Pemda Jangan Jadikan Bantuan Hibah sebagai Strategi Utama Tangani Pasca Bencana

SERANG, (KB).- Pemerintah daerah (pemda) di Banten harus keluar dari “pakem” menjadikan bantuan hibah sebagai strategi utama dalam upaya menanggulangi kondisi pasca bencana. Hibah harus ditempatkan semata-mata sebagai instrumen yang komplementer, bukan menu utama.

Demikian dikemukakan  Manajer Pemulihan dan Lingkungan Dompet Dhuafa Syamsul Ardiansyah kepada Kabar Banten ketika dimintai pendapatnya terkait penanganan kondisi pasca bencana Tsunami Selat Sunda di Pandeglang dan Serang, Rabu (4/9/2019).

Menurut Syamsul, dalam konteks pemulihan pasca tsunami Selat Sunda, Pemprov Banten, Pemkab Pandeglang dan Pemkab Serang perlu belajar dari pemulihan gempa NTB dan Sulawesi Tengah. Belajar dalam arti luas, baik dari segi positif maupun negatif.

Positifnya, menurut Syamsul, pemulihan gempa NTB dan Gempa-Tsunami-Likuifaksi Sulawesi Tengah berpatokan pada rencana aksi rehabilitasi-rekonstruksi. Negatifnya, di dalam rencana-rencana itu kurang mengelaborasi potensi kapasitas dari para-pihak lokal dalam mendorong pemulihan.

“Kelemahan ini yang menjadi boomerang.” katanya.

Penguatan kapasitas lokasl

Dia menilai, pemulihan yang efektif adalah hasil dari strategi program yang bertumpu pada penguatan kapasitas lokal. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan partisipasi dan emansipasi dari masyarakat terdampak bencana dalam mendorong pemulihan mulai dari dirinya, keluarganya, dan lingkungan terdekatnya.

Di Banten misalnya, dengan kawasan yang memiliki garis-pantai cukup panjang dengan rumah-tangga nelayan yang paling besar secara nasional, harusnya bisa melihat potensi ekonomi maritim sebagai mesin pertumbuhan untuk pemulihan.

“Jadi, yang perlu dilakukan pemerintah adalah memfasilitasi penyusunan livelihood strategy pada rantai nilai ekonomi maritim bagi seluruh pelaku ekonomi lokal, khususnya yang bergerak pada usaha mikro-kecil dan menengah serta memayunginya dengan kebijakan yang memihak,” ujar Syamsul.

Tujuan dari startegi tersebut adalah terjadinya percepatan pemulihan yang disertai peningkatan pendapatan dengan memaksimalkan potensi pasar lokal serta kesanggupan untuk menghadapi guncangan krisis pada masa yang akan datang.

Menurut Syamsul, sektor bisnis perlu dilibatkan tanpa harus bergeser posisi menjadi lembaga filantropi, misalnya dengan menjadi pasar untuk menyerap produk-produk lokal, baik sebagai bahan baku, bahan mentah, atau komoditas siap jual.

Strategi yang bisa dilakukan sektor bisnis misalnya menyediakan layanan keuangan, mendorong pembentukkan sentra-sentra produksi dan inkubasi bisnis, atau melakukan distribusi aset dan modal untuk pengembangan usaha.

Contoh konkret dari aplikasi livelihood strategy yang melibatkan masyarakat dan bisnis adalah sinergi program antara industri susu dengan peternak sapi perah di lereng Merapi. Sinergi ini didasari oleh kebutuhan kedua-belah pihak untuk menopang kelangsungan usaha, bahwa guncangan yang dialami peternak sapi perah pasti akan berdampak pada stabilitas industri.

Oleh karena itu, dalam business continuity plan-nya industri susu, dimasukkanlah kebutuhan untuk memperkuat ketangguhan para peternak.

Untuk konteks Banten, lanjutnya, perlu dicari apa jenis usaha yang bisa link-and-match dengan kebutuhan industri yang oleh pemerintah bisa direkatkan dalam kebijakan yang afirmatif dan menguntungkan keduabelah pihak.

Sama halnya dengan Merapi yang erupsinya selalu berulang dan sudah pasti mempengaruhi usaha para peternak sapi dan industri susu, Banten pun punya potensi ancaman yang selalu berulang dan mempengaruhi kelangsungan usaha.

Syamsul menilai, meski sudah memasuki bulan ke-8 sejak kejadian tsunami, tapi belum terlambat bagi pemerintah, khususnya pemerintah Kabupaten Pandeglang, Serang serta Pemprov Banten untuk meninjau strategi pemulihan pasca bencana.

Inisiasi untuk menyusun livelihood strategy yang komprehensif sekaligus melakukan pemetaan para-pihak yang berpotensi mendukung masih sangat mungkin untuk dilakukan. Sebab, bagi masyarakat Banten yang khususnya terdampak tsunami, masalahnya tidak sekadar mengembalikan pada keadaan normal sebelum bencana, melainkan menyiapkan mereka untuk bersiap menghadapi ancaman lain yang mungkin lebih besar dan lebih berat.

“Jangan sampai, upaya kita untuk mendorong pemulihan dan memperkuat kesiapsiagaan didahului oleh datangnya ancaman yang tidak kita inginkan.” pungkasnya.(Mas)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here