Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Modern

Drs KH Sulaiman Effendi, M.Pd.I, Pimpinan Ponpes Manahijussadat, Cibadak Lebak Banten.*

Oleh

Drs KH Sulaiman Effendi, M.Pd.I
Pimpinan Ponpes Manahijussadat, Cibadak Lebak Banten

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang berupaya untuk merubah pola fikir, sikap dan tingkah laku peserta didik yang negatif menjadi positif. Perubahan tersebut dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari, sejauh mana seseorang (peserta didik) mengalami perubahan baik dalam berfikir ataupun dalam berprilaku positif dalam menghadapi problematika kehidupan, Kehadiran mereka ditengah tengah masyarakat dapat memberi konstribusi kebaikan terhadap lingkungan di manapun dia berada. Sehingga tidak hanya hidup tapi menghidupkan, bergerak dan menggerakan berjuang dan memperjuangkan.

DrKHAbdullah Syukri Zarkasyi, M.A mengutip pendapat Muhammad Athiyah Al-Ibrasyi dalam bukunya Pendidikan Islam menyatakan bahwa inti dari pada pendidikan adalah penanaman Akhlak Karimah yang bersumber pada Aqidah dan Tauhid yang benar pada diri peserta didik. Kemudian beliau menggambarkan bahwa apa yang dilihat, didengar dan dirasakan adalah pendidikan dan inilah yang disebut dengan pendidikan totalitas.

Eksistensi pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam menjadi solusi kebutuhan masyarakat khususnya orangtua dalam membina dan mendidik akhlak dan karakter anak-anaknya. Apalagi belakangan tantangan dan situasi lingkungan sosial sangat mengkhawatirkan sehingga bila tidak waspada dapat mendistorsi perilaku anak. Sehingga DrAan Hasanah, M.Ed., dalam bukunyaPendidikan Karakter mengungkapkan bahwa fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan diantaranya adalah, pertama, Fenomena kekerasan dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang umum. Kedua,rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru telah merubah kesegenap lapisan remaja baik daerah perkotaan maupun pedesaan. Ketiga, meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan sex bebas yang sudah sulit untuk dihindari dan masih banyak lagi fenomena dihadapi moral yang nyata terlihat setiap hari.

Dari fenomena yang ada seolah-olah lembaga pendidikan saat ini sudah tidak lagi bisa memenuhi harapan masyarakat karena tidak mampu menjawab problema yang muncul. Maka dari itu terkait pentingnya pendidikan karakter, penulis mencoba memaparkan pengalaman penulis dalam mengelola dan mengasuh pondok pesantren modern Manahijussadat Lebak Banten yang sudah berdiri selama 21 tahun.

Dalam tulisan ini penulis ingin menguraikan tentangbagaimana penerapan sistem pendidikan terpadu 24 jam di Pondok Pesantren Modern.Kedua, Bagaimana peran Kyai, guru dan santri senior dalam pelaksanaan dan pendidikan karakter. Ketiga, Bagaimana pola penanaman pendidikan karakter dipondok pesantren Modern.

Penerapan system pendidikan terpadu 24 jam di Pondok Pesantren

Pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Modern diselenggarakan dengan sistem pembelajaran yang modern (Direct method, Quantum Teaching, Life Skill Education Method, dan Broad-Base Education Method), dan senantiasa memperhatikan perkembangan dalam sistem pendidikan modern. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Modern berdasarkan teori dan praktek pembelajaran modern, terutama dalam pembelajaran bahasa asing dan teknologi.

Program intrakurikuler diberikan secara klasikal, dengan menggunakan sistem terpadu antara pesantren dan pemerintah (Kementerian Agama dan Diknas) dengan waktu belajar mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 12.15 dan masuk kembali pukul 14.15 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB.

Pendidikan yang diterapkan di pondok pesantren modern adalah pendidikan yang total yaitu pendidikan yang berikan kepada santri dari bangun tidur sampai dengan tidur lagi, dan peran pendidik pun mendidik para santri di 24 jam, pendidikan yang diberikan dipondok pesantren tidak hanya didalam kelas saja akan tetapi pendidikan juga mereka dapatkan di luar kelas dengan melalui pengawalan para pendidik baik dari Kyai atau pimpinan pondok, guru dan santri senior yang mengawal selama 24 jam.

Dengan banyaknya jumlah kegiatan dipondok dari bangun tidur sampai tidur lagi, akan mempengaruhi tingkat kecepatan perubahan pola fikir, sikap dan perilaku santri. Satu misal ketika terlibat dengan kegiatan, maka santri akan berfikir keras untuk membagi waktu dan tenaga sehingga bisa menyelesaikan banyak pekerjaan. Hal ini bila terus berlangsung lama, maka santri akan terbiasa berfikir banyak, sehingga memiliki kebiasaan dan kecepatan. Kuat berfikir akan melahirkan kuatnya bersikap. Inilah problema yang dihadapi generasi saat ini, mereka tidak dibiasakan berfikir banyak, dan siap untuk menghadapi berbagai macam tantangan.

Dengan sistem terpadu 24 jam santri akan dinamis dan akan menghasilkan perilaku yang dinamis pula. Hal ini biasa disaksikan bahwa santri yang terbiasa dengan tugas dan kegiatan yang banyak, maka gerak dan langkahnyapun terlihat cepat.

Peran Kiai, guru, dan santri senior dalam pelaksanaan pendidikan karakter

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama,kyai sebagai sentral figurnya, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.Kyai sebagai pimpinan pondok yang memimpin bukan hanya sekedar menggerakkan dan bukan sekedar manager.Serta bukan juga sebatas melaksanakan program pendidikan di Pondok Pesantren.Kyai bukan sekedar menjadi pimpinan administratif di Pondok, dan bukan sekedar pimpinan akademisi.Tapi Kyai memimpin, mendidik, membela dan memperjuangkan Pondok Pesantren.

Taharrok fainna fil harokati barokah (bergeraklah maka sesungguhnya di dalam bergerak terdapatkeberkahan). Dari sinilah selalu bergerak dan menggerakkan, hidup dan menghidupi, berjuang dan memperjuangkan.Dengan gerakan-gerakan yang total, bukan hanya sekedar pelajaran.Sebagi kyai atau pimpinan pondok bisa mengambil inisiatif, bekerja keras, membuat jaringan kerja, memanfaatkan jaringan, bisa dipercaya dalam bidang keuangan dan pekerjaan. Begitulah cara Kyai atau Pimpinan Pondok membina dan mengendalikan Guru guru yang berkecimpung dialam pondok pesantren.

Fungsi dan peran kiyai adalah mengatur, menata dan menggerakkan hidup dan kehidupan yang total di Pondok Pesantren, akhirnya terbinalah watak, karakter, mental dari Pondok Pesantren. Tidak hanya Kyai atau Pimpinan Pondok saja akan tetapi Guru dan santri senior merupan salah satu faktor terbesar dalam membentuk karekter seorang anak atau santri, karena peran dan fungsi guru dan santri senior yang didapatkan dari hasil pengarahan, pelatihan, penugasan, pembiasaan, pengawalan, Uswah hasanah dan Pendekatan yang diberikan Kyai, itu semua akan menimbukalan loyalitas dan dedikasi untuk memberikan peran terhadap pembentukan karakter pada Santri.

Untuk membangun loyalitas, kreatifitas dan dedikasi santri /guru maka perlu diambil langkah-langklah sebagi berikut:pertama, dengan memberikan penugasan-penugasan. Kedua,selalu mengadakan cek dan ricek terhadap tugas yang telah diberikan. Ketiga, berusaha terjun langsung bersama mereka dalam rangka tut wuri handayani dan qudwah hasanah. Keempat.dengan banyak memberikan pengarahan pengarahan kepada mereka. Kelima, memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk berkembang.

