Rabu, 17 Januari 2018

Penggabungan PTS Disesuaikan dengan Teknis

SERANG, (KB).- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berencana menggabungkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk meningkatkan mutu dan pelayanaan. Hingga 2017 tercatat sebanyak 3.128 kampus. Pemerintah menargetkan sebanyak 1.000 PTS akan ditutup atau digabungkan hingga 2019.

Pengamat pendidikan Universitas Banten jaya, Sudaryono mengatakan penggabungan PTS perlu dilakukan agar PT bisa berkembang. Perguruan tinggi tidak cakap dalam pengelolaan manajemen secara tidak langsung kan berdampak kepada mahasiswa.

“Prinsipnya setuju. Tetapi harus ada peraturan atau dasar hukum yang jelas. Masyarakat semakin peduli dengan pendidikan. Sebab mahasiwa kurang dari 1.000 perlu adanya merger. Dengan proses itu secara tidak langsung perlu proses dan teknis lainnya yang harus dilaksanakan supaya biaya operasional terpenuhi untuk kesejahteraan dosen dan karyawaan,” katanya.

Ia mengatakan penggabungan PTS harus memenuhi ketentuan yang ada. Penggabungan PTS untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Kehadiran PTN dan PTS untuk mencetak lulusan-lulusan terbaik. Hal ini untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan mampu bersaing di pasar global.

“Mutu pendidikan tinggi harus ditingkatkan. Kami harus menciptakan lulusan yang terbaik. Selain itu merger kampus untuk mendorong kualitas PTS untuk maju dan berkembang. Sebetulnya banyak faktor yang membuat PTS harus merger seperti kurangnya pengelolaan perguruan tinggi dengan baik. Berkurangnya biaya operasional. Serta kurangnya mahasiswa dan dosen,” tuturnya

Sementara itu, Menristekdikti, Mohmad Nasir mengatakan proses penggabungan PTS menjadi 1 dari 4 gabungan PTS program prioritas 2018. Jumlah PTS yang terlalu banyak berpotensi merugikan masyrakat, karena mutu akademik dan pelayanan tidak memenuhi standar.

“Jumlah perguruan tinggi negeri (PTN) dan PTS sekitar 4.500 kampus dan ternyata ada banyak masalah di PTS yang kecil. Ada yang satu yayasan memiliki 2 PTS. Proses mager itu tidak mudah dan membutuhkan waktu untuk melakukannya,”ujarnya di kantor kemensitekdikti Senayan, Jakarta. (DE)***


Sekilas Info

Hanya 10% Siswa SMK ke Perguruan Tinggi

SERANG, (KB).- Jumlah siswa SMK (sekolah menengah kejuruan) yang melanjutkan ke perguruan tinggi (PT) diperkirakan hanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *