Senin, 20 Agustus 2018

Peniliaian Pengamat, Calon Tunggal Berdampak Positif

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) 2018 di beberapa daerah, seperti Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang hanya diikuti satu pasangan calon kepala daerah. Kenyataan yang dianggap sebagai sebuah fenomena. Dengan demikian, ketiga pasangan bakal calon bupati/wakil bupati atau calon wali kota/wakil wali kota tersebut akan melawan kotak kosong.

Pengamat Politik, Erman Anom dari Universitas Esa Unggul menilai, bahwa pilkada melawan kotak kosong, memiliki sisi positif dalam menjaga keharmonisan demokrasi di Kabupaten Tangerang, khususnya pasca-pilkada. “Menurut hemat saya, pilkada melawan kotak kosong juga punya dampak positif dalam demokrasi. Karena, bisa menghindari munculnya ketidakharmonisan di tengah warga pendukung pasangan calon,” katanya.

Lebih jauh, Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul tersebut menuturkan, jika ada dua atau tiga pasangan calon di pilkada, maka dikhawatirkan akan memunculkan kecurigaan dalam hubungan di birokrasi pemerintahan. “Pilkada melawan kotak kosong ini merupakan hal yang sangat menarik, terlebih petahana melawan kotak kosong, ini bisa menjadi contoh untuk politik nasional ke depannya. Karena, dampak pilpres lalu juga masih bisa dirasakan sampai sekarang,” ucapnya.

Pandangan berbeda juga disampaikan oleh Pengamat Politik, Amran Arifin. Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang tersebut, bahkan menyarankan, agar pihak penyelenggara pilkada menyederhanakan proses pelaksanaan pilkada. Hal tersebut mengingat pasangan calon yang maju hanya satu pasangan atau calon tunggal.

Langkah tersebut bertujuan untuk menghemat dana atau menghindari mubazirnya anggaran pilkada yang telah disiapkan pemerintah daerah. “Karena, di Kabupaten Tangerang calonnya hanya satu atau pasangan atau calon tunggal, maka perlu kajian hukum dari pihak KPU Kabupaten Tangerang untuk menyederhanakan proses legalisasi calon, sehingga dapat menghemat dana kurang lebih Rp 100 miliaran,” tuturnya.

Menurut dia, dana pilkada yang besar tersebut, sebaiknya dikembalikan ke kas daerah dan digunakan untuk pembangunan Tangerang Gemilang. “Daripada memaksakan diri menggelar pilkada tanpa lawan, sebaiknya dana itu dialokasikan buat pembangunan, sehingga tidak terjadi pemborosan anggaran,” katanya.

Ia mengatakan, kampanye pasangan calon kepala daerah juga sebaiknya tak perlu dilakukan, mengingat peserta pilkada hanya satu paslon atau calon tunggal. Diketahui, dari 4 wilayah di Banten yang melaksanakan Pilkada Serentak 2018, kiranya ada 3 wilayah yang akan melawan kotak kosong, yaitu Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Lebak, sedagkan pilkada di Kota Serang memunculkan banyak pasangan calon. (Dewi Agustini)***


Sekilas Info

RJK 2018, Kulineran ala 90-an Bareng Veteran di TangCity Mall

TANGERANG, (KB).- Nostalgia jajanan kuliner ala 90-an, puluhan pedagang kaki lima berkumpul di halaman parkir …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *