Peluang & Tantangan Produk Lokal di Era Digital, Pemerintah Daerah Harus Dukung Pelaku UMKM

Suasana diskusi ”Obrolan Mang Fajar” bertajuk “Peluang & Tantangan Produk Lokal di Era Digital”, di Kantor Harian Umum Kabar Banten, Jl. Jend. A Yani No. 72 Kota Serang, Kamis (20/2/2020).*

USAHA Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Provinsi Banten berpotensi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Potensi tersebut dapat digarap optimal dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah.

Meski begitu, para pelaku UMKM juga jangan bergantung pada pemerintah. Sebab, di era digital saat ini kreativitas dan inovatif menjadi kunci agar produk laku di pasaran.

Hal tersebut mengemuka saat diskusi ‘Obrolan Mang Fajar’ bertemakan “Produk Lokal Banten di Era Digital, Peluang dan Tantangan”, di Kantor Harian Umum Kabar Banten, di Jl. Jend. A Yani No 72 Kota Serang, Kamis (20/2/2020).

Diskusi yang dipandu moderator Laura Irawati tersebut dihadiri Direktur PT Fajar Pikiran Rakyat Rachmat Ginandjar, Pemilik Batik Krakatoa Helldy Agustian, Ketua Bakor Provinsi Banten Aeng Haerudin, Divisi UMKM Bakor Banten Eka Julaika, Akademisi Untirta Boyke Pribadi, serta tamu undangan lainnya.

Pemilik Batik Krakatoa Cilegon Helldy Agustian mengatakan, saat ini tidak sedikit industri yang mati seiring dengan perkembangan teknologi digital. Menurut dia, pemerintah harus hadir untuk mendukung produk lokal, mulai dari pembinaan, mempromosikan, hingga membeli produk tersebut.

“Peran pemerintah dalam hal ini untuk mempromosikan kearifan lokal, ini sangat penting. Contoh pemerintah memberikan pelatihan. Sekarang kebanyakan (pelaku UMKM) dilatih, sudah pintar, tapi kemudian ditinggalkan. Bahkan harusnya dibeli oleh pemerintah untuk kemudian dijual. Jadi penting sekali peran pemerintah support ini. Bukan berarti selama ini pemerintah daerah tidak punya peran,” ujar Helldy yang sudah melahirkan 70 motif Batik Krakatoa ini.

Menurut dia, upaya yang bisa dilakukan pemerintah dalam pemberdayaan produk lokal yaitu dengan menggerakkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Dengan adanya BUMD, kata dia, bisa dipetakan UMKM dan zonanya.

“BUMD tentang UMKM harusnya dibuat. Jangan ditingkatkan. Dengan BUMD nya. Misalnya di Cikerai itu untuk ternak lele,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, ia mencontohkan, Kabupaten Banyuwangi yang sukses memasarkan produk lokalnya hingga ke pasar dunia.

“Di Banyuwangi itu awalnya produk lokal hanya ada berapa. Tapi sekarang sudah luar biasa. Produk, karyanya divariasi sehingga menjadi muatan lokal bisa dijual di dunia. Bicara Cilegon ini UMK (Upah Minimum Kota) tertinggi di Banten tapi produk lokalnya tidak ada. Sehingga produknya mahal. Pengangguran nomor 2 se-Banten. Pas masuk di Lingkar Selatan ada oleh-oleh, saya masuk ada tape, lah ini produk lain yang masuk Cilegon,” ujarnya.

Kreativitas

Menurut Akademisi Untirta Boyke Pribadi, ada pergeseran psikologi di era milenial ini dengan era sebelumnya. Pada era revolusi industri 4.0 ini kreativitas menjadi kunci.

“Kreativitas. Modalnya tetap kreativitas. Pemasaran melalui vlog-vlog. Ngundang influencer. (Mereka) dibayar tidak seberapa, tapi viewers-nya jutaan orang. Masak satu persen saja tidak tertarik. Itu namanya pemasaran era milenial sekarang ini,” kata Boyke.

