Pengasuhan Salah, Bikin Anak Payah

Oleh : Yenie Wulandari, S.Sos, MA

Untuk para milenial, salah satu keluhan paling umum yang kita dengar mengenai mereka ialah sikap mereka yang cenderung ‘narsis’ dan adanya anggapan bahwa mereka dibesarkan oleh orangtua yang sangat protektif yang akhirnya menimbulkan masalah ketika mereka dewasa kelak.

Walaupun hal ini akhirnya menimbulkan perdebatan, terdapat satu hal yang menarik yaitu apakah yang sebenarnya dilakukan oleh orangtua yang terlalu protektif kepada anaknya dan apakah pengaruh yang ditimbulkan dari perlakuan tersebut?

Pola Asuh Keliru

Berjalan dari rasa tahu akan sebuah pengalaman masa lalu, beberapa orangtua terperangkap pada pola asuh yang keliru. Ada orangtua yang memiliki trauma di masa kecilnya yang mungkin tanpa disadari menjadi landasan formula untuk mendidik anaknya kelak. Semisal dahulu, kita pernah merasa di-bully habis-habisan dan kemudian tumbuh dengan memori akan hal itu. Akhirnya saat memiliki anak, rasa takut itu menjadi pola penjagaan untuk menghindari anak untuk melalui hal yang sama.

Ketika ada sebuah ketakutan akan bahaya dunia luar, bisa jadi seorang anak kemudian akhirnya dibentengi begitu rupa. Seorang ibu pernah berkata pada saya, “Duh, anak sekarang kasar-kasar, omongannya pun jorok, suka ngebully pula.” Anggapan ini pun diperparah dengan kenyataan dimasa lalu dimana ia pun mengalaminya. Lalu apa yang terjadi?

Ia memasukan anaknya di home schooling untuk menghindari interaksi anaknya pada hal-hal buruk tersebut. Akhirnya bagaimana pertumbuhan sang anak? Ya, memang benar anak tersebut tumbuh tanpa bully dihidupnya, namun ada suatu masa akhirnya sang anak harus keluar dari sistem pengajaran yang diterapkan orangtuanya. Bukan konsep home schooling yang salah disini, namun penjagaan yang berlebihan akhirnya melumpuhkan beberapa kemampuan yang mereka miliki.

Ia yang nantinya beranjak remaja akan menghadapi kenyataan yang mengejutkan ketika harus berinteraksi dengan remaja lain yang dikategorikan buruk oleh orangtuanya dahulu. Inilah hal yang akhirnya melemahkannya karena ia tidak tahu menjaga dirinya. Bisa jadi ia menjadi tidak sadar bagaimana proses pertemanan sehingga bingung menempatkan dirinya dalam pergaulan dunia luar.

Dampak Pengasuhan Overprotected

Semakin banyak penelitian menyatakan bahwa anak-anak dari orang tua yang terlalu protektif akhirnya menyebabkan anak-anak ini tidak mau mengambil risiko, kesulitan membuat keputusan, dan kurang memiliki bekal untuk menjadi sukses dalam hidup.

Seringkali, orang tua yang terlalu protektif percaya bahwa mereka melakukan hal terbaik untuk anak-anak mereka. Orang tua sering melindungi anak-anak mereka dari aspek-aspek “yang lebih keras,” “lebih sulit,” dan “kurang diinginkan” pada masa kanak-kanak. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders mencari tahu gejala kecemasan dan perilaku anak. Studi ini menunjukkan bahwa gaya pengasuhan seperti ini berdampak negatif pada perilaku dalam jangka panjang.

Orang tua yang terlalu protektif berpikir bahwa mereka melakukan kebaikan demi anak-anak mereka dengan menjaga mereka tetap aman tanpa menyadari bahwa gaya pengasuhan ini berdampak buruk pada anak-anak ini. Hal ini seperti ‘merampok’ keterampilan hidup yang mereka butuhkan untuk memiliki kepribadian yang sehat serta mengerti dalam menghadapi masalah kehidupan. .

Pengawasan yang terlalu berlebih juga dapat membuat anak-anak mereka tidak memiliki kehendak bebas dan mencegah mereka menjadi orang dewasa yang proaktif. Selain daripada itu anak-anak yang tidak diberi tanggung jawab, tidak diminta untuk perpartisipasi, dan tidak mandiri dapat menyebabkan mereka gagal berkembang dalam situasi tertentu.

Kreatif dalam melindungi anak

Melindungi anak memang wajar karena orangtua sudah dititipkan untuk dapat membesarkan anaknya sebaik-baiknya. Namun kreatiflah dalam melindungi anak. Melindungi berarti menjaga, merawat dan memelihara. Orangtua pun tidak boleh sampai kebablasan dalam melindungi anak yang menyebabkan mereka lupa untuk berdaya.

Cepat atau lambat, sikap bully, penolakan ataupun sakit hati akan mereka terima dalam hidup mereka, tugas orangtua adalah mempersiapkan respon yang tepat bagi seorang anak jika ia menghadapi hal tersebut. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Departemen Psikiatri di Universitas Stanford menemukan bahwa mengatasi stres kehidupan merupakan awal untuk memperluas wilayah otak yang akan membantu mengendalikan ketahanan mentalnya. Kekuatan mental tumbuh bukan dari buku yang diajarkan guru, namun dari segala emosi yang mereka dapatkan saat bergaul seumur hidup mereka.

Program GenRe yang diusung BKKBN mencoba membekali remaja untuk memiliki keterampilan hidup. Beberapa keterampilan hidup (life skills) tersebut harus dimiliki seorang anak sebagai bekal mereka menghadapi tantangan di masa depan. Keterampilan-keterampilan tersebut antara lain keterampilan fisik, keterampilan mental, keterampilan emosional, keterampilan spiritual, keterampilan kejuruan dan keterampilan menghadapi kesulitan.

Oleh sebab itu, dukunglah anak-anak untuk memperoleh keterampilan dalam hidupnya karena membangun karakter yang kuat dibutuhkan bagi kaum milenial ini agar dapat bertahan hidup diluar lindungan orangtuanya kelak. (Penulis adalah PNS di Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Anggota IPKB Banten, Ikatan Widyaiswara Indonesia, Persatuan Pelajar Indonesia Filipina)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here