Pengawasan Limbah Udara PT CG Lemah

LEBAK, (KB).- Pemkab Lebak dan Pemprov Banten dinilai lemah terhadap pengawasan limbah udara di pabrik semen PT Cemindo Gemilang (CG) Bayah. Sebab, meski banyak dikeluhkan, pemerintah tidak melakukan tindakan atas pencemaran udara yang berasal dari Terminal khusus (Tersus).

Salah seorang warga Hengki mengatakan, asap yang sering dikeluhkan warga Bayah sudah terang benderang berasal dari Tersus PT Cemindo Gemilang. Antara warga dengan perusahaan yang dianggap warga Bayah “sakti” itu sudah dilakukan beberapa kali. Namun hasilnya hanya berupa kesepakatan yang diduga tidak diindahkan.

”Saya kira kalau pihak perusahaan ataupun Tersus mendengar dan patuh terhadap kesepakatan yang dibangun, seharusnya keluhan warga terjawab,” katanya.

Ia mengatakan, beberapa hari lalu, tepatnya Selasa (19/11/2019), warga Bayah kembali “berterik” hingga memelas kepada PT CG agar segera mengatasi asap dari Tersus seperti tak ubahnya hanya didengar dari telinga kanan keluar telinga kiri.

”Lantas kami harus mengadu kemana dan berbuat apa. Sampai saat ini asap dari Tersus tersebut sering menyelimuti sejumlah desa,” ujarnya.

Hampir senada dikatakan warga lainnya, Agus. Ia mengatakan, seharusnya Pemkab Lebak dan Pemprov Banten menjadi garda terdepan dalam persoalan itu agar tidak ada kesan bahwa pemerintah lebih berpihak dan membela perusahaan dibanding warganya.

”Saking sudah tidak tahan oleh asap, warga sampai memelas kepada perusahaan PT CG agar melakukan penanganan serius. Karena, mereka khawatir ini akan berdampak buruk bagi kesehatan,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, GM Pabrik Semen Merah Putih plant Bayah, Tan Min mengatakan, upaya untuk meminimalisasi dampak baik debu maupun asap yang terjadi beberapa hari kemarin telah dilakukan.

Asal debu dari sistem shift loader yang tidak maksimal dan sudah langsung diperbaiki. Ketika ditanya apakah setelah pertemuan ini pihak perusahaan menjamin tidak akan ada polusi debu, ia memastikan tidak akan terjadi. Namun, tidak bisa memastikan area dari Tersus Clear dari debu.

”Debu itu kan tidak bisa istilahnya total. Tidak ada, tapi maksudnya gak seperti kemarin ngebul gitu kan. Saya nunggu teknisinya dalam minggu-minggu ini dia datang. Kita lihat hasil pengecekannya gimana,” tuturnya.

Jika dalam evaluasi yang dilakukan tidak dilakukan perubahan alat. Maka, solusinya untuk mengatasi debu akan cepat. Tapi jika harus dilakukan penggantian perlu waktu enam bulan untuk solusinya.

”Tapi bukan berarti selama itu kita akan membiarkan. Kita akan berupaya semaksimal mungkin meminimalisasi debu,” katanya. (DH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here