Keberadaan marketplace saat ini juga, kata dia, meruntuhkan teori-teori bisnis. Jika dulu berlomba-lomba mencari keuntungan besar, sekarang justru pelaku mengambil untung yang mendekati nol yang bertahan.

“Contoh, saya mau cari tutup cup kopi. Saya cari di Bukalapak mulai Rp 25.000, saya cari lagi ternyata ada yang Rp 20.000. Sampai akhirnya ketemu yang harganya Rp 18.000. Sekarang teori yang berlaku adalah (harga dengan) keuntungan yang mendekati nol itu yang bertahan,” ujarnya.

Berdayakan masyarakat

Ketua Harian Bakor Provinsi Banten Aeng Haerudin mengungkapkan, produk lokal di Banten cukup banyak. Oleh karena itu, pentingnya membangun kesadaran masyarakat agar cinta produk lokal.

“Dan berdayakan masyarakat, supaya ekonomi enggak kemana-mana,” ucap mantan Ketua DPRD Banten ini.

Menurut dia, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian agar produk lokal Banten bisa sukses dan berkembang di era digital ini. Ia mencontohkan beberapa produk lokal yang sejatinya bisa menghasilkan nilai ekonomi tinggi, seperti gerabah, sate bandeng, dan lainnya.

“Kenapa gerabah nilai ekonomisnya tidak ada di Banten. Karena dibuat setengah jadi kemudian dijual ke Bali. Sekarang malah bukan lagi setengah jadi, tapi tanahnya dijual. Ini perlu dipikirkan. Kemudian, sate bandeng begitu ke Padang lebih awet, walaupun rasanya ada beda. Kalau (sate bandeng) kita kan tidak bisa (bertahan) lama. Apalagi (penjualan) di online itu enggak bisa, bisa asam kalau berhari-hari,” tuturnya.

Ia juga mengungkap beberapa produk lokal yang kalah di pasaran meski secara kualitas baik.

“Kenapa tidak produktif. Pacul, kored, waluku, garu, itu enggak hidup. Kualitas lebih bagus kita sebenarnya. Kalah sama produk luar. Itu ada di Cibeber. Kemudian golok Ciseuat. Tapi kalah di pasaran. Dulu ada kerudung yang dibordir itu buatan Cibeber. Tapi sekarang sudah enggak ada. Dulu terkenal di mana-mana. Itu (kerudung yang ada) di Timur Tengah dikirimnya dari Cina. Sate bebek Cilegon dulu terkenal. Ada opak, rengginang di Petir, Pamarayan itu enak-enak,” ujarnya.

Menurut dia, jumlah penduduk yang hampir 13 juta membuat pasar di Banten sangat terbuka luas bagi para pelaku UMKM.

“Jumlah penduduk Banten hampir 13 juta. Itu pasar. Kemudian ada 14 ribu industri. Karyawan ada berapa juta. Nikomas saja misalnya, kalau makan nasi kotak. Minimal masukin pisang saja sudah berapa itu. Kenapa sih enggak produksi di Pamarayan yang masih kosong lahannya. Produksi pisang kayak di Thailand,” katanya.

Sementara, menurut Divisi UMKM pada Bakor Banten Eka Julaika, perlu ada kepedulian secara utuh dari pemerintah dalam menangani persoalan UMKM. Mulai dari sisi branding, kelembagaan, hingga pasarnya.

“Pemerintah harus hadir untuk penguatan produk lokal ini. Pemerintah bisa memetakan mana UMKM binaannya, kemudian dicek mana yang sudah bisa mandiri dalam kurun waktu tertentu,” ujarnya.

Program yang digulirkan pemerintah dalam rangka pengembangan produk lokal harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Pemerintah butuh kreativitas program, jangan copy paste. Contoh ketidakkreatifan misalnya pelatihan narsum yang hadir 4L, lo lagi lo lagi. Padahal seharusnya pemerintah menganalisas juga dari pelaku UMKM ini mana yang misalnya dari mikro sudah ke kecil atau menengah,” kata dia. (Rifki Suharyadi)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here