Rabu, 16 Januari 2019

Pemulihan Sektor Wisata Terdampak Tsunami di Banten, Pusat Kucurkan Dana Rp 15 Miliar

SERANG, (KB).- Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, pemerintah pusat akan mengucurkan anggaran senilai Rp 15 miliar untuk memulihkan daerah pariwisata terdampak tsunami Selat Sunda di Provinsi Banten. Proses pemulihan tersebut ditargetkan selesai dalam waktu singkat yakni satu triwulan.

“Untuk menangani bencana ini ada tiga tahap yakni tanggap darurat, nah ini sudah selesai tanggal 9 Januari. Sekarang tahap pemulihan. Tahap ini ada tiga fokus kita, pertama SDM (sumber daya manusia). Kedua pemasaran untuk yang tidak terdampak. Ketiga inventarisasi destinasi ini sedang diinventarisasi apa saja yang terkait pariwisata yang harus diperbaiki,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya kepada wartawan saat ditemui di salah satu hotel di Kawasan Wisata Anyer, Jumat (11/1/2019).

Arief mengatakan, untuk SDM total anggaran yang disediakan untuk pemulihan jangka pendek senilai Rp 15 miliar. Dana tersebut hanya untuk operasional seperti koordinasi dan lainnya. Sedangkan terkait pembagunan fisik akan dianggarkan oleh masing-masing lembaga atau kementerian. “Seperti jembatan itu di Kementerian PUPR. Yang di sini belum bisa jawab (apa saja yang rusak) karena belum ada datanya,” ucapnya.

Dirinya berharap semua tahapan pemulihan ini bisa selesai dalam satu triwulan. Jika belajar dari daerah lain seperti Lombok dan Bali yang sempat terdampak bencana, rehabilitasi berjalan sekitar 6 bulan. “Saya setiap bulan akan datang ke sini, ini kali kedua saya datang. Nanti berikutnya ke Carita, setelah itu ke Tanjung Lesung. Termasuk nanti Lampung juga silakan undang ke tempat yang sudah siap,” tuturnya.

Selain mengucurkan bantuan Rp 15 miliar, Kemenpar juga mempersilakan untuk menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai Rp 9,36 miliar untuk Banten dan Rp 33,439 miliar untuk Lampung. “Itu (DAK) sudah bisa eksekusi. Karena dulu persetujuannya dari Kemenpar, secara teknis karena itu DAK pariwisata. Maka Kemenpar akan mudah meyakinkan unit atau kementerian terkait yaitu Keuangan dan Bapenas agar ini didahulukan. Karena kondisinya darurat, jadi boleh digunakan,” katanya.

Kemudian untuk mempercepat pemulihan, Arief juga mempersilakan kepada daerah terdampak untuk menyiapkan top tree atau top five lokal event wisata. Sebab, semakin cepat dieksekusi akan semakin cepat pemulihannya.
Disinggung soal mitigasi bencana, Arief mengatakan semuanya harus diperbaiki dan satu komando. Namun yang paling penting dalam hal ini adalah penggunaan teknologi early warning sistem. Dengan demikian, jika terjadi bencana akan bisa diminimalisasi risikonya.

Sementara, Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumi menyambut baik upaya memulihkan kembali stabilitas ekonomi di sekitar wilayah terdampak tsunami oleh Kementerian Pariwisata. Namun upaya tersebut juga ke depan harus disertai dengan pembenahan rencana tata ruang dan juga pelayanan terhadap wisatawan domestik. “Intinya kita bisa berbenah bersama, kita targetkan 3 sampai 6 bulan minimal stabilitas ekonomi bisa pulih kembali dengan bantuan pemerintah pusat, ” ujarnya.

Data kerugian

Disinggung mengenai kerugian akibat tsunami, kata dia, sampai saat ini pihaknya masih mendata secara valid baik materil ataupun imateril untuk selanjutnya diajukan ke pemerintah pusat. Andika menjelaskan, daerah Banten yang terdampak tsunami ini adalah tulang punggung pariwisata Banten yakni Pandeglang dan Serang.

“Sepanjang pantai terdampak sekitar 9,7 kilometer meliputi Anyer, Carita hingga Tanjung Lesung. Padahal itu sudah ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus pariwisata. Oleh karena itu, kita terus koordinasi dengan pusat, BNPB, BPBD terkait kerugian,” tuturnya.

Dirinya berharap dengan dorongan Kemenpar, pemulihan dampak tsunami bisa dirasakan oleh masyarakat. Sebab dirinya yakin kedatangan Menpar Arief Yahya akan dapat mendukung dan mendorong baik masyarakat Banten maupun luar Banten untuk tetap percaya datang ke Banten khususnya daerah terdampak tsunami.

Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo yang turut hadir mengatakan, dampak bencana terhadap wilayahnya memang sangat besar. Namun dalam sisi pariwisata kita harus selalu memiliki mindset positif.

“Kalau kita urus skenario nantinya takut semua. Insya Allah akan dilakukan perbaikan bertahap. Kalau infrastruktur itu cepat asal ada anggarannya, tapi yang sulit itu memperbaiki image sehingga membutuhkan waktu lama. Kita juga butuh koordinasi supaya pembangunan image pariwisata bisa mengalahkan trauma dan pandangan negatif potensi wisata baik di Lampung dan Banten. Kita sudah buah promosi media sosial dengan hastag “Lampungitukeren”,” ujarnya. (DN)*

 


Sekilas Info

Berwisata Edukasi di Museum Multatuli dan Perpustakaan Saija Adinda

Selain ragam potensi wisata alam yang dimiliki, Kabupaten Lebak memiliki sejumlah destinasi wisata buatan, baik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *