Pembatalan Kunjungan Pascabencana Tsunami Selat Sunda, Kerugian Sektor Pariwisata Ditaksir Capai Rp 15 M

SERANG, (KB).- Dinas Pemuda Olah raga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Serang menyebutkan, kerugian sektor pariwisata di kawasan wisata Anyer-Cinangka akibat bencana tsunami selama natal dan tahun baru mencapai sekitar Rp 15 miliar.

Hal itu dikarenakan banyaknya pengunjung yang membatalkan (canceled) kunjungannya ke hotel-hotel dan restoran di wilayah tersebut. “Tidak kurang dari Rp 15 miliar tadi saya lihat kerugian kemarin waktu habis tsunami pas perayaan natal dan tahun baru karena yang sudah booking juga cancel,” ujar Kepala Disporapar Kabupaten Serang, Tahyudin kepada Kabar Banten, Jumat (11/1/2019).

Tahyudin mengatakan, pembatalan bookingan tersebut menjadi kerugian terbesar. Sebab pada saat itu banyak hotel dan restoran yang sudah menyiapkan bahan-bahan, barang dan sayuran serta daging dan lainnya yang akan dihidangkan untuk para tamu. Namun kemudian tamu tersebut membatalkan kunjungannya. “Jadinya rugi. Terpaksa seperti itu,” katanya.

Menurut dia, jika kerugian itu terus berlanjut maka bagaimana nasib karyawan. Mereka tidak akan bisa menerima gaji lagi. “Saya berbicaranya ekonomi dan sumber daya manusianya dan destinasinya kalau ini ramai karyawan akan terbayar terus pajak ngalir ada pemasukan. Ini boro-boro pajak karyawan aja enggak ke bayar mau gimana,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Tahyudin, kawasan wisata itu harus segera bangkit agar kondisi kunjungan tidak sepi seperti saat ini. “Supaya jangan sepi gini supaya hidup kalau hotel enggak ada isinya lama-lama bisa kolaps karyawannya gimana. Hotel kan harus bayar segala macam,” ucapnya.

Ia mengatakan, berbagai upaya akan dilakukannya untuk kembali membangun kepercayaan wisatawan agar mau datang ke Anyer – Cinangka. Di antaranya dengan menggelar Anyer Panarukan Festival yang dimajukan jadwalnya menjadi Mei.

“Ada juga kegiatan pelatihan kesiapansiagaan bencana, Pokdarwis, Balawista kita bina supaya ketika terjadi sesuatu jangan panik dulu masyarakat. Ini belum apa-apa sudah panik masyarakat padahal belum terjadi apa-apa. Dengar sirine ambulans saja lari padahal ambulans, jangan sampai seperti itu ini kita bimbing agar mereka selalu siap,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Tahyudin, banyaknya informasi hoax yang beredar tentang kemungkinan adanya tsunami susulan membuat kawasan wisata menjadi sepi.

“Saya juga enggak ngerti urusan tsunami, urusan gunung, kalau dari petugas yang punya kewenangan itu ngomong baru kita dengar. Ini BMKG juga enggak ngomongin itu (informasi) tsunami susulan itu merusak daerah wisata jadi sepi. Yang datang saja jadi cancel, kerugian cancel itu besar. Sekarang kondisi Pantai Anyer aman aman saja, ombak juga tenang,” ujarnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here