Pelecehan Seksual Mendominasi, Kekerasan pada Anak Capai 33 Kasus

SERANG, (KB).- Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Kabupaten Serang mencatat sejak Januari hingga Juli 2019 telah menangani sebanyak 33 kasus kekerasan pada anak. Mayoritas kasus berupa pelecehan seksual.

Kepala DKBP3A Kabupaten Serang Tarkul Wasyit menjelaskan, selain pelecehan seksual, terdapat juga kasus lain yang beragam, yakni kekerasan fisik dan mental. Hal tersebut, terjadi hampir di beberapa kecamatan di Kabupaten Serang.

“Data kasus sampai saat ini sudah 33 kasus di semester pertama. Mayoritas pelecehan seksual. Lalinnya kasus kekerasan fisik dan mental,” katanya kepada Kabar Banten, Sabtu (20/7/2019).

Ia mengatakan, salah satu kasus terakhir yang ditangani, yaitu terjadi pada anak berusia 3 tahun yang dipukul oleh orangtuanya. Disinyalir orangtua tersebut, mengalami gangguan jiwa, sementara ibu kandungnya sedang tidak ada atau menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri.

Selain itu, masih banyak kasus-kasus serupa yang dialami oleh anak-anak yang ada di Kabupaten Serang. “Faktornya banyak hal atau penyebab, intinya kami ikut membantu dalam kasus-kasus kekerasan pada anak maupun perempuan,” ujarnya.

Sejauh ini, dia menuturkan, DKBP3A Kabupaten Serang terus berupaya melakukan pendampingan pada anak yang menjadi korban kekerasan. Ketika ada laporan, pihaknya ikut memberikan pendampingan, konseling sampai kasusnya selesai. Selain itu, melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) juga diberikan rumah aman untuk anak tersebut.

“Bisa juga diamankan di rumah P2TP2A, maksimal satu minggu. Selain itu ketika ada laporan kami dampingi dalam proses visum, mencari ruangannya juga. Selain pendampingan, kami berikan konseling. Kemudian, jika penanganan kasus hukum kami berikan dampingan hukum,” tuturnya.

Ia menuturkan, jika dibandingkan tahun lalu, jumlah tersebut hampir seimbang. Artinya, dengan muncul berbagai kasus, masyarakat sudah banyak yang mau melaporkan kepada pihak berwajib. Berbeda dengan dulu, laporan terkait kekerasan pada anak, justru sedikit, karena masih banyak yang malu untuk melaporkannya.

“Jadi, dengan muncul berbagai kasus, saya lihatnya ada aspek positif, bahwa mereka sudah mau banyak melaporkan. Dulu ada, tapi mereka malu melaporkan,” ucapnya.

Ia berharap, ke depan pihaknya mengajak warga masyarakat dan keluarga untuk meningkatkan kewaspadaan di masing-masing keluarga. Sebab, ada delapan fungsi keluarga dan agama paling tidak meminimalisir kasus-kasus kekerasan.

“Kegiatan anak ini ada tiga diminsi yang perlu diperhatikan, yaitu delapan jam di rumah, delapan jam pendidikan, dan delapan jam lingkungan. Maka, keluarga harus waspada, pendidikan waspada, dan lingkungan waspada,” ujarnya. (TM)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here