Pemimpin tidak untuk Memenuhi Semua Keinginan Rakyat

Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten.*

Oleh : Prof. Dr. H. Fauzul Iman, M.A

”Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti kemauan kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu. Serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kafasikan, kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat : 7)

Melalui firman ini Tuhan ingin membangun sistem masyarakat yang kuat dan berperadaban. Yaitu sistem masyarakat yang terdiri dari pemimpin yang power, kharisma dan istiqamah di satu sisi dan masyarakat yang patuh secara inguin pada pimpinannya sebagai epicentrum di sisi lain.

Pemimpin sebagai epicentrum harus tegak di tengah dengan berkarakter pengendali yang ajeg/istiqamah. Ia tidak boleh terbawa arus pemikiran dari pihak kelompok manapun baik yang minoritas maupun yang mayoritas. Kebiasaan buruk yang sering terjadi pada seorang pemimpin adalah lumpuhnya peran pengendali sehingga mudah dipengaruhi dan bukan mempengaruhi.

Dalam ayat ini Tuhan memfigurasi Rasul Muhammad sebagai patron/pemimpin yang harus tegak berdiri di tengah. Ia dilarang berpihak ke kelompok manapun apalagi terbawa arus kepentingan yang bertendensi materi dan kekuasaan. Rasul Muhammad ditetapkan Tuhan sebagai sumber dan inspirator primer yang tidak boleh seenaknnya menuruti kemauan atau tekanan umatnya. Betapapun kelompok umat yang terhitung besar menekannya, Muhammad tidak akan bergeming sedikitpun untuk menuruti kemauannya jika dampaknya kelak akan memberatkan umat itu sendiri.

Disinilah pentingnya keunggulan pemimpin dengan yang dipimpinnya. Pemimpin dari berbagai segi baik segi wibawa, ilmu, kecerdasan, manajemen dan keteladanan moral harus lebih unggul dari yang dipimpinnya. Keunggulan ini merupakan modal karakter yang cukup kuat untuk mempengaruhi dan membawa umat yang dipimpinnya ke jalan yang benar dan maslahat. Dalam kondisi ini bagi umat yang dipimpinnya akan mudah diindentifikasi inguinitas kepatuhan dan kapabilitasnya untuk bersama-sama membangun peradaban masyarakat.

Mengomentari ayat ini, Wahbah Zuhaeli, pakar tafsir kontemporer menegaskan bahwa masyarakat sebanyak apapun yang menekan pemimpinnya yang baik dan berkualitas agar menuruti kemauan masyarakat pasti akan terjadi bencana dan kehancuran besar di tengah masyarakat mereka sendiri.

Di abad kontemporer ini kita mengenal kepemimpinan demokrasi yang telah diakui sebagai satu-satunya alternatif. Namun dalam perjalanannya selalu saja mengalami keganjilan yang amat signifikan karena harus menuruti kemauan komunitas tertentu yang tidak berpihak kepada rasa keadilan komunitas lain. Dengan dalih demokrasi dan ham misalnya kita harus menuruti kemauan kaum LGBT untuk dilegalkan keberadaannya.

Dengan tanpa menafikkan kepemimpinan demokrasi, ayat ini sesungguhnya telah memberikan pelajaran yang amat berharga bagi setiap pemimpin (rektor) untuk tetap teguh di atas prinsip dan tidak selalu mengikuti baling-baling /tekanan kemauan orang banyak.

Pemimpin sejatinya berhasil menjadi epicentrum keteladanan moral yang dapat menjinakkan umatnya menjalani misi kepemimpinan bersama berdasarkan ingunitas regulasi atau standar operasional prosedur (SOP) kesetiaan dan keimanan bukan karena penjilatan fragmatis dan kemaksiatan (kedurhakaan). Wallahua’lam. (Penulis, Rektor UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here