Pengadilan Tinggi Banten Vonis Mati Penyelundup Sabu

Pengadilan Tinggi (PT) Banten memvonis mati Muhammad Adam alias Adam (44) satu di antara delapan terpidana penyelundup sabu seberat 54 kg dan 40.894 butir ekstasi pada Mei 2016 lalu di daerah Merak, Kota Cilegon. Adam sendiri merupakan otak penyelundup narkotika jaringan Malaysia di Indonesia. “Vonisnya sudah kami terima beberapa waktu yang lalu. Isi putusannya menguatkan putusan di Pengadilan Negeri (PN) Serang (vonis mati),” ujar Panitera Muda (Panmud) Pidana PN Serang, Feri Ardiansya, Selasa (3/10/2017).

Tiga majelis hakim yang mengadili perkara Adam ialah Abdul Hamid Pattiradja sebagai ketua majelis bersama dua hakim anggota Agus Herjono dan Chrisno Rampalodji. Putusan banding tersebut telah ditembuskan kepada kedua belah pihak yakni Adam dan Kejari Cilegon. Menanggapi vonis tersebut, kedua belah pihak telah menyatakan sikap kasasi ke Mahkamah Agung (MA). “Berkasnya sudah dikirim tinggal menunggu putusan dari sana (MA),” kata Feri.

Kasus penyelundupan puluhan kilogram sabu dan puluhan ribu pil ekstasi ini ketika Adam menerima telepon dari seorang warga Malaysia bernama Acun, Jumat (29/4/2016) lalu. Acun meminta bantuan Adam mengatur pengantaran narkotika sampai di Jakarta. Permintaan itu disanggupi Muhammad Adam dengan syarat imbalan yang sesuai.

Satu ban serep berisi ekstasi akan dibawa oleh Romi Rinaldi menggunakan mobil Mitsubishi Pajero. Ahad (8/5/2016), Syahril dan Rika Fitri Yanti beristirahat di dalam mobil di areal SPBU dekat Pelabuhan Merak, Kota Cilegon. Saat itu, anggota BNN menyergap pasangan suami istri tersebut. Saat digeledah, ditemukan sabu-sabu seberat 10,5 kilogram di dalam ban serep. Syahril mendapat imbalan atau upah sebesar Rp 15 juta.

Sedangkan dua kendaraan yang ditumpangi Romi, Hasdavid dan Denny disergap saat turun dari kapal di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon. Karena kapal masih dalam kondisi ramai penumpang, ketiga terpidana seumur hidup tersebut beserta mobilnya dibawa menuju Area SPBU di daerah Pelabuhan Merak. Saat digeledah ditemukan tiga buah ban serep berisi sabu-sabu dan ribuan pil ekstasi.

Sementara Adam dan Ridwan berangkat menuju Jakarta menggunakan pesawat terbang. Keduanya menginap di sebuah hotel di Jakarta Barat. Setelah berada di Jakarta, sekitar pukul 04.00 hari Minggu tanggal 8 Mei 2016 Adam kemudian menelepon Syahrir menanyakan keberadaan mereka. Setelah tertangkap, Syahrir menghubungi Adam. Kepada Syahrir Muhammad Adam dan Ridwan mengaku tidur di Kamar 918 Hotel Novotel di Jakarta Barat. Mendapat informasi itu, petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap keduanya. Sementara, Hasrianto juga ditangkap saat berada di bandara Soekarno-Hatta (Soetta). (FI)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here