Selasa, 25 September 2018
Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Banten, Kombes Pol Abdul Karim.*

Pemberatasan Kejahatan Siber, Polda Banten Kembali Buru Penyebar Hoax

SERANG, (KB).- Kejahatan di dunia siber menjadi atensi khusus Polda Banten. Setelah berhasil mengungkap tujuh kasus kejahatan siber, Polda Banten bersama Bareskrim Mabes Polri masih memburu pelaku lain. Penangkapan pelaku tersebut tinggal menunggu waktu. “Kita sudah tahu orangnya, lokasinya dimana, tinggal kita lakukan pendalaman dan proses pembuktian,” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Banten Kombes Pol. Abdul Karim, Senin (5/3/2018).

Ia mengatakan, penyelidikan kasus tersebut masih isu antek Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menyamar sebagai orang gila dan akan melakukan penyerangan terhadap ulama. Isu tersebut sangat membuat resah masyarakat karena timbul kekhawatiran dan persekusi terhadap orang gila di Banten. “Masih ada hubungan dengan itu (isu PKI),” kata Karim.

Penindakan terhadap pelaku kejahatan siber sedang digalakkan Polda Banten. Dalam proses pengungkapan kasus, Polda Banten dibantu Bareskrim Mabes Polri. “Bareskrim dan Polda Banten sudah cukup sinergi untuk pengungkapan kasus kejahatan siber, hoax dan sebagainya,” tutur Karim.

Dijelaskan Karim, dalam pengungkapan kasus kejahatan siber, Satgas Cyber Polda Banten melakukan siber patrol di medsos. Hal tersebut dimaksudkan untuk memonitor medsos dari penyebaran hoax, ujaran kebencian suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). “Kita melakukan siber patrol dan informasi dari tingkat atas Bareskrim (tembusan informasi Mabes Polri),” kata Karim.

Selain itu juga Polda menerima setiap laporan kasus kejahatan siber. Setiap laporan akan ditindaklanjuti. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan medsos. Masyaraat terutama pengguna medsos diminta jangan sebarkan atau membuat berita hoax karena diancam pidana. “Gunakan internet secara benar, ketika salah (sebarkan hoax) kita lakukan penyelidikan,” ucap Karim.

Kabid Humas Polda Banten AKBP Zaenudin meminta masyarakat agar lebih cerdas dalam menyikapi berbagai isu yang beredar yang belum tentu kebenarannya. Tanyakan kepada petugas kepolisian atau aparat terkait apabila mendapat informasi di medsos yang meresahkan. “Konfirmasi ke pihak kepolisian atau aparat terkait jangan sebarkan hoax,” kata Zaenudin.

Polda Banten terus memantau medsos selama 24 jam. Diharapkan setelah pengungkapan tujuh kasus dengan tujuh orang tersangka menjadi kasus terakhir yang ditangani aparat penegak hukum di Banten. “Cukup tujuh orang pelaku yang bisa kita jadikan pelajaran berharga,” tutur Zaenudin.

Meningkat

Terpisah, Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol. Fadil Imran mengatakan, sejumlah isu bohong mengenai penganiayaan terhadap ulama meningkat penyebarannya di media sosial pada Februari 2018. “Terlihat adanya grafik peningkatan isu penganiayaan terhadap ulama di medsos, yakni kurun waktu 2-27 Februari,” kata Brigjen Fadil di Mabes Polri Jakarta, kemarin. Kemudian pada 28 Februari hingga awal Maret 2018 terjadi penurunan penyebaran isu tersebut di medsos. “Lalu grafik menurun kemudian,” katanya.

Penurunan tersebut diduga setelah polisi menangkap enam orang admin grup Muslim Cyber Army (MCA) pada 27 Februari 2018. Keenamnya ditangkap di sejumlah lokasi yang berbeda yakni Muhammad Luth (40) ditangkap di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rizki Surya Dharma (35) di Pangkalpinang, Ramdani Saputra (39) di Bali, Yuspiadin (25) di Sumedang, Ronny Sutrisno (40) serta Tara Arsih Wijayani (40). Grup MCA ini diduga menjadi pelaku penyebaran berita palsu tentang penyerangan terhadap ulama di medsos.

Sementara polisi merinci dari 45 kasus penyerangan ulama, hanya tiga kasus yang benar-benar terjadi dan sisanya hanya peristiwa palsu. “Dari 45 peristiwa, tiga kejadian betul-betul terjadi, 42 peristiwa hoax,” kata Ketua Satgas Nusantara, Irjen Gatot Eddy Pramono.

Ia menjelaskan, 42 peristiwa tersebut terbagi menjadi tiga kategori yakni peristiwa yang direkayasa, peristiwa tindak pidana umum namun diviralkan di media sosial seolah-olah korbannya ulama dan pelakunya orang gila, serta peristiwa yang tidak terjadi sama sekali namun disebarkan di medsos seolah-olah terjadi penyerangan terhadap ulama. Sementara tiga peristiwa nyata penyerangan terhadap ulama terjadi di Jawa Barat sebanyak dua kasus dan di Jawa Timur satu kasus. (FI/Ant)***


Sekilas Info

Wagub Banten Klaim Kekerasan Perempuan dan Anak Menurun

SERANG, (KB).- Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy, mengatakan, korban kekerasan perempuan dan anak di wilayah Provinsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *