Pencuri Masker Terancam Hukuman Lebih Berat

CILEGON, (KB).- Empat tersangka pencurian ratusan boks masker di gudang Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon terancam pasal force majeure atau keadaan memaksa. Hukuman pidana akan lebih berat bagi para pelaku, karena hukuman akan ditambah satu per tiga dari putusan pengadilan.

Hal tersebut dikatakan Kapolres Cilegon AKBP Yudhis Wibisana saat ditemui awak media di Polres Cilegon, Jumat (3/4/2020). Menurut Yudhis, saat ini para tersangka diancam pasal 363 KUHP tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan pasal 374 KUHP tentang penggelapan dalam jabatan.

“Pada situasi force majeure, hukuman pidana memang bisa lebih berat. Para tersangka ini kan terancam hukuman maksimal 7 tahun. Jadi kalau pasal force majeure ikut dikenakan, hukuman bisa ditambah satu per tiganya,” katanya.

Menurut Yudhis, ada sebuah pertimbangan terkait penerapan pasal force majeure untuk keempat pelaku tersebut. Mereka diketahui melakukan pencurian sebelum status darurat kesehatan ditetapkan.

“Mereka itu mencuri pada 16 Maret 2020, sementara darurat kesehatan ditetapkan pada 31 Maret 2020. Nah apakah nantinya mereka akan terkena pasal force majeure, memang perlu dikaji lebih dalam,” ujarnya.

Baca Juga : Curi Ratusan Boks Masker, 4 Pegawai Dinkes Kota Cilegon Ditangkap

Diketahui sebelumnya, empat pegawai Dinkes Kota Cilegon mencuri 120 boks masker dari dalam gudang. Mereka adalah LL (38), MR (39), NS (39), serta AW (35). LL dan NS adalah seorang staf ASN bagian gudang, sementara MR dan AW adalah office boy (ob) gudang Dinkes Kota Cilegon berstatus Tenaga Harian Lepas (THL).

Menurut Yudhis, otak dari pencurian tersebut adalah LL. “LL memerintahkan MR dan AW untuk mengambil masker-masker itu. Kemudian ia bersama NS menjual masker itu,” tuturnya.

Pencurian, lanjut Yudhis, dilakukan para pelaku pada 16 Maret 2020. Kemudian Dinkes Kota Cilegon mengetahui ada ratusan boks masker hilang usai melakukan check opname pada 27 Maret 2020.

“Dinkes laporan kepada kami pada Selasa (31/3/2020). Kemudian para tersangka kami tangkap keesokan harinya. LL dan NS di kantor Dinkes, sementara MR dan AW di rumah masing-masing,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinkes Kota Cilegon dr Arriadna mengatakan, masker tersebut rencananya didistribusikan ke seluruh puskesmas di Kota Cilegon. Dengan adanya kasus pencurian tersebut, pihaknya kekurangan masker.

“Itu jumlahnya sudah pas untuk seluruh puskesmas. Gara-gara ini, kami jadi kekurangan stok,” katanya.

10 tahun mengabdi

Pada bagian lain, LL saat ditanya oleh wartawan mengaku khilaf. ASN yang telah mengabdi selama 10 tahun di Dinkes Kota Cilegon ini gelap mata melihat peluang pasar masker di tengah wabah corona virus disease atau Covid-19. “Saya khilaf, saya mengaku bersalah,” ujarnya.

Menurut LL, ia memang menjual masker-masker tersebut secara online. Namun ia menyeleksi pembelinya, hanya untuk orang-orang Kota Cilegon. “Saya jual online, tapi COD (cash on delivery), hanya orang Cilegon,” tuturnya.

LL menjual per boks Rp 30.000. Ia mendapat keuntungan Rp 3,5 juta, kemudian hasilnya dibagikan kepada tiga rekannya. “Saya jual Rp 30.000, semuanya ada 120 boks. Saya dapat Rp 3,5 juta, hasilnya dibagi-bagi,” ucapnya. (AH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here