Jumat, 20 Juli 2018
Spanduk milik pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) operasi 1 Jakarta bertuliskan larangan aktivitas pembangunan di sekitar jalur rel kereta api terpasang di proyek jalur frontage tol beton yang dibangun guna mengurai kemacetan di Terowongan Kaligandu, Kecamatan Serang, Kota Serang, Rabu (11/7/2018).*

Pembangunan Jalan “Frontage” Kaligandu-Kasemen di Sempadan Rel KA Ditunda

SERANG, (KB).- Sebagian pembangunan jalan frontage Kaligandu-Kasemen di sempadan rel kereta api terpaksa ditunda. Hal itu karena Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Serang terlebih dahulu harus mendapat izin PT KAI.

”Di sempadan rel kereta itu tidak dibangun dulu, tapi kegiatan lainnya tetap berjalan. Kami sudah koordinasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Hasilnya kami akan rapat mengenai pembahasaan permohonan izin,” kata Kepala Dinas PUPR, M Ridwan kepada Kabar Banten, Rabu (11/7/2018).

Di lokasi tersebut terdapat area perlintasan rel kereta api milik PT KAI Persero, sehingga untuk melanjutkan pembangunan, pihaknya perlu melakukan izin melalui Kemenhub. ”Yang tidak dibangun itu di sempadan rel kereta. Kami tunda pembangunannya sebelum mendapatkan izin perlintasan,” ucapnya.

Ia mengatakan, pengerjaan yang dimulai sejak 4 April 2018 akan diselesaikan selama 180 hari. ”Insya Allah terkejar secara keseluruhan. Walaupun tidak, kami akan melakukan koordinasi dengan Kemehub. Sekarang progres pembangunan 15 persen. Terkejar lah insya Allah,” tuturnya.

Ia menuturkan, sebulan lalu pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kemenhub perihal izin PT KAI. Selanjutnya, Kemenhub mengundang PUPR untuk rapat pada Kamis (12/7/2018). ”Pembuatan badan jalan dilakukan oleh kami, tapi untuk keputusannya ada di Kemenhub. Untuk pembuatan palang pintu rel kereta api, kami juga akan koordinasi dengan Kemehub. Untuk penjaga palang pintu sudah disediakan serta sarana prasarana dari Kota Serang,” tutur Ridwan.

Ia menjelaskan, frontage merupakan salah satu solusi untuk memecahkan masalah kemacetan di sekitar terowongan Kaligandu. Sebab saat ini sudah ada 6 pengembang perumahan yang relatif besar. Dengan pertumbuhan seperti itu, kata dia, semua mengerucut ke arah terowongan tol atau Trondol. Kondisi terowongan pun sudah tidak ideal, sehingga frontage menjadi solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

”Salah satunya membangun Jalan Kaligandu ke Kasemen. Panjangnya itu 2 kilo meter, lebar 10 meter, tapi badan jalan di 6 meter,” tuturnya. Jika frontage sudah jadi, menurutnya terowongan akan tetap seperti itu karena belum ada perlakuan khusus. Hanya saja menurutnya bebannya akan berbeda.

Jika sebelumnya lalu lintas harian rata-rata (LHR) ada 1.000, dengan adanya frontage nanti kendaraan akan berkurang. Menurutnya, jika dibenahi terowongan Kaligandu atau Trondol idealnya adalah overpass (jalan layang).

”Kalau ke underpass rawan banjir. Walaupun ada teknologi canggih bisa pakai pompa kan biaya mahal. Kalau ada anggaran besar idealnya overpass. Kami belum merencanakan. Untuk itu, kami sudah sering komunikasi dengan PT MMS. Kami baru menyampaikan kondisi eksisting, pemecahannya belum ada,” tuturnya. (TM)*


Sekilas Info

4 Tahun Lumpuh, Lansia di Cikande Tak Mampu Berobat

SERANG, (KB).- Pasangan Suami Istri Memed (73) dan Kasimah (60) warga Kampung Pandan, RT 007/RW 002, …

One comment

  1. Makasih artikel nya sangat bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *