Pengembangan Ternak Kerbau Secara TSM

Samsu Hilal.*

Oleh : Samsu Hilal

Sejak 2016, sebagai praktisi peternak kerbau di Banten, penulis mendapatkan berbagai informasi mengenai permasalahan untuk mewujudkan peternak kerbau yang maju dan sejahtera. Permasalahan tersebut sudah lama mengendap yang menyebabkan munculnya beberapa sumber kesulitan yang belum terselesaikan.

Munculnya kesulitan-kesulitan tersebut menjadi faktor penghambat perkembangan industri peternakan kerbau, yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku/pegiat peternak tetapi secara sosial ekonomi di masyarakat.

Permasalahan kesulitan yang berdampak tersebut di antaranya kesulitan untuk memasarkan kerbau, opini masyarakat mengenai daging kerbau, dan dukungan pemerintah terhadap peternak kerbau secara terstruktur, sistematis dan masif belum terwujud serta minimnya teknologi peternakan untuk mengembangkan produktivitas kerbau.

Transaksi jual beli kerbau di pasar ternak masih menggunakan cara tradisional yakni dengan sebutan masyarakat yang disebut sistem jogrogan atau ditaksir/tebakan. Sehingga merupakan sistem jual beli yang belum standar atau tidak berdasarkan per kilogram harga daging kerbau hidup sebagaimana diterapkan pada sistem penjualan daging sapi.

Mengenai opini sebagian masyarakat khususnya perkotaan yang penduduknya heterogen beranggapan daging sapi lebih empuk atau lebih baik dari pada daging kerbau karena seratnya yang besar. Harga lebih mahal dari daging sapi, sehingga informasi ini berkembang dan menjadikan minat sebagian masyarakat terhadap daging kerbau bukan menjadi pilihan utama.

Namun jika ditelusuri di beberapa kota dan kabupaten seperti Cilegon, Serang, Pandeglang, Lebak mayoritas masyarakatnya adalah sebagai konsumen daging kerbau terutama di perdesaan. Sehingga mengonsumsi daging kerbau sudah menjadi kebutuhan utama selain menjadi unsur budaya bagi masyarakat Banten khususnya pada acara hari raya keagamaan dan acara ritual adat istiadat setempat.

Upaya serius dari pemerintah di tingkat pusat maupun daerah melalui regulasi kebijakan terhadap peternakan kerbau sangat diharapkan untuk menggali, mengembangkan, dan meningkatkan potensi ternak kerbau secara TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Massif) membangun sinergitas antara pemerintah, pelaku peternak, akademisi dan asosiasi/ himpunan/ lembaga peternakan swasta berbadan hukum sebagai fungsi kemitraan. Serta peningkatan kualitas sumber daya peternak kerbau melalui penerapan teknologi peternakan baik secara Breeding (budi daya) maupun Fattening (Penggemukan).

Fungsi kontrol secara TSM dilakukan oleh masing-masing pihak secara bersama-sama untuk mendorong perkembangan industri peternakan kerbau dari hulu sampai hilir sehingga mampu mewujudkan harapan bagi produsen maupun konsumen skala regional maupun nasional.

Menurut penulis, terminologi TSM tidak hanya digunakan pada isu politik saja, tetapi dapat juga diterapkan dalam upaya membangun dan mengembangkan sektor peternakan kerbau di Indonesia khususnya di Banten dalam rangka menjaga ketahanan pangan. Bagi Pemerintah Provinsi Banten, salah satu upaya alternatif untuk memajukan dan mengembangkan peternakan kerbau yakni dengan pendekatan TSM karena hal ini menyangkut produksi daging kerbau.

Upaya memenuhi kebutuhan konsumen mayoritas masyarakat Banten, kesejahteraan para peternak kerbau serta menjaga kelestarian nilai-nilai budaya tentang kearifan lokal di Banten dengan menyuguhkan menu daging kerbau sebagai sajian makanan adat yang selanjutnya bisa dikembangkan pada konsep wisata kuliner khas Banten. Maka situlah praktisi peternak kerbau, akademisi, institusi pemerintah dan asosiasi harus hadir yang tidak hanya berskala regional tetapi skala nasional sehingga kebergantungan terhadap produk daging kerbau impor bisa menurun.

Pendekatan TSM

Upaya mendorong sektor peternakan kerbau melalui pendekatan TSM. Terstruktur, maksudnya pemerintah daerah harus menggerakkan semua potensi peternakan kerbau. Baik budidaya maupun penggemukan pada pegiat peternak secara berjenjang dari pusat pemerintahan Banten sampai ke tingkat desa. Hal itu memberikan pelayanan yang terbaik untuk kesejahteraan dan kemajuan peternak rakyat begitu pula dapat dikembangkan sampai pada skala nasional dari pemerintah pusat sampai tingkat daerah.

