Selasa, 11 Desember 2018
Imadiklus Untirta saat sedang melakukan survei kepada masyarakat terkait revitalisasi Banten Lama. Penelitian tersebut dilakukan di Banten Lama karena menjadi salah satu daerah yang saat ini menjadi fokus pembangunan di Banten, Sabtu (10/11/2018).*

Penelitian di Kawasan Kesultanan Banten, Keinginan Masyarakat Belum Terpenuhi

SERANG, (KB).- Badan Pengurus Harian Ikatan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah se-Indonesia (BPH Imadiklus) melakukan penelitian sosial di kawasan Kesultanan Banten, di Kasemen, Kota Serang. Menurut Ketua BPH Imadiklus Untirta, Dedi Sofyan, program revitalisasi di kawasan tersebut belum sepenuhnya memenuhi keinginan masyarakat.

Dedi mengatakan, terdapat program yang dianggap baik oleh masyarakat, namun ternyata belum memenuhi apa yang diinginkan oleh mereka. Salah satunya terkait penataan atau revitalisasi Banten Lama. “Jadi secara data mereka setuju dengan program, namun tidak puas dengan eksekusinya,” kata Dedi kepada wartawan, Sabtu (10/11/2018).

Ia berharap dengan data awal yang ada tersebut dapat digunakan pemerintah daerah (pemda) yang sedang melakukan revitalisasi kawasan eks Kesultanan Banten. “Pemda juga dapat mempertimbangkan bagaimana menjaring aspirasi dan harapan dari masyarakat, agar program yang baik dapat dirasakan oleh masyarakat juga,” ujarnya.

Dedi menuturkan, penelitian tersebut dilakukan untuk melihat langsung respons masyarakat terkait adanya program pemerintah dalam melakukan penataan kawasan eks Kesultanan Banten.

“Dalam rangka memberikan pengetahuan terkait keprofesian dan melatih para calon anggota untuk dapat lebih merasakan kondisi yang terjadi di masyarakat. Pemateri yang dihadirkan berasal dari beberapa lembaga riset serta media yang dimaksudkan untuk dapat memberikan pengetahuan terkait mengidentifikasi bagaimana permasalahan serta kebutuhan masyarakat,” ucapnya.

Ia mengatakan, pihaknya melakukan survei langsung ke masyarakat terkait revitalisasi tersebut. Hasilnya masih banyak warga yang mengeluhkan terkait kemiskinan hingga persoalan ekonomi yang dirasakan. “Jadi masih banyak warga yang bingung ketika nanti berjualan, lebih kepada masalah ekonomi,” tutur Dedi.

Dia menjelaskan, lokasi pelatihan yang dilaksanakan di area eks Kesultanan Banten sendiri merupakan pilihan, karena berdasarkan data dan pengamatan. Selama ini, kata dia, di lokasi tersebut memiliki beberapa persoalan sosial, seperti kemiskinan, angka putus sekolah dan juga buta aksara. “Sebab itu kami ingin melihat dan meneliti secara sederhana, apa harapan dari masyarakat di area sekitar sini,” kata Dedi.

Sementara itu, peserta penelitian, Farida Mayang mengatakan, dalam survei yang mereka lakukan terdapat beberapa fakta-fakta menarik yang tergali. Salah satunya soal pengemis yang sudah terbiasa meminta-minta sebelum dilakukan revitalisasi. Selain itu, terkait penataan PKL.

“Ada permasalahan yang terungkap, yaitu para pedagang yang ada mengeluhkan lapak yang lebih kecil dari awalnya. Selain itu juga ada beberapa pedagang yang tidak dapat berjualan, bahkan hingga 6 bulan,” ucapnya. Namun dia berharap waktu pelaksanaan revitalisasi Banten Lama tidak mulur dan harus tepat waktu. Hal itu untuk meminimalisasi munculnya permasalahan yang lain.

“Sebab jika revitalisasi dapat segera dibangun, perekonomian masyarakat akan lebih baik dan diharapkan pemerintah pun dapat menjaring aspirasi masyarakat yang ada di wilayah sekitar, dimana Banten Lama menjadi sumber penghasilan bagi mereka sebelum dilakukan pembongkaran,” ujarnya.

Diketahui, Pemprov Banten akan mengalokasikan anggaran Rp 220 miliar secara bertahap selama tiga tahun untuk merevitalisasi Kawasan Banten Lama. Pemprov Banten melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) juga memprogramkan pengentasan kawasan kumuh di area tersebut. (TM)*


Sekilas Info

Penyertaan Modal Bank Banten Terancam Jadi Silpa

SERANG, (KB).- Penyertaan modal untuk PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Banten Tbk (Bank Banten) terancam menjadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *