Penderita TBC di Kabupaten Tangerang Meningkat

TANGERANG, (KB).- Sepanjang tahun 2019, jumlah penderita tuberculosis (TBC) di Kabupaten Tangerang menunjukkan angka peningkatan. Pasalnya dalam kurun waktu Januari-Desember 2019 tercatat 9.838 pasien TBC menjalani pengobatan, sedangkan 6000 diantaranya adalah kasus baru.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Peyakit Menular pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengatakan jumlah penderita TBC di Kabupaten Tangerang memang sejak dulu sudah banyak namun tidak terdata dengan baik.

“Baru 2019 lalu kami melakukan penulusuran ke klinik dan rumah sakit dan ditemukan sebanyak 9.838 pasien TBC,” ujar Hendra, Senin (13/1/2020).

Dari data itu terungkap, terjadi kenaikan 6000 kasus pada 2019 dibandingkan tahun 2018 yang hanya 3.838 dan lima orang meninggal.

Hendra mengakui pihaknya hingga kini terus berusaha mencari orang-orang yang suspect TBC sebagai upaya untuk menekan penyebarannya sekaligus mencegah kondisi pasien lebih parah. Bahkan dirinya memprediksi, jumlah penderita TBC Kabupaten Tangerang akan terus naik mengingat masih banyak penderita TBC yang belum ditemukan.

Untuk itu, kata Hendra, Dinkes Kabupaten Tangerang telah menggandeng rumah sakit dan klinik untuk menemukan penderita TBC sebanyak-banyaknya.

“Bila sudah ditemukan akan mudah untuk mengobatinya,” ucapnya.

Dikatakannya penyakit TBC sering dianggap enteng oleh masyarakat. Akibatnya, pengobatan tidak dilakukan dengan segera, teratur, dan sampai sembuh total. Bahkan, sering kali penderita TB berhenti minum obat jika sudah merasa enak badan.

”Kalau pengobatan tidak tuntas, bakteri yang menyerang akan kebal obat. Biasanya penyakit TB semakin parah dan sulit disembuhkan,” ujarnya.

Lebih lanjut Hendra menjelaskan, Penderita TBC bisa diobati dengan metode directly observed treatment short-course (DOTS). Perlu diketahui, DOTS merupakan program pemerintah pusat untuk menanggulangi TBC.

Penderita mendapat paket obat dari puskesmas maupun rumah sakit. Penderita harus minum obat dengan diawasi anggota keluarga sampai tuntas. Untuk itu, Hendra pun menginformasikan bahwa penyakit TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini ditularkan dari penderita TB aktif yang batuk. Air ludah penderita terhirup oleh orang yang kekebalan tubuhnya lemah.

”Faktor lingkungan menentukan penularan seperti kepadatan penduduk tinggi sehingga udara lembap dan pencahayaan matahari minim,” katanya.

Hendra menambahkan, selain menemukan penderita TBC, pihaknya juga terus mensosialisasikan penyakit TB ke warga. Karena banyak penderita yang pengobatannya tidak maksimal karena kurang disiplin. Karena itu, masyarakat perlu mengenali gejala TBC.

”Tahun ini, kami akan menambah kerjasama dengan Klinik dan rumah sakit untuk menemukan penderita TBC,” tukasnya. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here