Sabtu, 17 November 2018

Pengangguran di Provinsi Banten Capai 8,25 Persen

JAKARTA, (KB).- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka di Indonesia sebesar 5,43 persen pada Agustus 2018. Berdasarkan provinsi, pengangguran terbuka tertinggi berada di Provinsi Banten.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, pada Agustus 2018 tingkat pengangguran terbuka di Banten mencapai 8,25 persen. “Seperti diketahui, Banten itu provinsi yang memiliki banyak industri, jadi banyak menarik pendatang ke sana, sehingga tingkat pengangguran terbuka di Banten 8,25 persen,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, dilansir Okezone, Senin (5/11/2018).

Secara rinci, lima besar provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi adalah Banten sebesar 8,52 persen, Jawa Barat sebesar 8,17 persen, Maluku 7,27 persen, Kepulauan Riau 7,12 persen dan Sulawesi Utara 6,86 persen.”Adapun tingkat pengangguran terbuka yang paling rendah ada pada Provinsi Bali sebesar 1,37 persen,” ucapnya.

Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka menurut pendidikan tertinggi ada pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 11,24 persen. Kemudian disusul tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,95 persen, Diploma I/II/III sebesar 6,02 persen, Universitas sebesar 5,89 persen, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 4,80 persen, dan SD ke bawah sebesar 2,43 persen.

Pada bagian lain, BPS juga mencatat jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7 juta orang pada Agustus 2018. Posisi ini berkurang 40.000 orang dibandingkan Agustus 2017. “Tingkat pengangguran terbuka Agustus 2017 5,5% turun Agustus 2018 5,34 persen,” tuturnya.

Secara rinci dia menjabarkan, jumlah penduduk usia kerja di Indonesia mencapai 194,78 juta orang. Terdiri dari angkatan kerja sebesar 131,01 juta orang dan bukan angkatan kerja sebesar 63,77 juta orang. Pada angkatan kerja, sebanyak 124,01 juta penduduk Indonesia yang bekerja lalu sisanya menganggur.

Lebih lanjut, berdasarkan struktur lapangan pekerjaan utama, sektor pertanian mengalami penurunan. Hingga Agustus 2018, lapangan kerja sektor pertanian turun dari 29,68% menjadi 28,79 persen. “Itu suatu yang wajar karena kalau di ekonomi jumlah tenaga kerja pertanian semakin lama semakin berkurang yang sekarang ini masih beban berat untuk struktur ekonomi Indonesia,” katanya.

Angkatan kerja

Sementara itu, jumlah penduduk yang masuk angkatan kerja pada Agustus 2018 sebanyak 131,01 juta orang atau naik 2,95 juta orang dibandingkan Agustus 2017. Secara rinci, komponen pembentuk angkatan kerja yaitu 124,01 juta orang adalah penduduk bekerja dan 7 juta orang menganggur.

Dibandingkan setahun sebelumnya, jumlah penduduk bekerja pada Agustus 2018 bertambah 2,99 juta orang sedangkan pengangguran berkurang 40 ribu orang. BPS juga mencatat jumlah penduduk bukan angkatan kerja sebanyak 63,77 juta orang, di antaranya 39,65 juta orang mengurus rumah tangga dan 16,53 juta orang sekolah.
Sejalan dengan peningkatan jumlah angkatan kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Indonesia juga tercatat meningkat 0,59 persen poin pada Agustus 2018 (67,26 persen) dibanding setahun lalu.

“TPAK adalah rasio dari jumlah angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja,” ujar Suhariyanto.

Kenaikan TPAK memberikan indikasi adanya kenaikan potensi ekonomi dari sisi pasokan tenaga kerja. Terkait TPAK, Suhariyanto menyoroti masih ada kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Pada Agustus 2018, TPAK laki-laki sebesar 82,69 persen dan TPAK perempuan 51,88 persen.

“Jadi masih ada gap antara laki-laki dan perempuan. Namun ada progress TPAK perempuan Agustus 2017 (50,89 persen) ke Agustus 2018 (51,88 persen). Perempuan makin berkontribusi di dalam ekonomi Indonesia,” ucapnya.

Kemudian, BPS juga mencatat sebanyak 70,49 juta orang (56,84 persen) bekerja pada kegiatan informal. Selama setahun terakhir, pekerja informal turun sebesar 0,19 persen poin dibanding Agustus 2017.

Persentase tertinggi pada Agustus 2018 adalah pekerja penuh atau dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu sebesar 71,31 persen. Pekerja tidak penuh terbagi menjadi dua, yaitu pekerja paruh waktu (22,07 persen) dan pekerja setengah penganggur (6,62 persen). Sementara penduduk yang bekerja dengan jam kerja satu hingga tujuh jam memiliki persentase yang paling kecil, yaitu sebesar 2,14 persen. (SJ/Ant)*


Sekilas Info

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng RS Drajat Prawiranegara

SERANG, (KB).- Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Serang terus memperluas kemitraan dengan sejumlah rumah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *