Pengelola Wisata Diimbau tak Pasang Tarif Tinggi

PEMULIHAN sektor pariwisata Banten pasca-tsunami Selat Sunda masih menjadi tantangan. Butuh waktu dan tidak bisa dilakukan secara instan untuk kembali mendapat kepercayaan para wisatawan agar datang ke wisata pantai.

Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy mengimbau pengelola wisata di wilayah terdampak tsunami Selat Sunda tak memasang tinggi saat libur natal dan tahun baru (Nataru). Hal tersebut dilakukan untuk memberikan kepercayaan masyarakat, sehingga pemulihan wisata yang terdampak tsunami Selat Sunda bisa berangsur membaik.

“Yang wajar agar para wisatawan tidak kapok datang ke Provinsi Banten. Karena kita dalam step memulihkan ekonomi pariwisata di Banten yang terdampak tsunami,” kata Andika kepada wartawan.

Ia menuturkan, pemprov bersama pemerintah pusat sudah berupaya memulihkan wisata terdampak tsunami Selat Sunda. Caranya mengarahkan seluruh program Kementerian Pariwisata untuk dilaksanakan di wisata terdampak tsunami.

“Pariwisata di Banten juga salah yang tulang punggung pendapatan daerah, baik itu provinsi maupun kabupaten/kota. Kalau yang kena dampak tsunami kemarin kan Kabupaten Serang dan Pandeglang. Pemerintan provinsi dengan Kementerian Pariwisata sudah berusaha bagaimana program yang dilaksanakan di provinsi untuk dilaksanakan di wilayah yang terdampak tsunami, yaitu wilayah Anyer dan Tanjung Lesung,” ujarnya.

Penguatan dan pemulihan ekonomi pascatsunami tak bisa dilakukan secara instan. Perlu waktu memulihkan kepercayaan masyarakat untuk kembali datang ke wisata terdampak tsunami.

“Komitmen dari pemerintah baik pusat dengan, provinsi, dan kabupaten untuk bagaimana membangun kembali kepercayaan masyarakat untuk dapat mengembangkan kawasan terdampak tsunami,” tuturnya.

Menjelang natal dan tahun baru, pengelola hotel dan wisata harus memberikan pelayanan baik kepada masyarakat. Sehingga mereka nyaman dan tak kapok datang.

“Melayani masyarakat yang datang baik itu domestik atau asing dengan sebaik-baiknya guna menjaga kepercayaan untuk datang ke Banten, atau titik pariwisata di Banten,” katanya.

Kemudian, mereka perlu menjaga keamanan untuk menjamin keselamatan masyarakat yang datang. Tak kalah penting, tarif wisata dan hotel juga tak memasang tarif yang tinggi terutama pengelola di wilayah terdampak tsunami.

“Paling penting harus memberikan pelayanan sebaik- baiknya dengan tidak mematok harga yang tinggi,” tuturnya.

Ketua PHRI Banten Ahmad Sari Alam mengatakan, tingkat pesanan hotel di wisata terdampak tsunami sudah menunjukkan perkembangan. Hanya saja perkembangannya belum maksimal.

“Perlu bersama pemerintah daerah dan para pengusaha untuk maksimal promosi, ini sampai sekarang jalan di tempat. Untuk itu, kemungkinan naik pada tahun baru tetapi harga sama. Untuk hari biasa maksimal 20 persen dan hari libur rata-rata 50 persen,” katanya.

Jika dibandingkan dengan pesanan hotel jelang tahun baru pada periode yang sama sebelum terjadi bencana tsunami, kondisi saat ini jauh berbeda.

“Sekarang bisa baik jika ada perhatian pemerintah daerah. Contoh Lombok sudah baik kunjungan wisata karena pemerintahnya mau membangun awal bencana sampai sekarang,” ucapnya.

Ia merasa kepedulian pemerintah terhadap pemulihan wisata pascatsunami masih belum maksimal. “Kita lihat tanggal 22 Desember 1 tahun bencana tsunami kita lihat selanjutnya, sangat sulit, karena rasa kepedulian pemerintah daerah kurang tanggap,” ujarnya. (Sutisna)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here