Guru dan santri adalah patner yang baik dalam merealisasikan progran program pondok dan mereka ikut mewarnai milliu pondok. Maka diperlukan dari mereka loyalitas dan dedikasi yang tinggi.Untuk itu perlu diambil langkah langkah untuk membangun loyalitas guru dan santri.

Menanamkan kepada mereka bahwa tugas-tugas yang diberikan kepada mereka bukan sekedar kewajiban. Tetapi harus dihayati dan dimengerti bahwa itu merupakan sarana pendidikan bagi mereka, semakin mereka aktif bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, akan semakin mendapat banyak manfaat, wawasan, pengalaman dan ilmu, kematangan serta kedewasaan. Mereka adalah kader-kader ummat yang kelak akan terjun ke masyarakat dan bukan pesuruh ataupun pegawai. Karena itu tidak semestinya kalau mereka diperlakukan semena-mena..

Mengontrol dan mengecek terhadap tugas-tugas, merupakan sarana efektif untuk membina karakter mereka, sehingga kita dapat mengarahkan mereka, sehingga terjalin kamunikasi, konsultasi dan konsolidasi yang baik.Selain dari pada itu, terjun langsung dalam menangani berbagai masalah juga dapat membangun loyalitas.Seperti ketika menugaskan kepada santri untuk kerja bakti, kita ikut berbaur dengan mereka sehingga mereka merasa bahwa kita tidak sekedar memerintah tetapi ikut terjun langsung.

Yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menangani banyak hal, pemimpin yang tidak percaya dengan stafnya, sehingga segala sesuatu ditangani sendiri adalah egoistis, tidak akan berhasil mengkader dan hanya akan menumbuhkan kesenjangan antara dirinya dengan para pembantunya. Mengkader yang baik adalah dengan memberikan kesempatan kepada para kader untuk mengembangkan diri agar bisa berkembang dan berbuat serta berprestasi lebih baik dari kita.

Pola penanaman pendidikan karakter di Pondok Pesantren Modern

Pola penanaman pendidikan kareakter di Pondok Pesantren Modern memiliki berbagai macam pola antara lain sebagai berikut:

1. Pengarahan

Dalam penanaman pendidikan karakter, pemberian pengarahan terhadap santri sebelum melaksankan berbagai kegiatan adalah mutlak dan sangat penting. Dengan pengarahan santri akan diberikan pemahaman tentang seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan dan dievaluasi setelahnya untuk mengetahui standar kegiatan tersebut.
Karena pentingnya pengarahan ini, maka setiap tahun diadakan pekan perkenalan dengan penanaman kepondok modernan dalam kehidupan sehari hari. Pengenalan dan pemahaman ini tidak saja terbatas pada aspek akademisi, tetapi lebih luas lagi totalitas kehidupan di pondok.

Pengarahan pengarahan yang diberikan oleh Pimpinan, dilanjutkan oleh para guru dan pengurus Organisasi maupun pengurus asrama mengalir begitu cepat, sehingga proses tranformasi terhadap kepondok modernan sangat efektif. Maka pengarahan yang terpenting adalah pengarahan para instruktur yang akan mentranformasikan nilai dan filsafat hidup kepada seluruh santri di berbagai kegiatan. Namun demikian, pengarahan saja tidak cukup, diperluakan pelatihan pelatihan atau prektek prektek dilapangan.

2. Pelatihan

Seperti disebutan diatas, bahwa pengarahan saja tidak cukup, santri harus mendapatkan pelatihan pelatihan hidup sehingga mereka bisa trampil dalam bersikap dan mensikapi kehidupan ini, memiliki wawasan yang luas, baik wawasan keilmuan, pemikiran dan pengalaman. Dengan demikian, santri akan memiliki kepercayaan diri yang lebih sehingga ruang untuk berprestasi bisa lebih luas dan terus berkembang.

Berbagai macam pelatihan yang diselanggarakan oleh pondok, baik pelatihan keguruan, organisasi ditingkat asrama sampai tingkat pelajar, kursus atau club-club seni dan olah raga, sampai tingkatan pelatihan kepemimpinan, pelatihan pengorbanan, kesabaran, kesederhanan dan pelatihan hidup bersama.

Satu misal, pelatihan keguruan. Di pondok ini belumlah mencukupi proses kaderisasi kempemimpinan bila seorang santri hanya meneyelesaikan pendidikan di TMI (Tarbiyatu al Mu’alimin al Islamiyah) saja, dia masih harus melajutkan proses pengabdian menjadi guru baik pondok pesantren maupun di masyarakat. Sebagai guru, tentunya akan dituntut dirinya untuk menjadi seorang yang lebih baik, mulai dari pola fikir, sikap dan perilaku, karena mereka dijadikan contoh, sekaligus contoh dalam totalitas kehidupan.

Sebagai contoh lain, santri harus dilatih agar bisa hidup bermasyarakat dan berorganisasi, satu misal, dalam kehidupan asrama, santri harus mampu bersosialisasi dengan kawan kawannya yang berlainan suku bahkan berbeda karakter dan sifatnya. Disana proses adaptasi, simpati dan empati akan terus berlangsung selama mereka barada dipondok. Dengan pengarahan, peringatan, nasehat dan evaluasi, proses pelatihan ini akan berjalan dengan baik. Hal hal ini inilah yang mendorong santri pondok pesantren selalu beradaptasi di manapun berada.

Namum demikian, pengarahan dan pelatihan saja tidak cukup, santri harus diberi tugas, karena dengan tugas, santri akan terdidik, terkendali dan termotivasi. Dengan pelatihan mereka bisa trampil dalam bersikap dan mensikapi kehidupan ini, memiliki wawasan yang luas, baik wawasan pengetahuan, pengalaman, pemikiran, inilah karakter yang dibutuhkan di masyarakat.

3. Penugasan

Seperti diungkapkan sebelumnya penugasan merupakan sarana pendidikan yang sangat efektif.dengannya, santri akan terlatih, terkendali dan termotivasi. Maka pondok pesantren dengan sekian banyak ragam dan volume kegiatan yang tinggi akan memberikan peluang dan ruang yang cukup bagi seluruh santri dalam mengapresiasikan potensi dirinya. Dengan dinamika yang tinggi santri akan lebih bergairah dan bersemangat, hal ini Nampak terlihat dari pancaran wajah, sikap dan perilaku santri. Santri pondok pesantren dikenal dengan santri yang dinamis, karena memang tata kehidupan didalamnya memiliki dinamika yang sangat tinggi dengan kegiatan yang begitu banyak dan disiplin yang tinggi serta diberi muatan jiwa dan filsafat hidup yang tinggi pula.

Penugasan adalah proses penguatan dan pengembangan diri, maka siapa yang banyak mendapatkan tugas atau melibatkan diri untuk berperan dan menfungsikan dirinya dalam berbagai kegiatan dan tugas, maka dialah yang akan kuat dan trampil dalam menyelesaikan berbagai problema hidup.

Maka sungguh beruntung orang yang mendapatkan tugas-tugas dan mampu menyelesaikannya, karena dia berarti terhormat dan terpercaya. Itulah maka benar apa yang disampaikan Allah dan Rosulnya. Allah berfirman, “Barangsiapa yang berjihad (bersungguh sungguh ), maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar benar maha kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta Alam”. (Al-Ankabut :6)
Ruang dan waktu untuk berperan dan fungsi di pondok pesantren sangat luas dan lebar, tergantung kemauaan dan ketrampilan diri untuk lebih banyak bermanfaat.Hal ini snagat tergantung pada cita cita atau idealisme.Semakin tinggi cita citanya, maka semakin dinamis dan aktiflah dirinya.

