Pencemaran Sungai Ciujung dan Cidurian, Aktivis Lingkungan Nilai Pemkab Serang Tidak Tegas

Warga menunjukkan air aliran Sungai Ciujung yang menghitam diduga akibat pencemaran limbah pabrik di kawasan Jembatan Asa Desa Walikukun, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Jumat (3/8/2018). akibat air sungai yang menghitam dan mengeluarkan bau tidak sedap ini warga setempat tidak berani menggunakannya untuk mandi maupun mencuci karena takut terserang penyakit gatal.*

SERANG, (KB).- Aktivis Kaukus Lingkungan Hidup Serang Raya (KLHSR) menilai pemerintah Kabupaten Serang tidak tegas dalam menyelesaikan masalah pencemaran di dua aliran sungai besar yakni Ciujung dan Cidurian yang sudah berlangsung belasan tahun. Hal itu dikarenakan, selama ini sanksi yang diberikan hanya bersifat administrative dan tidak membuat jera.

Ketua KLHSR Anton Susilo mengatakan, ada beberapa tuntutan yang harus dilakukan oleh pemerintah terkait pencemaran itu, Pertama dari segi Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) pemerintah harus tegas. Mana yang masih belum baik harus dikonfirmasikan. “Selama ini control perusahaan juga masih belum maksimal, LH pun masih berbicara soal SDM. Kami mengakui, makanya mari sama sama untuk pengawasan IPAL itu,” ujarnya kepada Kabar Banten saat ditemui di Pemkab Serang, Senin (6/8/2018).

Anton menuturkan, yang terpenting dari tuntutan Kaukus adalah ketegasan pemerintah. Dalam hal ini jangan ada yang ditutup tutupi semisal ada perusahaan yang mengeluarkan air limbah maka harus tegas diberikan sanksi. “Sanksi bukan hanya semacam berbicara tegas, tapi apilikasinya tidak ada,” ucapnya.

Menurutnya, pemerintah harus memberikan sesuatu yang berbeda terhadap perusahaan yang mencemari Sungai Ciujung dan Cidurian. Dengan demikian, pemerintah dan dinas terkait bisa bersikap tegas. “Selama ini kurang tegas, dan sanksi cuma administrative tidak ada sanksi yang lain atau pun sanksi ini perusahan A perbaikan IPAL full,” katanya.

Berdasarkan datanya, ada 16 perusahaan yang diduga membuang limbah ke aliran sungai Ciujung. Sedang ke Cidurian ada 2 perusahaan. Disinggung soal kedatangannya ke Pemkab Serang, sebelumnya mereka berencana untuk melakukan audiensi. Namun karena suatu alasan, audiensi itu di alihkan menjadi hari Jumat (10/8). “Terkait tidak jadinya audiensi ini sedikit mengecewakan kami tapi tadi ada komunikasi yang baik itu hari Jumat jam 9 katanya itu bisa dikondisikan,” ujarnya.

Dirinya berharap, pada pertemuan Jumat mendatang bisa dihadirkan instansi terkait agar bisa memberikan statement atau pun sama sama melakukan perbaikan. “Karean bagaimana pun itu harus di tempuh dan sama sama dengan masyarakat, pemerintah juga,” katanya.

Anton mengatakan, dampak pencemaran dua aliran sungai ini saat ini memang semakin terasa. Krisis air bersih di bebeerapa wilayah sudah terjadi. Bahkan saat ini masyarakat pun mulai menjerit dengan kondisi tersebut. Sebab selain sumber air sudah kering, air sungai pun tidak bisa digunakan.  “Kalau limbahnya itu tiap detik berubah dan makin banyak, tapi kita belum bisa pastikan. Sekitar 43 ribu kubik itu limbahnya,” ucapnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here