSM meminta DPRD menjalankan tugas sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi)-nya dalam mengawasi. Setelah mengawasi, segera memanggil eksekutif atau para penegak perda apabila terjadi keganjilan. “Jangan sampai ada kegaduhan dan jangan sampai generasi ini rusak akan hal-hal seperti itu. Kami berprinsip, bahwa teroris moral lebih kejam dari teror bom,” kata Wakil Ketua GPSM, Nasehudin.

Menurut dia, Raperda Kepariwisataan Kota Serang belum melalui uji publik, sehingga tidak memenuhi prinsip partisipatif dalam penyelenggaraan usaha kepariwisataan. Kegiatan usaha penyelenggaraan hiburan dan rekreasi di Kota Serang berpotensi menjadi kegiatan maksiat, seperti minuman beralkohol, permainan dan ketangkasan, serta panti pijat baik tradisional maupun modern.

“Bahkan, mereka (pengusaha hiburan) bisa berlindung di bawah undang-undang pariwisata. Makanya, kami menyatakan, tidak anti kepada pariwisata. Namun, di Indonesia ini mengadposi 3 hukum, yaitu hukum agama, adat, dan konstitusi. Jangan sampai dari hukum adat kearifan lokal tadi tidak sesuai dengan Kota Serang,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan, saat ini pihak GPSM sudah mengusulkan adanya wisata religi dengan menggaungkan Banten Lama dengan sejarahnya serta para wali-wali. Banyak poin-poin di dalam raperda tersebut yang multitafsir. “Seperti rumah bergoyang atau SPA. SPA ini kan masuknya ke dalam rumah kesehatan bukan pariwisata. Jadi, kan aneh dimasukkan ke dalam pariwisata. Berarti tempat urut ini akan dijadikan perlindungan hukum bagi mereka, bahwa ini adalah wisata. Tetapi, sebenarnya itu unsur penyakit masyarakat juga,” ucapnya.

Satpol PP melempem

Ia mengatakan, Satpol PP sebagai penegak perda terlihat melempem. Pihak Satpol PP beralasan, bahwa kehabisan amunisi dan masalah anggaran. “Dari ulama pokoknya meminta tidak bertentangan dengan 3 hukum tadi, seperti adanya minuman beralkohol itu masuk dalam kemaksiatan, dilihat dari hukum adat tidak ada nilai kearifan lokalnya serta dari hukum konstitusi jelas tidak berdasarkan dengan 4 pilar,” tuturnya.

Sementara itu, DPRD Kota Serang yang diwakilkan Ketua DPRD Kota Serang, Subadri Usuhuldin sepakat untuk menolak peraturan daerah (Perda) tentang usaha hiburan yang ada di Kota Serang sebagai salah satu tempat wisata. “Selain silaturahim, para alim ulama juga membahas perda terkait penyelenggaraan usaha kepariwisataan (PUK),” katanya.

Hasil musyawarah tersebut, ujar dia, sepakat untuk menolak terkait hiburan-hiburan yang berujung kemaksiatan di Kota Serang. “Kami sepakat terkait Raperda PUK ini pasal 68 dan pasal 47 mengacu ke pasal 21 itu tetap ada dan tidak dibuang atau di hapus,” ucapnya. Dalam pasal 47, dijelaskan terkait larangan terhadap hiburan yang berujung pada kemaksiatan. Artinya, terhitung semenjak diundangkan, bahwa hiburan yang berujung kemaksiatan di Kota Serang sudah tidak ada lagi atau dilarang. “Itu hasil draf perda yang sekarang,” tuturnya.

Sementara, pasal 68 menjelaskan, peralihan terhitung semenjak diundangkan selama 6 bulan, agar hiburan yang berujung kemaksiatan di Kota Serang sudah tidak ada lagi. Saat ini, raperda tersebut masih dalam tahap finalisasi di Provinsi Banten. “Awalnya, kami mengumpulkan seluruh stakeholder yang ada, perda-perda ini adalah perda lambat. Sudah hampir 2 tahun dan kami sepakat pansus akan berusaha untuk tidak ada lagi hiburan yang berujung kemaksiatan di Kota Serang. Sehari dua hari ini akan kami paripurnakan dan kami akan hadirkan alim ulama,” ucapnya. (TM)***


Sekilas Info

Aktivitas Nelayan di Bulan Ramadan, Menantang Dahaga di Lautan

Ramadan memang bulan yang didalamnya penuh berkah. Berbagai cara dilakukan masyarakat, khususnya umat muslim dari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *