Pemkot Serang Targetkan 2023 Bebas Stunting & Gizi Buruk

Pemerintah Kota (Pemkot) Serang menargetkan pada 2023 akan bebas stunting dan gizi buruk. Oleh karena itu, saat ini Pemkot sedang menggalakkan program mandi cuci kakus (MCK) di setiap kampung di 67 kelurahan. Melalui dana alokasi umum (DAU) tiap kelurahan ditekankan untuk membuat MCK minimal lima unit.

Wali Kota Serang Syafrudin mengatakan, untuk target keseluruhan, Pemkot Serang telah menargetkan sampai 2023. Proses pengerjaan dimulai pada 2020 secara bertahap, sedangkan untuk dananya, bersumber dari 5 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Serang.

“Jadi, kami ini sudah mencanangkan dana kelurahan sebesar 5 persen dari APBD. Nantinya, dana tersebut akan dialokasikan juga untuk pembangunan MCK di setiap kampung. Melalui Dinkes serta kelurahan dan akan ditekankan untuk membuat MCK,” katanya, Jumat (15/11/2019).

Pembuatan MCK tersebut, ujar dia, harus ada di setiap kampung. Sebab, di Kota Serang masih banyak masyarakat yang melakukan buang air besar (BAB) di sembarang tempat, seperti pinggir sungai, kebun, dan saluran irigasi, bahkan di pinggir rel kereta api. Tentu, hal tersebut harus dientaskan, agar Kota Serang terhindar dari persoalan kumuh.

“Dari dana itu kan bisa untuk pembangunan MCK di masing-masing kampung dan MCK ini memang harus ada, jadi tidak ada lagi masyarakat yang buang air besar sembarangan, sehingga Kota Serang bisa bersih, sehat, dan masyarakatnya terbebas dari gizi buruk serta stunting,” ucapnya.

Salah satu daerah yang masyarakatnya masih BAB di kebun dan saluran irigasi, tutur dia, berada di Kelurahan Bendung, Kecamatan Kasemen. Oleh karena itu, pembangunan MCK masuk dalam program prioritas Pemkot Serang.

“Ini juga merupakan program prioritas dari pemkot melalui Dinkes untuk bisa dibuatkan MCK, sehingga ke depan masyarakat Kota Serang bebas dari buang air besar sembarangan,” tuturnya.

Sementara, untuk penanganan stunting dan gizi buruk, kata dia, Dinkes Kota Serang telah memiliki klinik khusus. “Jadi, kami punya klinik khusus yang menangani gizi buruk dan stunting. Ini penanganannya juga akan kami optimalkan, sehingga ke depan Kota Serang bebas dari stunting dan gizi buruk,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinkes Kota Serang Ikbal menjelaskan, permasalahan gizi buruk di Kota Serang saat ini ada sekitar 5,54 persen dari 2.500 penderita stunting lebih penduduk Kota Serang. “Memang sangat kecil, tapi kami berupaya untuk menurunkannya dan meniadakan gizi buruk atau pun stunting,” ucapnya.

Permasalahan gizi buruk juga, tutur dia, merupakan persoalan dari hulu ke hilir, sehingga pihaknya hanya melakukan penanganan sesuai dengan kewenangannya saja, sedangkan untuk bagian lainnya, dia akan berkoordinasi dengan pimpinan daerah, agar melibatkan instansi serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

“Misalnya daya beli masyarakat itu seperti apa, nanti kan ada OPD lain yang akan melakukan survei tersebut. Kemudian, kami juga akan memberikan pemberian makanan tambahan (PMT) terhadap gizi buruk, sehingga jumlah stunting atau gizi buruk di Kota Serang menurun,” tuturnya.

Kecamatan Kasemen, kata dia, merupakan yang paling banyak menderita gizi buruk. Termasuk juga kawasan kumuh dan BAB sembarangan. “Yang paling dominan itu di Kecamatan Kasemen. Baik gizi buruknya, kekumuhannya, dan masih banyak juga yang buang air besar sembarangan,” ujarnya. (Rizki Putri/Yandri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here