Pasutri Sufi Penerjemah Alquran

Ilzamudin Ma'mur

Oleh : Ilzamudin Ma’mur

There is no doubt that the Qur’an spoke clearly and directly to the community to which it was first revealed and has continued to do so in its original form to every subsequent generation of Muslims ever since.

Tidak ada keraguan bahwa Al-Qur’an berbicara secara jelas dan langsung kepada komunitas dimana Al-Qur’an pertama kali diwahyukan dan telah berlanjut menunaikan tugas yang sama dalam bentuk aslinya kepada setiap generasi Muslim berikutnya sejak saat itu. (Aisha dan Abdelhaqq Bewley, 2011)

Sejauh ini para penerjemah Al-Quran ke dalam bahasa Inggris pada umumnya berasal dari dari akademisi, cendekiawan, jurnalis, linguis, psikolog, hingga sastrawan, kalangan tariqat atau sufi pun sejatinya tidak ketinggalan. Beberapa karya terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris dengan pendekatan sufistik bisa kita dapatkan, antara lain adalah karya Ahmed Hulusi serta Aisha dan Abdelhaqq Bewley.

Namun demikian, penerjemah yang dibahas kali ini adalah pasangan suami istri berkebangsaan Amerika dan Inggris, Aisha Brewley dan Abdelhaq Brewley yang berlatar praktisi Tariqat Darqawi-Shadhili-Qadiri. Keduanya setelah melakukan pengembaraan intelektual dan spiritual ke beberapa negara di Timur Tengah, mereka pun kembali ke dan bermukim di Barat, tepatnya Inggris sebagai negara akhir tempat ibadah dan pengabdian pasangan sufi tersebut.

Biografi Intelektual

Aisha Abdurrahman Bewley lahir di Amerika Serikat pada 1948. Ia berasal dari keluarga Nasrani yang relatif cukup taat. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota kelahirannya, Aisha pun melanjutkan studi tertiernya di Berkeley. Aisha memperoleh gelar BA dalam bidang bahasa Prancis dari Universitas California di Berkeley, Amerika, dan gelar Master of Arts dalam Bahasa-Bahasa Timur Dekat dari kampus yang sama.

Setelah itu, didukung semangat tinggi dan beasiswa penuh Aisya pun belajar kurang lebih selama satu tahun di Universitas Amerika di Mesir serta memperdalam Sufisme dan Filsafat Islam di Dar al-‘Ulum Kairo, Mesir. Di Mesir inilah Aisha mulai tertarik dan terlibat Sufisme dengan menjadi murid Syeikh Abdelqadir al-Murabit. Sementara itu pemikiran Ibn ‘Arabi ditelaahnya pula di Fes, Maroko, di bawah bimbingan Sidi Fudul al-Hurawi.

Aisha sendiri baru masuk Islam pada 1968, ketika berusia 20 tahun. Sejak itu, sebagaimana disebut diatas, ia secara intens dan total memperdalam agama barunya. Hal tersebut menghantarkan Aisha dikemudian hari selain dikenal sebagai penulis produktif, ia juga merupakan penerjemah sangat prolific karya-karya Islam klasik dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris selama kurang lebih empat dasa warsa. Aisha menikah dengan al-Hajj Abdelhaqq Bewley dan dikaruniai 3 orang anak. Keluarga bahagia ini bermukim di Norwich, Norfolk, Inggris.

Sebagaimana Aisha, Abdelhaqq Bewley, sang suami, baru memeluk Islam pada 1968. Untuk memperdalam agama barunya, Islam, Abdelhaqq hijrah ke Maroko selama beberapa tahun. Abdelhaq bersama dengan syeikh Dr. Abdelqadir al-Sufi membangun komunitas Islam dan Muslim, dalam periode waktu yang panjang di berbagai negara antara lain Negeria, Cekoslovakia, Jerman, Spanyol, dan Inggris. Syaikh Abdelhaq saat menerjemahkan karya kolaboratifnya selain menjabat sebagai Dekan Fakultas Muslim Kajian Lanjut, ia juga sebagai pimpinan pengganti Sayikh Abdelqadir sebagai sufi.

Sebagai penulis dan penerjemah independen dan kolaboratif, karya Aisha sangat banyak, antara lain adalah : A Glossary of Islamic Terms (1998), Islam: The Empowering Woman (1999), Mu’awiya: The Restorer of Muslim Faith (2002), Muslim Women: A Biographical Dictionary (2004), The Mercy: Diffference of the Four Sunni Schools of Islamic Law (2004), Muhammad Messenger of Allah (Ash-Shifa of Qadi ‘Iyad) (2010),The Four Madhhabs of Islam: with Special Reference to the Practice of the People of Madina (2010), Democratic Tyranny and the Islamic Paradigm (2018), Uthman dan Fodio, Handbook on Islam, Iman, and Ihsan (1980/1996), Ibn Qayyim al-Jawziyah, The Soul’s Journey After Death (1987), Mustafa Ahour, The Jinn in the Qiur’an and the Sunna (1989), Abul-Hasan Ali Nadwi, Stories from Islamic History for Children (1993), Abul-Hasan Ali Nadwi, Muhammad: The Last Prophet (1993), Muhammad al-Sha’rawi, Fate and Predestination (1994), Muhammad al-Sha’rawi,, How Allah Provides (1994), Muhammad al-Sha’rawi, Magic and Envy (1994), dan Muhmmad Rafit ‘Uthman, The Laws of Marriage in Islam (1994)

Terjemahan Al-Qur’an

Aisha Bewley, yang menurut biografernya, tidak saja memahamai bahasa Arab dengan sangat baik, tetapi ia memahami makna dan hakikat ajaran dan sejarah Islam. Pengetahuan dan kemampuanya tersebut diperoleh melalui pengalaman dan transmisi langsung, bukan sekedar teori akademis dan belajar dari runitas.

Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan kalau kemudian Aisha bersama suaminya berhasil mengerjakan proyek besar penerjemhan Al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris. Karya terjemahan kolaboratif Aisha Bewley dan Abdelhaqq Bewley berjudul The Noble Qur’an: A New Rendering of Its meaning in English. Edisi pertama karya ini diterbitkan oleh Bookworks, London, pada 1999.

Edisi ketiga hard cover, dengan judul yang sama, The Nobel Qur’an: A New Rendering of Its Meaning in English, diterbitkan pada 2011 oleh Ta Ha Publsher, Amerika Serikat dan oleh Diwan Press, Norwich, Inggris. Karya ini sebelum akhirnya muncul ke hadapan kahlayak pembacanya telah melampai proses yang sangat panjang, sekira 25 tahun terhitung sejak 1975.

Karya kolaboratif ini, menurut para penerjemahnya, bukan dimaksudkan untuk merendahkan karya para pendahulu mereka, yang sebagian besar telah melakukan pekerjaan yang sangat luarbiasa dan mengagumkan, melainkan sebagai penafsiran terhadap sifat bahasa Inggris yang terus berubah. Tujuan utama Aisha dan Abdelhaqq dalam menyajikan terjemahan baru ini adala “to allow the meaning of the original, as far as possible, to come straight through with as little linguistic interface as possible so that the English used does not get in the way of the direct transmission of the meaning.”

Untuk memungkinkan makna asli, sebisa mungkin, hadir langsung melalui sedikit mungkin interaksi bahasa sehingga bahasa Inggris yang digunakan tidak masuk dengan cara transmisi makna. Aisha dan Abdelhaqq juga menyatakan bahwa “kami berharap bahwa terjemahan ini akan memberikan umat zaman sekarang, dan khususnya umat Muslim penutur bahasa Inggris, akses lebih langsung kepada Kitab Allah serta mendorong mereka untuk pergi lebih jauh lagi dan menemukan dari al-Qur’an bahasa Arab asli cahaya dan kearifan yang terkandung di dalamnya”.

Terjemahan ini disajikan dengan model monolingual, yakni hanya terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris aja. Lay out penyajiannya pun cukup khas dan unik di bading lay out terjemahan monolingual lainnya, seperti karya M.A.S Abdel Halim dan Muhammad Picthall Marmaduke. Sementara pendekatan penerjemahan yang diterapkan nampaknya lebih dekat kepada communitive translation dalam klasifikasi Peter Newmark (1988). Alih-alih God sebagai padanan, kata Allah tetap dipertahankan.

Demikian juga dengan nama-nama surat dan nama para nabi dan malaikat dipertahankan dalam bahasa Arabnya, yakni hanya menggunakan transliterasinya saja. Konsep-konsep lain atau kata kunci yang khas dalam Al-Qur’an pun diperlakukan sama, yakni hanya dituliskan transliterasinya saja. Sebagai penjelas makna kata-kata khas tersebut, sengaja disajikan senerainya di bagian akhir karya terjemahan.

Aisha dan Abdelhaqq menyebutkan bahwa dalam melakuakn kerja penerjemahan ini menggunakan beberapa kitab rujukan antara lain karya Hans Wher dan Edwar W. Lane, Tafsir Jalalyn, Kitab al-Tas’hil karya Ibn Juzzay al-Kalbi, Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurtubi, dan Ahkam al-Qur’an karya Abu Bakr Ibn al-‘Arabi.
Akhirnya, “Terjemahan Qur’an baru ini”, menurut Dr. Y. Dutton, Ketua Jurusan Bahasa Arab dan Kajian Islam, Universitas Edinburg, Inggris,

“segera akan mengalahkan semua terjemahan lainnya di dunia-penutur-bahasa Inggris. Sebagai hasil dari kajian mendalam teks al-Qur’an selama lebih dari dua puluh lima tahun, karya Bewley mempunyai keutungan kualitas tinggi, bahasa Inggris yang fasih secara alami, seiring dengan manfaat akses terhadap pemahaman tradisional teks.”

Senada dengan Dutton, Dr. A. Christmenn, Profesor di Universitas Manchster, Inggris, berpendapat bahwa “Karya terjemahan Abdelhaqq dan Aisha barangkali mempunyai potensi menentukan standar baru dalam disiplin terjemjahan al-Qur’an…Bagi mereka yang hendak mengenalkan diri mereka dengan isi al-Qur’an, ini adalah terjemahan ideal untuk memulai.’ Wallahu a’lam bi al-shawab!!! (Penulis adalah Wakil Rektor I UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here