4. Pembiasaan

Dalam proses pendidikan karakter, belumlah cukup dengan pengarahan, pelatihan dan penugasan. Maka pembiasaan merupakan unsur penting dalam pengembangan mental dan karakter santri. Pendidikan adalah pembiasaaan maka seluruh tata kehidupan di Pondok Pesantren seringkali diawali denga proses pemaksaan. Sebagaian besar santri sulit untuk bisa mengikuti disiplin pondok, seperti disiplin pergi kemasjid, mengapa harus diberikan absen sebelum berangkat kemasjid, apakah in tidak mengurangi jiwa keikhlasan? Ya pada awalnya akan tetapi santri lama kelamaan akan terbiasa.

Maka yang diperlukan adalah santri harus terus diarahkan, difahamkan bahwa disiplin ke masjid adalah disiplin agama yang dikuatkan oleh disiplin pondok.Bahwa pergi kemasjid adalah kewajiban yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah, dan pondok juga memeiliki tanggung jawab untuk mengajak, mengarahkan bahkan memaksa santri untuk kemasjid. Bukankan Rosulullahpun mengajarkan, bila seorang anak telah mencapai umur sepuluh tahun, dan dia belum juga mau sholat, maka pukulah dia. Maka inilah proses yang akan mengangtarkan santri menjadi terbiasa. Demikian juga seluruh disiplin yang diberlakukan di pondok.Dalam kaitan ini, tentunya pembiasaan sebagai hasil dari penugasan masih kurang, perlu ada proses yang lebih intensif lagi yaitu berupa pengawalan.

5. Pengawalan

Yang dimaksud dengan pengawalan adalah seluruh tugas dan kegiatan santri selalu mendapatkan bimbingan dan pendampingan, sehingga seluruh apa yang telah diprogramkan mendapat kontrol, evaluasi dan langsung bisa diketahui. Pengawalan ini sangat penting untuk mendidik dan memotivasi, tidak saja bagi santri, tetapi bagi pengurus, instruktur bahkan kyai juga ikut terdidik, seperti ungkapan, bahwa guru sebenarnya tidak saja mengajari muridnya, tetapi dia juga mengajari dirinya sendiri.

Dengan pengawalan yang ketat, rapi dan rapat, menjadikan seluruh menjadikan seluruh program dan tugas tugas akan berjalan dengan baik. Hal ini dimaksud juga untuk proses pengendalian santri dan guru dalam berdisiplin dan mutu pendidikan. Dari sinilah, seluruh guru akan terlibat langsung untuk memberi perhatian kepada seluruh santri, karena perhatian yang baik akan menjadikan santri lebih betah, asyik, dan menikmati kehidupannya di pondok. Pengawalan dan perhatian menjadikan proses belajar dan kehidupan santri lebih berhasil.

Dalam kaitan proses pembentukan akhlak, pengawalan tidak terbatas pada mutu kegiatan akademis aatau aspek kognitif saja, tetapi lebih dari itu, pengawalan yang dimaksud adalah mengawal mental dan moral santri. Bila terjadi pelanggaran, maka sedini mungkin akan bisa dideteksi atau diketahui sebab musabab pelanggaran dan secepat itu akan diantisipasi.

Maka bisa ditarik kesimpulan, bahwa pengawalan sangat menetukan keberhasilan tugas dan proses pendidikan. Namun demikian, pengarahan, pelatihan, penugasan, pembiasaan dan pengawalan yang baik, belum bisa menjamin keberhasilan dalam membentuk pola pendidikan karakter.Ia masih sangat ditentukan oleh sejauh mana tauladan atau uswah hasanah yang selalu diberikan oleh para kyai dan guru seluruhnya.

