Pemilu Usai, Saatnya Konsolidasi

Oleh : Supadilah

Pemilu 2019 telah pungkas. Setelah melewati rangkaian yang begitu panjang dan melelahkan, hasil pemilu diumumkan pada Selasa (21/5) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Proses demokrasi itu harus kita lewati dengan ongkos yang sangat besar. Baik itu ongkos finansial, politik dan sosial. Data Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, pemerintah menganggarkan sebesar Rp. 25,59 triliun untuk keperluan pemilihan umum (pemilu) serentak pada 17 April 2019. Angka ini naik 61 persen dibandingkan anggaran pemilu 2014 yang ‘hanya’ sebesar Rp. 15,62 triliun.

Uang rakyat yang terpakai sejumlah besar itu haruslah sebanding dengan hasil yang kita inginkan yaitu pembangunan Indonesia yang semakin maju lewat keterpilihan kepemimpinan nasional dan para wakil rakyat yang amanat.

Hasil pemilu hanya menunggu waktu untuk ditetapkan. Kita hormati pihak yang menggugat hasil pemilu saat ini sedang memperjuangkan haknya di Mahkamah Konstitusi (MK). Apapun hasilnya, sekarang adalah saatnya mengakhiri kontestasi dan menghadirkan konsolidasi.

Sebab atmosfer kehidupan bernegara kita cukup tersedot pada pesta demokrasi lima tahunan ini. Energi anak bangsa tercurah habis-habisan. Setiap hari kita dihidangkan pada menu politik yang tidak ada habisnya. Sosial media dipenuhi perbincangan tentang politik yang semakin memanas.

Suasana kebatinan kita dirusak oleh perbedaan politik. Polarisasi dukungan membuat jarak antar anak bangsa. Seolah, kita hanya terbagi dalam dua kelompok saja. Saling menyimpan bara permusuhan yang siap meledak. Silaturahim kita terganggu. Agaknya, kita belum siap dengan kedewasaan berpolitik. Belum lagi produksi dan distribusi informasi hoaks dan ujaran kebencian merajalela di berbagai simpul-simpul komunikasi. Kita menjadi saling curiga dan menebar benci. Musim kontestasi ini telah memakan ongkos sosial yang tidak kalah besarnya.

Pemilu 2019 juga menyisakan kepedihan. Dari data www.kompas.com pada Kamis (16/5), sebanyak 527 petugas KPPS meninggal dan 11.239 orang sakit. Belum lagi, akibat tragedi 22 Mei, sebanyak 8 orang meninggal dan ratusan lainnya dirawat. Tegakah kita menambah jumlah korban-korban selanjutnya?

Saatnya mencukupkan ‘pengorbanan’ kita. Apapun hasilnya, mari kita berharap agar bangsa ini mendapatkan takdir terbaiknya.

Perwajahan Bangsa Kita
Perlu kita yakini bahwa demokrasi merupakan sistem terbaik di antara sistem yang ada di dunia ini. Meskipun, dalam penerapannya tidaklah mudah. Sebuah negara memerlukan perjalanan yang panjang mencapai demokrasi yang ideal. Keberhasilan penerapan sistem demokrasi yang ideal tentu tidak lepas dari sejarah perjalanan bangsa, nilai budaya hidup yang dianut masyarakat dan tentu saja political will dari masyarakatnya.

Salah satu berkah dari sistem demokrasinya adalah rakyat ikut memberikan suaranya menentukan kepemimpinan secara langsung. Dalam hal ini suara seorang petani nelayan buruh akan setara dengan mereka yang berprofesi lebih edit seperti pejabat dokter profesor dan lainnya. Inilah bentuk pengejawantahan dari kedaulatan rakyat.

Pelaksanaan pemilu 2019 merupakan perwajahan bangsa kita. Saya sendiri terlibat pada pelaksanaan pemilu. Menjadi bagian dari saksi utusan partai politik (parpol). Di tengah pemberitaan berbagai kekisruhan yang terjadi di sana-sini, tidak sedikit pelaksanaan pemungutan suara berjalan adem ayem dan penuh kekeluargaan. Para panitianya merupakan tokoh masyarakat yang sudah dianggap sebagai orang tua sendiri. Penghitungan suara pun berjalan dengan keakraban dan kehangatan.

Ada berbagai permasalahan merupakan ujian sebuah proses. Ke depan harus menjadi evaluasi bersama. Termasuk korban meninggal pada pelaksanaan pemilu 2019 yang ditengarai akibat kelelahan karena pemilu serentak yang mencoblos lima kertas suara.

Meminjam istilah Max Lane tentang Bangsa yang Belum Selesai. Kiranya Indonesia juga termasuk sebagai bangsa yang belum selesai. Kita memang sudah merdeka, tapi proses menjadi sebuah bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur belum selesai. Pada berbagai penyelenggaraan negara masih banyak kekurangan yang terjadi. Begitu pula dalam pelaksanaan pemilu 2019 ini. Kali pertama menjalankan pemilu serentak (pilpres dan pileg) tentunya berbagai evaluasi ditemui usai pelaksanaannya.

Saatnya Konsolidasi

Setelah ditetapkan oleh KPU, selanjutnya kita harus lakukan konsolidasi. Bagaimana pun, mereka yang terpilih merupakan pilihan mayoritas kita. Sudah cukup rasanya energi yang kita habiskan sebelum pemilu ini. Sesudah pemilu, baiknya energi kita curahkan untuk bersama-sama membangun bangsa.

Langkah konsolidasi ini efektif dimulai dari para elit bangsa. Mereka menjadi role model atau panutan bangi masyarakat akar rumput (grass root). Masyarakat biasanya digerakkan oleh para elit. Jika elit gaduh, masyarakat terbawa. Namun jika elit mampu menahan diri, masyarakat pun akan tenang.
Konsolidasi itu dapat terwujud dengan saling percaya dan bekerja sama di antara komponen-komponen masyarakat. Tanpa itu, konsolidasi menjadi sebuah kemustahilan.

Ada prioritas yang harusnya kita pikirkan bersama. Bahwa kita sama-sama bertanggungjawab mengubah nasib negara kita agar semakin maju. Pekerjaan kita masih banyak. Masalah korupsi yang masih massif, perbaikan pendidikan, kemajuan ekonomi, dan kesenjangan sosial menanti untuk diselesaikan. Bahkan, jika kita saling bekerja sama pun belum tentu bisa membuat bangsa kita maju, apatah lagi jika kita saling curiga, menyalahkan, dan menjatuhkan. Kemajuan negara pun ‘jauh panggang dari api’.

Selanjutnya, rakyat merupakan faktor kunci dari keberhasilan keberhasilan konsolidasi demokrasi. Hasil survei Kompas dengan melibatkan responden dari 14 kota besar menunjukkan bahwa ikatan sebagai warga bangsa Indonesia merupakan ikatan paling kuat dengan 98 persen. Sementara, keterikatan dengan agama 91 persen, keterikatan kedaerahan 75 persen, dan kemudian suku atau etnis 74 persen. Artinya, semangat nasionalisme mampu mempersatukan berbagai perbedaan primordial yang ada. Inilah sebagai bahan bakar kita menuju konsolidasi bangsa. (Penulis adalah Guru di SMAT Al-Qudwah)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here