Sabtu, 22 September 2018

Penggunaan Pestisida Dituding Penyebab Hilangnya Belut

PENGGUNAAN pupuk nonorganik dan pestisida secara terus-menerus pada lahan persawahan diduga menjadi penyebab menghilangnya biota belut sawah (Monopterus Albus) menghilang pada musim tanam padi di Kabupaten Lebak, dalam beberapa waktu belakangan ini. Secara ekologi, belut dapat dijadikan indikator pencemaran lingkungan karena hewan ini mudah beradaptasi. Lenyapnya belut menandakan kerusakan lingkungan yang sangat parah telah terjadi.

Salah seorang petani di Blok Cibungur Pasir, Rangkasbitung, Samian menyatakan, menghilangnya pada musim tanam padi diduga kuat akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan,
”Dugaan kami, pola bertani yang mengandalkan bahan kimia pembasmi hama membuat belut sawah sekarang menghilang. Kondisi itu jauh berbeda dengan era 1980-an dan 1990-an awal dimana belut bisa dengan mudah ditemui bahkan jadi perburuan warga,” ujar Sanian, Kamis (11/1/2018).

Menurutnya, pada era 1980-an, belut menjadi konsumsi andalan masyarakat sebagai bahan makanan lauk-pauk dan camilan. Populasi belut juga dijadikan sumber ekonomi petani karena hasil tangkapannya bisa dijual ke pasar.

”Banyaknya orang yang mencari belut menyebabkan harga belut cukup tinggi, yakni bisa mencapai Rp 50.000/kg. Mereka ingin memakan belut karena besarnya manfaat hewan ini, seperti sumber protein cukup tinggi. Namun, saat ini peredaran populasi belut semakin berkurang, bahkan menghilang. Saya sudah tidak pernah lagi menemukan belut di dalam pematang sawah maupun aliran irigasi,” ucapnya.

Menghilangnya populasi belut itu, ujarnya, diduga kuat karena penggunaan pestisida oleh petani yang semakin meningkat seiring serangan hama bertambah, terutama saat cuaca lembab akibat curah hujan tinggi. Cuaca lembab itu biasanya menjadi musim berkembang biaknya hama wereng batang cokelat (WBC). Hal itu mendorong petani menyemprotkan pestisida kimia untuk memberantas hama.

Selain itu, penggunaan pupuk anorganik untuk menyuburkan lahan ditengarai menjadi faktor menghilangnya belut sawah. Sebab, ekosistem belut menjadi rusak. “Kami berharap petani ke depan bisa menggunakan pupuk dan pestisida yang ramah lingkungan dengan menggunakan organik dari kotoran ternak maupun pepohonan,” katanya.

Pengakuan senada juga disampaikan Armadi (55), seorang petani Desa Sidomanik, Kabupaten Lebak. Ia mengatakan, kini sudah tidak menemukan lagi populasi belut sawah maupun jenis ikan sungai lain yang biasa masuk ke areal persawahan. Sebelumnya, kata dia, populasi belut dan ikan sungai, seperti betik, sepat, paray, lele, dan ranca melimpah. Namun, saat ini di areal persawahan tidak pernah lagi muncul biota belut dan ikan sungai itu.

Kemungkinan menghilangnya ikan sungai itu akibat perburuan menggunakan bahan kimia, seperti cangkaleng juga penggunaan aliran setrum (listrik). Warga masih berburu dengan cara itu sehingga banyak anak-anak ikan mati.

Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Distanbun Lebak, Rian Oktarianto mengatakan, menghilangnya populasi belut akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebih mengancam menghilangnya ekosistem populasi belut sawah. Selain itu, menghilangnya populasi belut sawah juga dipicu kondisi keasaman tanah yang jauh berkurang dampak pupuk kimia dan pestisida pembasmi hama.

Apalagi, saat ini lumpur sawah cenderung lebih basah dengan suhu tinggi yang tidak cocok dengan populasi habitat belut. “Kami berharap petani juga bisa menjaga ramah lingkungan dengan tidak mengandalkan terhadap pupuk dan pestisida yang menggunakan bahan kimia,” tuturnya. (Nana Djumhana)***


Sekilas Info

Ini Cara Bulog Lebak-Pandeglang Jaga Kekompakan Kerja

LEBAK, (KB).- Perum Badan urusan logistik Subdivisi Regional (Bulog Subdivre) Lebak-Pandeglang mengelar acara family gathering, berlokasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *