Pembuatan KIA di Malingping Diduga Diwarnai Pungli

LEBAK, (KB).- Pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA) dan akta kelahiran di wilayah Kecamatan Malingping diduga diwarnai pungutan liar (pungli). Setiap pemohon diminta uang sebesar Rp 30.000 hingga Rp 130.000 oleh oknum.

Informasi yang dihimpun, sejumlah korban yang diminta uang oleh oknum merupakan wali siswa yang hendak membuat KIA dan akta kelahiran. Oknum yang mengurus dokumen KIA dan akta kelahiran itu meminta uang kepada setiap pemohon sebesar Rp 30.000 hingga Rp 130.000.

Meski memberatkan, namun pemohon tidak berani mengadukan ulah oknum itu. Pembuatan KIA dan akta kelahiran dibuat secara kolektif dengan alasan agar anak mereka tidak ditegur oleh pihak sekolah atau oknum yang memungut biaya.

Ironisnya, tak sedikit pemohon yang terpaksa menjual hewan ternak dan sayuran untuk memenuhi biaya pengurusan KAI dan akta kelahiran.

”Saya terpaksa menjual ternak untuk biaya membuat KIA dan akta kelahiran anak saya,” kata salah seorang wali murid yang namanya minta dirahasiakan, Senin (20/1/2020).

Selain dirinya, ada beberapa warga lainnya yang terpaksa menjual rebung yang biasa dijual untuk memenuhi biaya hidup.

”Kalau saya masih mendingan lah. Ada juga yang sampai jual sayuran di kebun,” ujar wali murid lainnya.

Menurutnya, biaya sebesar Rp 130.000 diminta oleh oknum aparat desa dan oknum guru yang mengurusnya. Biaya yang dikeluarkan Rp 30.000 untuk biaya pembuatan KIA dan Rp 100.000 akta kelahiran. “Katanya gratis, kok ini kami harus bayar ya,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Lebak Ujang Bahrudin, belum berhasil dikonfirmasi. Dihubungi melalui sambungan WhatsApp nya dalam keadaan tidak aktif. (DH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here