Pemprov Banten Kucurkan DTT, 169 Rumah Rusak Segera Dibangun

SERANG, (KB).- Pemprov Banten akan membangun rumah baru bagi korban gempa di Kabupaten Lebak, yang mengalami rusak berat. Berdasarkan data Badan Penanggulangaan Bencana Daerah (BPBD) Banten, sebanyak 169 rumah rusak berat dari total 1.164 rumah rusak akibat gempa 6,1 skala richter, 23 Januari lalu.

“Gubernur punya kebijakan akan membangun rumah yang rusak berat akibat gempa. Ploting dari DTT (dana tidak terduga) sebesar Rp 50 juta per rumah. 169 unit rumah akan kami bangun baru,” kata Kepala Pelaksana BPBD Banten, Sumawijaya kepada wartawan, Senin (29/1/2018).

Ia menjelaskan, kriteria rusak berat yaitu rumah yang kerusakannya mencapai 50 persen. “Jadi bukan yang ambruk saja. Sekarang ini kita lagi validasi data ke lapangan. Syaratnya status tanah itu milik sendiri atau orangtuanya, bukan milik orang lain,” tuturnya.

Ia menjelaskan, pembangunan rumah tersebut akan dilaksanakan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Banten bekerja sama dengan pihak ketiga.”Insya Allah tidak lama, dalam waktu dua bulan sudah dibangun kembali. Rumahnya tipe 36. Kalau spesifikasi rumah diserahkan ke perkim. Yang membangun pihak ketiga. Sudah kita tunjuk pihak ketiga,” ujarnya.

Disinggung soal bantuan rumah rusak sedang dan ringan, Sumawijaya tak menjelaskan secara gamblang. Namun yang jelas, kata dia, bantuan rumah sementara ini diprioritaskan untuk rumah rusak berat.”Rusak ringan yang kayak plafon jatuh, retak-retak dikit, genteng rolok. Rehab ringan mudah-mudahan ada bantuan fasilitasi dari kementerian melalui kabupaten. Sementara kebijakan (provinsi) prioritasnya rusak berat dulu,” ucapnya.

Ia mengatakan, dalam melakukan verifikasi data, pihaknya menerjunkan delapan tim ke kecamatan-kecamatan yang terdampak gempa.”Dalam tanggap darurat ini kita kerja sama dengan camat, danramil, dan kapolsek agar betul-betul tepat sasaran. Ada juga tim pengawas khusus dari BPBD,” tuturnya.

Sementara, hingga kini ia belum dapat memastikan berapa kerugian yang diakibatkan gempa tersebut.”Itulah, tim di BPBD ini bukan yang kompetensi dari orang-orang teknik. Seharusnya semua kompetensi ada di BPBD, seperti arsitek, ahli biologi, ahli tehnik sipil harusnya ada. Sementara kita maping (memetakan) saja dengan perkim dan PU yang bisa menghitung itu,” katanya.

Ia menanggapi soal informasi tentang ratusan warga mengungsi akibat gempa. Menurutnya, tidak ada warga korban gempa yang tinggal di camp pengungsian. “Ngungsi itu begini. Mereka yang rumahnya rusak-rusak itu banyak tinggal di kediaman sanak familinya. Kami memang nyiapin tenda pengungsi, tapi mereka tidak menempati itu,” ucapnya.

Kepada para pemberi bantuan, ia mengimbau agar bantuan disalurkan melalui desa atau BPBD setempat agar tepat sasaran dan terkoordinir.”Pemberi bantuan agar ditujukan ke pemda setempat, dikoordinir muspika. Kalau langsung mungkin tidak tepat sasaran,” ucapnya.

Tersebar di 22 kecamatan

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mencatat 22 kecamatan di Kabupaten Lebak terdampak bencana gempa berkekuatan 6,1 skala richter (SR).”Dari 22 kecamatan itu, sekitar 1.834 rumah mengalami kerusakan, satu orang luka-luka dan seorang meninggal dunia,” kata Kepala BPBD Kabupaten Lebak Kaprawi, Senin (29/1).

Gempa tektonik yang melanda Kabupaten Lebak terdampak di 22 kecamatan tersebar di 90 desa, dan 173 titik, dengan jumlah 1.834 rumah dan sarana lain mengalami kerusakan. Kerusakan rumah dan sarana lain di antaranya kategori rusak berat, sedang, dan ringan.

Dari 22 kecamatan yang terdampak bencana gempa di Kabupaten Lebak, kata dia, yaitu Kecamatan Cijaku, Wanasalam, Bayah, Lebak Gedong, Cihara, Cimarga, Cilograng, Sajira, dan Cirinten. Selanjutnya Kecamatan Bojongmanik, Panggarangan, Sobang, Cigemblong, Malingping, Cibadak, Cileles, Muncang, Gunungkencana, Cipanas, Cibeber, Rangkasbitung, dan Cikulur.

“Kami minta warga yang menjadi korban gempa bersabar karena bantuan terus dioptimalkan guna meringankan beban ekonomi mereka. Pemerintah daerah kini membentuk tim verifikasi agar data korban gempa valid dan akurat. Sebab, pendataan saat ini hanya dilakukan relawan, aparat desa dan kecamatan,” ujarnya.

Kemungkinan, menurut dia, data tersebut berubah setelah adanya tim verifikasi di lapangan. Ia berharap kerja tim verifikasi secepatnya rampung untuk dijadikan data akurat korban gempa dan bisa dipertanggungjawabkan, karena mereka akan diusulkan mendapat bantuan.

Ia mengatakan, saat ini masyarakat Kabupaten Lebak kembali normal dan melaksanakan aktivitas kegiatan seperti biasa. Sebelumnya, kata dia, masyarakat mengalami trauma pascabencana, terlebih adanya gempa susulan. Namun, saat ini kegiatan masyarakat tidak dihantui rasa ketakutan.
Kegiatan pasar dan tempat pelelangan ikan (TPI) ramai dipadati pembeli dan pedagang. Begitu juga sekolah dan perkantoran melakukan aktivitasnya. “Kami minta warga tetap tenang dan tidak panik menghadapi bencana,” ujarnya.

Sejumlah warga Kecamatan Bayah mengaku lega setelah menerima bantuan bahan pokok dan kebutuhan lainnya. Bahkan, TNI telah membangun kembali rumah yang mengalami kerusakan. “Kami bersyukur rumah yang rusak diperbaiki oleh TNI dan relawan,” kata Darma, seorang warga Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak.

Kegiatan belajar dipindahkan

Selain rumah, gempa juga merusak puluhan gedung sekolah. Kerusakan sekolah yang terjadi di Kabupaten Lebak akibat gempa bumi itu, antara lain sekolah dasar (SD) sebanyak 28 unit, SMP sebanyak 6 unit, dan TK/PAUD sebanyak 21 unit.

“Sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi ini akan diperbaiki, namun aktivitas kegiatan belajar dan mengajar (KBM), tetap berjalan seperti biasanya dimana sekolah yang mengalami kerusakan itu aktivitas belajarnya dipindahkan sementara waktu baik ke balai desa maupun tempat lainnya,” tutur Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, Wawan Ruswandi. (RI/ND)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here