Pemprov Banten Akan Bangun Baitul Quran

SERANG, (KB).- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten akan membangun Baitul Quran di kawasan Banten Lama. Langkah ini untuk mensinergikan program revitasisasi Banten Lama yang dicanangkan Gubernur Banten Wahidin Halim. Terkait ini, LPTQ menggelar Focus group discussion (FGD), Selasa (5/3/2019).

Diskusi berlangsung di Pemprov Banten, dihadiri sejumlah pakar, antara lain Wakil Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Banten Prof. Dr. Dodi Nandika, Ketua ICMI Banten Prof. Dr. Lili Romli, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Dr. H. Muchlis Muhammad Hanafi, Rektor UIN Serang Prof. Dr. Fauzul Iman, Ketua DRD Banten Prof. Dr. Tihami, Tb. Najib, Ketua FSPP Banten Dr. Ikhwan Hadiyin, Dr. Wawan Wahyudin, dan KH. Fathul Azim. Diskusi dipandu Dr. Tholabi Kharle, juga diikuti Gubernur Banten Wahidin Halim dan Sekda Banten Ino S. Rawita.

Dalam sambutannya, Ketua Harian LPTQ Banten Prof. Dr. Syibli Syarjaya mengungkapkan, Baitul Quran merupakan tindaklanjut dari hasil penelitian LPTQ tentang melek Alquran di Banten. “Hasil penelitian tersebut, hanya 23 persen masyarakat Banten lancar membaca Alquran,” katanya.

Ironisnya, di daerah yang dikenal religius ini, 46 persen masyarakatnya tidak memiliki Alquran di rumahnya.

Gubernur Banten meminta LPTQ segera mewujudkan rencana tersebut. Oleh sebab itu, Gubernur meminta LPTQ tidak menggelar hanya sekali diskusi. “Diskusi harus dimaksimalkan, sehingga hasilnya lebih bagus,” katanya.

Ditegaskan, untuk proyek ini Pemprov Banten telah menyiapkan areal seluas 4,2 hektare di depan Surosowan dan akan nyambung ke Jalan Raya Karangantu. “Tanahnya datar, jadi tidak perlu lagi diuruk,” ujarnya.

Tanggapan

Dalam sesi diskusi, muncul beragam tanggapan, dari mulai soal nama, persoalan status tanah yang akan dijadikan lokasi, hingga konten Baitul Quran. Dodi Nandika misalnya, mengatakan keberadaan Baitul Quran sedikitnya memiliki tiga peran penting.

Pertama, meningkatkan kualitas umat Islam dalam membaca dan menghafal Alquran. Kedua, menjadi tempat bagi umat Islam untuk memahami Alquran dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, keberadaan Baitul Quran antara lain harus dilengkapi dengan sarana audio dan alat peraga modern.

“Baitul Quran harus bisa menjadi rujukan masyarakat ASIA. Oleh sebab itu, kontenya jangan hanya sebatas pameran, tapi juga menjadikan Islam sebagai kiblat bagi masyarakat di ASIA minimal,” katanya.

Ketiga, kata dia, keberadaan Baitul Quran harus menjadikan umat Islam yang berkunjung menjadi lebih baik . Keberadaan Baitul Quran harus mendorong umat untuk mengamalkan Alquran secara itu dan benar.

Sementara Prof. Tihami mengingatkan, Baitul Quran yang akan dibangun, lokasinya berada di Banten. Oleh sebab itu, semua yang terkait dengannya juga harus memperhatikan unsur-unsur ke-Bantenan. Dengan demikian, keberadaan Baitul Quran juga bisa membanten.

Sementara KH. Fathul Azim mengingatkan sebelum membangun gedung harus terlebih dahulu diteliti tentang status tanah. Sebab, di kawasan Banten Lama terdapat tiga kepemilikan tanah, yakni masjid agung, kesultanan, dan BCB (benda cagar budaya).

“Jadi, bangunan itu nanti ada di tanah siapa? Saya mengusulkan, namanya Laboratorium Alquran. Sebab kalau Baitul Quran sudah banyak,” katanya.

Ketua ICMI Banten Prof. Lili berharap keberadaan Baitul Quran membawa manfaat besar bagi generasi muslim, terutama yang ingin melanjutkan studi ke p[erguruan tinggi.

“Besar harapan kami, semoga nantinya para hafiz asal Banten mendap[at beasiswa di tiga perguran tinggi negeri di Banten, yakni UIN Serang, Unirta Serang, dan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat,” katanya.(SY)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here