6. Uswah Hasanah

Uswah hasanah adalah upaya memberikan dan menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Dalam kaitan pendidikan, upaya ini menjadi sangat penting dalam keberhasilan pendidikan.Rosullah Muhammad SAW dan para sahabat berhasil membina umat, karena kemampuannya menjadi suri taudan bagi ummatnya. Maka proses pola penanaman pendidikan karakter yang dijalan oleh pondok pesantren sebenarnya proses uswah hasanah yang selalu dibrikan oleh para pendirinya, pemimpin, pengasuh dan guru, bahkan pengurus yang ada dipondok ini.

Sebagai misal, Kyai telah memberikan contoh yang sangat baik dalam hal perjuangan dan pengorbanan.Dirinya telah diwakafakan untuk kepentingan pendidikan ini bukti yang menguatkan dan mengkokohkan keberhasilan pondok ini.Jiwa-jiwa keikhlasan, ketulusan dan kejujuran telah menyelimuti atmosfir pondok, sehingga nuansa kedamaiaan sangat dirasakan oleh para penghuninya.

Demikian juga para guru selalu bekerja dengan keikhlasan, sehingga suasana batin tersebut bisa nyetrum kedalam jiwa para santri.Bahkan kyai telah banyak mengorbankan hak haknya untuk kepentingan dan maslahatan pondok ini.Sebagai misal, tidak diberlakukan gaji untuk setiap kegiatan, atau fasilitas pondok secara khusus.Para pimpinan mendapatkan sewajarnya saja. Dalam rumusan pondok ini, “Tidak dijamin kalau kyai kaya, pondoknya akan maju” artinya, Pimpinan lebih banyak berkorban untuk kemajuan pondoknya, karena bila pondoknya maju, maka kyai atau pimpinannya akan ikut maju.

Bila pondoknya berkembang, maka guru-gurupun akan berkembang, begitu juga bila pondoknya memiliki pengaruh dan wibawa, maka pimpinannya pun akan ikut memiliki pengaruh dan wibawa. Demikian juga dalam hal ibadah maupun berpakaian, Kyai dan guru tidak hanya menyuruh tapi dia harus tampil sebagai contoh yang baik sehingga dapat memberikan kesan yang positif dihati santri sepanjang hidup mereka.

Enam metode penanaman akhlak tersebut belum mencukupi bila tidak disertai dengan pendekatan-pendekatan. Ada tiga macam pendekatan, yaitu pertama, Pendekatan Manusiawi, Yaitu mendekatan secara fisik dengan cara memanusiakan santri, bahwa santri adalah calon pemimpin yang harus disikapi dan dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. Mengapa harus dekat secara fisik? Hal ini menjadi sangat penting, karena proses pengkaderan bisa dilakukan apabila secara fisik dekat. Bagaimana akan bisa diketahui pola fikir, sikap dan prilaku kader, bila tidak bersentuhan langsung.

Dengan sentuhan langsung, sesorang bisa dinilai, diarahkan dan dievaluasi.Sebagai misal, penampilan seorang santri hendaknya prima, sehat dan bersih. Cara bicaranyapun harus tertata baik, maupun mentransformasikan ide dan fikiran, serta meyakakinkan kepada orang lain. Sifat, karakter dan kebiasaan yang dimiliki hendaknya diketahui dan dimengerti langsung oleh pimpinan.Maka hal-hal tersebut bisa diarahkan bila secara fisik dekat dan mudah dijangkau.

Lebih dari itu, kedekatan seara fisik adalah sebagai bukti adanya kesiapan kedua belah pihak melakukan proses pengkaderan. santri percaya dan siap diisi, sedang pemimpinpun terpanggil dan siap mengisi. Kesiapan ini bisa tercapai bila adanya kepercayaan dan kecocokan batin.Kecocokan batin. Kecocokan inilah yang akan mengalirkan energi ilmu, keyakinan, moral bahkan wawasan dan pengalaman. Maka tidaklah salah bila orang akan memberikan kepercayaan, tugas dan wewenang kepada orang yang paling dekat dengannya. Walaupun harus juga berhati hati, bahwa orang yang paling dekat pulalah, orang yang paling berbahaya bagi dirinya.

Kedua Pendekatan Program, Pendekatan fisik saja tidaklah mencukupi, harus dengan pendekatan program atau tugas. Bagaimanapun hebatnya pendekatan manusiawi dengan segala kebaikan hati belumlah cukup. Maka pendekatan tugas atau program justru akan memberikan contoh pemimpin menjadi lebih terampil, bertambah pengalaman dan wawasan. Dia akan berhati-hati dan menumbuhkan jiwa kesungguhan dan militansi. Karena penugasan berarti mendidik untuk bertanggung jawab dan bisa dipertanggung jawabkan.Pendidikan adalah penugasan dan penugasan sebenarnya melatih sesorang bisa meneyelesaikan sekian banyak problema hidup.

Dengan banyak tugas, sesorang akan semakin kuat dan memiliki daya tahan, daya dorong dan juang yang tinggi.
Penugasan sebenarnya bukti dari kepercayaan dan kesejahteraan. Orang yang diberi tugas berati ia telah dipercaya, bahkan dia akan mampu menyelesaikan, atau bukti bahwa bahwa dia akan berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya, karena dengan tugas, berarti dia akn berusaha untuk meningkatkan dirinya dengan semaksimal mungkin. Di satu sisi, bahwa penugasan merupakan kesehteraan baik lahir maupun batin. Di sisi lain, penugasan akan melahirkan pengaruh dan kewibawaan. Dan kesemuanya itu merupakan rizqi yang besat dari Allah.

Ketiga, Pendekatan Idealisme. Dua pendekatan di atas dalam proses pembentukan pendidikan karakter, belumlah cukup, karena kedua pendekatan seringkali hanya bersifat pragmatis, belum menyentuh tataran isi dan nilai, filsafat dan ruh kegiatan yang diberikan. Maka haruslah ada pendekatan idelaisme.Pendekatan ini lebih merupakan upaya memberikan ruh ajaran, filosofi dibalik penugasan.Seseorang santri hendaklah diberi pengertian bahwa seluruh kegiatan yang ada dipondok memiliki jiwa dan nilai yang sangat mulia dan agung.Kemampuan ini harus dilatih dan terus diasah sehingga santri atau guru mampu menangkap hikmah-hikmah yang indah dan agung dibalik dinamika kehidupan yang begitu hebat.

Proses pendekatan ini akan menjadi lebih penting karena hakekat apa yang ada dibalik pelajaran, kegiatan, tata kehidupan di pondok memiliki nilai kehidupan yang tinggi, apalagi mampu dikaitkan dengan makna ibadah yang sesungguhnya. Bila pendekatan idialisme ini berhasil, maka pelaksanaan tugas-tugas tersebut akan menjadi terasa ringan. Seperti halnya orang sholat, bila mengerti hakekatnya sholat, maka orang tersebut akan begitu mudah dan ringan menjalankan sholat, bahkan merasa asyik dan terus merindukan untuk sholat. Demikian juga dalam menjalankan tugas–tugas yang ada dipondok, akan terasa ringan bila telah memahami tujuan dan cita-cita dasar hidup dipondok, apa yang harus kita kerjakan, bagaimana dan mengapa kita menjalankan. Sehingga santri tidak hanya mengerjakan tugas tapi dia faham mengapa ia harus melakukan tugas.

Demikian paparan pengalaman penulis dalam menerapkan pola pendidikan karakter di Pondok Pesantren Modern.Sejatinya peran dan fungsi Pimpinan pondok/Kiai, guru dan para santri senior (pengurus) kerap bersinergi secara terstruktur, massif dan efektif untuk mengimplementasikan pola dan regulasi dalam membentuk karakter para peserta didik (santri).Wallahu alam bi showab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here