Pencurian Data Facebook, Ini Kata Pakar

SERANG, (KB).- Skandal pencurian data facebook (FB) dari banyak akun di Indonesia, diakui oleh Mark Zuckeberg CEO sekalikus pendiri FB. Di Indonesia data pengguna FB yang tercuri berkisar di antara 1 juta pengguna.

Menanggapi hal ini, salah seorang perintis Internet Murah Serang-Cilegon pada tahun 1997, Boyke Pribadi, mengatakan dalam era kemajuan teknologi informasi, data merupakan barang yang sangat berharga. Data bisa diolah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan.

Salah satunya, kata Boyke, untuk kepentingan politik. Hal itu sebagaimana terjadi di Amerika, di mana data jutaan pemilik akun di facebook yang dicuri oleh Cambridge Analytica antara lain digunakan untuk kepentingan pemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden tahun 2016.

“Dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan hari, melalui metode tertentu, di antaranya algoritma Naïve Bayess Classifier (NBC), bisa diketahui profil kepribadian karakter seseorang melalui status yang ditulis di media social,” ujar Boyke Pribadi.

Dengan mengetahui kepribadian dan melakukan pencurian data spesifik lainnya, seperti nomor kontak, kelompok pertemanan, aktivitas jual beli, kelompok peminatan, dan sebagainya maka seorang profiler (orang yang bisa membaca profil seseorang) bisa menawarkan produk atau bahkan gagasan yang sesuai dengan profil kepribadian yang dimaksud.

Boyke Pribadi telah menggunakan dan mengamati penggunaan internet rumah tangga sejak kecepatannya  14.4 KbpS hingga hari ini yang telah meninggkat lebih dari 5 MbpS atau lebih dari 150 kali.

Menurut dia, banyak penelitian tentang algoritma NBC, di antaranya hasil mahasiswa magister di Unibraw pada tahun 2015 yakni Mohammad Zoqi Sarwani dan Wayan Firdaus Mahmudy, yang menyimpulkan bahwa twitter dapat digunakan sebagai salah satu media untuk mengetahui kepribadian seseorang melakui posting atau tweets mereka.

Selain itu, kata Boyke, proses pengklasifikasian twitter menggunakan metode Naïve Bayess Classificaation juga mampu memberikan tingkat akurasi yang baik dengan membandingkan hasil klasifikasi dari sistem dengan hasil dari pakar.

“Dengan metode yang hampir sama, maka status yang kita buat di media sosial lainnya dapat digunakan untuk memprediksi kepribadian seseorang. Dengan demikian, kita harus hati-hati dalam mengekspresikan emosi kita dalam status yang dibuat. Sebab, di luar sana ada yang mengamati untuk memenuhi kepentingnya masing- masing,” ungkap Boyke.

Diketahui, facebook kembali diterpa masalah hebat. Baru-baru ini, puluhan juta data penggunanya disalahgunakan dalam kasus Cambridge Analytica (CA). Dari 87 juta data yang kebobolan, sebagian besar adalah pengguna Facebook dari Amerika Serikat atau sekitar 81,6 persen data disalahgunakan. Selain Amerika Serikat, ada beberapa negara termasuk Indonesia.

Indonesia masuk urutan ketiga data yang disalahgunakan. Sekitar 1,3 persen dari 87 juta. Di atas Indonesia, ada Filipina yang kemungkinan besar penyalahgunaan data pengguna dari negeri itu sekitar 1,4 persen. Selain ketiga negara itu di antaranya Inggris, Mexico, Kanada, India, Brazil, Vietnam, dan Australia. (SY)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here