Jika Pemerintah Provinsi Banten sering bernegosiasi dengan pemerintah pusat untuk mendukung program peternakan kerbau baik sarana dan prasarana untuk menopang ketahanan pangan nasional sehingga mampu menjadikan Banten sebagai pusat peternakan kerbau nasional. Banten membutuhkan investasi pemerintah dalam bentuk pembangunan areal pakan unggulan kerbau, kandang penggemukan kerbau, program breeding (budidaya) kerbau, pengembangan program inseminasi kerbau dan penerapan teknologi peternakan. Serta teknologi pengolahan limbah kerbau.

Oleh karena itu, tidak ada cara lain untuk mempercepat Banten menjadi pusat kerbau nasional melalui pendekatan terstruktur, membina dan memelihara hubungan yang efektif dan produktif dengan pemerintah secara timbal balik dan menguntungkan. Sistematis, maksudnya terkait upaya Pemerintah Provinsi Banten menyusun pengembangan sektor peternakan kerbau dari perencanaan program jangka pendek dan program jangka panjang.

Dalam program jangka pendek melalui pengembangan peternakan secara makro mengenai potensi populasi kerbau, pengembangan breeding kerbau, penambahan areal penanaman pakan unggulan, dan yang paling utama adalah program penggemukan kerbau (Sistem Penggemukan kerbau hak cipta penulis/praktisi terdaftar pada Surat Pencatatan Ciptaan Kemenkumham tahun 2016).

Adapun bagian dari rencana program jangka panjang, pemerintah Banten memiliki potensi yang antara lain wilayah komoditas kerbau baik populasi maupun peternak konvensional, membuat konsep strategi peningkatan produksi daging termasuk susu kerbau melalui penyuluhan intensifikasi usaha peternakan, mendorong efisiensi dan efektivitas usaha dalam meningkatkan daya saing produksi dengan memanfaatkan potensi domestik, keunggulan komperatif dan kompetitif.

Meningkatkan Keterampilan tata kelola peternakan kerbau, meningkatkan kesejahteraan para peternak kerbau melalui inovasi keterampilan teknologi dan pembinaan organisasi, serta menjaga potensi pasar domestik dari masuknya komoditi impor, dengan produk yang berdaya saing. Selain itu, bagian dari rencana jangka panjang termasuk pembangunan infrastruktur peternakan kerbau juga perlu diperhatikan respon kebutuhan pasar sehingga bisa menjamin kontinuitas komoditi daging kerbau setiap saat.

Masif, maksudnya terkait dengan semua program peternakan kerbau, tidak hanya program pemerintah tetapi peternak rakyat serempak mengikuti dan melaksanakan program tersebut secara kontinu. Mendorong dan memajukan usaha-usaha pengembangan peternakan dan industri serta pemasarannya untuk dapat mendirikan badan-badan usahanya sendiri, mendorong pelaksanaan pembibitan yang dilaksanakan oleh peternak rakyat, swasta dan perusahaan pemerintah (BUMN/BUMD) untuk menjaga dan menambah populasi ternak kerbau unggul, mendorong terlaksananya “swa sembada daging” yang berkelanjutan dengan dukungan data dan fakta yang akurat, mendorong pembentukan lembaga penyelamatan betina produktif.

Upaya masif lainnya adalah membentuk masyarakat peternak yang bertanggung jawab pada tujuan pembangunan nasional. Membangun peternak yang berpengetahuan dinamis dan kreatif menjadi peternak yang tangguh, mandiri dan berdaya saing. Membangun agribisnis peternakan kerbau menuju terbentuknya sistem usaha yang berkelanjutan serta menciptakan agar peternak kerbau mampu memegang peranan penting dalam sistem agribisnis peternakan.

Pemberdayaan Asosiasi/himpunan, akademisi, lembaga/dinas peternakan melakukan pengembangan inovasi teknologi produksi pakan serat termasuk pakan konsentrat dalam penyediaan pakan sepanjang tahun, pemberdayaan proyek-proyek percontohan yang bekerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Berusaha menciptakan inovasi teknologi bibit kerbau, pakan dan manajemen, menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi usaha peternak kerbau rakyat.

Harapan saya sebagai penulis dan praktisi kerbau bahwa ke depannya Banten memiliki pengalaman mengelola peternakan kerbau secara unggul melalui pendekatan TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Masif) dalam wadah Pusat Unggulan Kerbau Banten (PUKB) yang juga dapat diterapkan pada konteks nasional dengan mendorong peternakan kerbau sesuai harapan nawacita, membangun dan memperkuat ketahanan pangan dengan tujuan kesejahteraan dan kemakmuran secara merata. (Penulis, Dosen Fakultas Pertanian Untirta dan Praktisi Kerbau)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here