Jumat, 22 Februari 2019

Pengelolaan Sampah tak Hanya Tergantung Teknologi

SERANG, (KB).- Praktisi sampah asal Jepang Shiho Takehisa mengatakan dalam mengelola sampah tidak hanya bergantung ke teknologi. Secanggih apapun teknologi kalau tidak pas diterapkan hasilnya sia-sia saja.

“Teknologi memang bisa diterapkan dalam pengelolaan sampah. Tapi kalau terlalu canggih maka akan gagal. Itu terjadi pada 90-an punya. Ingenerator terlalu canggih tapi gagal. Kalau mau menyelesaikan sampah, bukan hanya teknologi. Tapi operasional harus pas. Menurut saya, harus ada kesadarannya. SDM paling penting. Menurut saya sistem bisa digunakan, didukung sosialisasi dan edukasi ke masyarakat,” kata Shiho yang menjadi konsultan pengelolaan sampah Nishira Co.Ltd ini, saat menjadi narasumber utama pada diskusi terbatas ‘Obrolan Mang Fajar” dengan tema “Menata Kembali Pengelolaan Sampah di Kota Serang”, di kantor redaksi Kabar Banten, Selasa (22/1/2019).

Ia menuturkan dirinya sudah enam tahun bergelut di dunia sampah. Shiho menuturkan salah satu contoh pengelolaan sampah bisa berkaca ke Kota Kyosho Jepang. “Kyosho merupakan kota di bagian selatan Jepang. Pada 20 tahun yang lalu merupakan kota terjelek di Jepang. Kota yang banyak industri, lautnya berwarna hitam dan langit tujuh warna. Namun sekarang menjadi kota terindah di Jepang,” kata Shiho yang pernah menempuh kuliah di Universitas Indonesia ini.

Ia menuturkan Kyosho menjadi kota terindah dengan konsep pendirian tempat pembuatan sampah (TPS) empat arah di pinggir kota dan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) di pusat kota. Shiho mengatakan Kyosho sekarang sudah menjadi kota dengan konsep “green sister city”.

Konsep tersebut, kata Shiho, kini akan diterapkan di Kota Surabaya. Menurut dia, proyek pengelolaan sampah di Surabaya diterapkan sejak 2013, yakni sebagai projek percontohan dalam upaya pemilahan sampah dan menjadikan sampah organik menjadi puuk.

Sampah di Surabaya saat ini volumenya 1.600 ton sehari. Padahal tahun 2012 masih 1.200 ton per hari. Sekarang hanya 1 TPSA, tapi disitu kontraknya 1000 ton sehari. Nah sisanya itu masih masalah. Sebanyak 600 ton itu diusulkan diolah di tengah kota. Sedangkan 80 persen organik diolah jadi pupuk. “Sekarang Pemkot Surabaya mau bekerjasama dengan Pupuk Indonesia,” katanya.

Ia menuturkan proyek paling baru, sudah berjalan 1 tahun yakni pengolahan limbah medis. “Baru setahun ini, Bu Risma (Wali Kota Surabaya) fokus dengan ini. Karena Surabaya belum punya pengelohaan, akhirnya menjalin kerjasama dengan swasta di Mojokerto. Sekarang Pemkot Surabaya ingin punya pengelohan sampah sendiri. Mereka sempat ke Kyosho untuk belajar. Desember 2018, kami tawarkan utk pengelolaan limbah mesisnya dengan menggandeng ITS Surabaya,” ucapnya. (SY)*


Sekilas Info

IPM Kota Serang Ditarget Naik 0,10 Persen Setiap Tahun

SERANG, (KB).- Indeks pembangunan manusia (IPM) Kota Serang ditargetkan terus mengalami kenaikan 0,10 persen setiap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *