Penggembokan SMP Negeri 1 Mancak Sebabkan Siswa Trauma, Polres Cilegon Berikan Trauma Healing

SERANG, (KB).- Kepala SMP Negeri 1 Mancak Tata Witarsa menyebutkan adanya penggembokan yang dilakukan oleh ahli waris atas nama Aris Rusman telah membuat anak-anak didiknya trauma secara psikologis. Oleh karena itu, Polres Cilegon secara spontan memberikan trauma healing pada anak-anak didik.

“Dampak psikologis itu maksudnya, mereka sedang semangat hari pertama ingin masuk. Apalagi SMP ini dua kelas enggak ada yang dibuang. Dengan adanya penyegelan, yang sudah jadi kebanggaan mau masuk sekolah, tiba-tiba sekolahnya di gembok. Jadi mereka down,” ujar Kepala SMP Negeri 1 Mancak Tata Witarsa kepada Kabar Banten, Senin (15/7/2019).

Tata mengatakan, semua orang ingin aman dan nyaman sekolah di SMP Negeri 1 Mancak ini. Bahkan orang tua murid saja, kata dia, ada yang bertanya dengan kejadian tersebut. “Tadi ada orang tua yang tanya juga, saya bilang ada musibah tolong diberikan pengertian anaknya,. Karena menggangu, harusnya pukul 07.15 WIB mulai upacara, ini baru pukul 09.00 WIB,” katanya.

Baca Juga : SMP Negeri 1 Mancak disegel Lagi

Ia mengatakan, baru setahun memimpin SMP Negeri 1 Mancak. Namun demikian pada awal menjadi guru, ia sempat bertugas di sekolah tersebut. “Jadi saya tahu proses tanah ini,” ucapnya.

Seorang wali murid, Udin Sanudin mengaku kecewa dengan adanya penyegelan tersebut. Dirinya pun mengaku tidak tahu menahu alasan penyegelan itu dilakukan. “Setelah datang agak kecewa. Alhamdulillah sudah dibuka,” ujarnya.

Udin mengaku sudah pernah menyekolahkan dua anaknya di SMP Negeri 1 Mancak. Namun baru kali ini ia menyaksikan langsung sekolah anaknya disegel. “Ini anak ketiga yang baru masuk. Mudah-mudahan saling menyadari dan bisa dibereskan. Fokus orang tua agar anak belajar supaya apa yang dicita citakan tercapai,” ucapnya.

Kanit Binmas Polres Cilegon Iptu Kartika mengatakan, trauma healing yang dilakukan tersebut adalah aksi spontanitas. Karena ia melihat anak-anak yang sudah semangat berangkat dari rumah namun setibanya di sekolah tidak bisa masuk.

“Saya merasa terpanggil. Saya sebagai orang tua kasihan dan setiap hari melihat anak-anak ini sebagai generasi penerus kita, jadi saya terpanggil dan izin ke kepsek,” ujarnya.

Kartika mengatakan, pada kegiatan trauma healing ini, Ia bersama dua orang rekannya memberikan motivasi belajar. Agar anak-anak bisa semangat belajar. “Tidak usah pikirkan apa yang terjadi yang penting belajar,” katanya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here