Pengalaman di Kandang Ayam

Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA

Apakah sahabat sahabat sejatiku pernah mampir di RPH (Rumah Pemotongan Hewan) baik unggas, sapi, kerbau ataupun kambing dan menyaksikan aktivitas dan kegiatan yang dilakukan oleh para jagal. Wajah wajah sangar itu dengan sikap sadis dan tidak mengenal kompromi.

Di Kota Tangerang Selatan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) terutama di Komisi Fatwa dan Hukum berusaha untuk pro aktif turun dan bersilaturahim ke lokasi lokasi RPH sambil turut membantu untuk memperoleh lisensi “Sertifikat Label Halal” dari LP POM.

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh Komisi Fstwa dan Hukum dalam rangka mengupayakan agar RPH itu semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat sehingga daging daging yang ditawarkan ke pasar semakin diminati konsumen dan mendapatkan kepercayaan penuh dari agen agen pedagang daging di pasar tradisional atau pun pasar modern.

Yang menjadi sorotan utama dari kami Komisi Fatwa dan Hukum MUI, utamanya dari cara menyembelih, etika ketika akan dan sedang melakukan penyembelihan dan sanitasinya, tempat tempat pembuangan limbah nya
Ada pelajaran yang sangat berharga ketika pak ustadz Dzul Birri mampir di RPH tetangganya. Itulah pengakuan pak ustadz. Lebih lanjut beliau bercerita kepada saya, kata beliau:

Di depan mata saya ada beberapa ekor unggas (ayam) yang sudah dipotong, dan masih ada ratusan ekor unggas sedang berkumpul dan sedang antri menunggu giliran. Ada yang sedang bercanda, bergurau saling mematuk matuk ekor temannya.

Ada juga yang bercanda bertarung dengan teman temannya sesama ayam, tanpa menyadari bahwa dalam suasana senang bercanda, bercengkrama dan berkejaran dengan temannya sementara hanya dengan selisih beberapa menit bahkan detik, malaikat Izrail, petugas khusus pencabut nyawa sudah hadir dan bersiap siap memisahkan nyawa unggas unggas melalui tangan tangan jagal.

“Kita juga kelompok manusia sering melupakan kematian karena terbius oleh gemerlapnya dunia, keindahan pernak pernik dan aksesoris dunia, apakah dalam bentuk harta dan kebendaan, Kekuasaan, dan masalah Kesenangan kesenangan lainnya. Kadang kita asyik dengan pekerjaan, asyik dengan pasangan hidup, asyik dengan sanak keluarga, padahal malaikat pencabut nyawa sudah mengintai dalam masa waktu 24 jam sekurang kurangnya 5 kali berkunjung ke rumah kita.” begitu kenang pak ustadz Dzul Birri. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here