Pasien Miskin Diangkut Pikap Pasir

Solihin pasien asal Kampung Pasir Gadung, Desa Sangiang saat dimasukkan ke mobil pikap untuk dirujuk ke rumah sakit, Rabu (31/1/2018).*

Warga Kampung Pasir Gadung, Desa Sangiang, Kecamatan Mancak, Solihin (31), dibawa menggunakan mobil pikap pengangkut pasir dari Puskesmas Kecamatan Mancak menuju Rumah Sakit Krakatau Medika Cilegon. Solihin yang datang ke puskesmas pukul 11.30, hingga sore hari tidak juga mendapatkan perawatan medis. Solihin yang bekerja di lingkungan Bandara Soekarno-Hatta sebagai pekerja harian lepas mengalami kecelakaan yakni tertabrak mobil.

Setelah itu, ia dilarikan ke rumah sakit dengan biaya ditanggung oleh pihak penabrak. Setelah lama dirawat, pasien pun diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya di Kampung Pasir Gadung, Desa Sangiang. Namun karena berada di perkampungan, penyakit Solihin pun kembali kumat. “Kami pun langsung menelepon rumah sakit yang merawatnya. Katanya di rujuk saja ke RS Serang dan minta rujukan ke Puskesmas Mancak,” ujar sepupu Solihin, Anton Daeng Harahap kepada Kabar Banten, Kamis (1/2/2018).

Pasien langsung dibawa ke Puskesmas Mancak menggunakan ambulans puskesmas. Namun sesampainya di puskesmas, pasien tak juga mendapatkan penanganan. “Jadi dilihatin, dan dikasihani sama bidannya. Dokternya katanya sedang urus haji, jadi enggak nongol juga,” katanya. Anton mengatakan, saat itu di rumah sakit terdapat 14 orang pasien, namun kondisi saudaranya yang sudah sekarat itu tidak juga ditangani.

Setelah dokter yang mengurus haji tiba, dirinya pun sempat mengobrol. Namun selama 4 jam mengobrol, sang dokter malah bertanya soal BPJS dan lainnya. “Artinya enggak sigap, jadi enggak apa-apa dokter menanyakan, tapi perawat yang lain menangani pasien. Ini mah enggak ditengok sama sekali. Dari mulutnya kan muntah kotoran, karena ini kan sudah tersumbat. Jadi yang enggak ada itu ginjal, kantong kemih, limpa enggak ada karena ketabrak,” tuturnya.

Jika memang puskesmas tidak sanggup, seharusnya puskesmas sampaikan. Namun, tolong untuk diantarkan ke rumah sakit. Akan tetapi, puskesmas menyarankan untuk menggunakan ambulans dari luar. “Karena terbentur aturan, kata dokternya nggak bisa. Peraturannya, menurut dokter itu, pasien tidak dirawat tidak boleh memakai fasilitas puskesmas ini. Setelah itu, ada bidan yang bilang nanti diusahakan ambulans partai, ya udah ditunggu tapi sejam ditunggu dan enggak nongol,” ujarnya.

Merasa tak ada tindak lanjut, dirinya pun kemudian memutuskan untuk membawa saudaranya menggunakan mobil pikap pengangkut pasir. “Pas mau dimasukkan, baru sopirnya bilang pakai mobil ambulans saja sekarang bisa. Tapi kenapa baru sekarang setelah saya sakit hati. Sekarang ada di Rumah Sakit KS,” katanya.

Sementara itu, dokter jaga Puskesmas Mancak Frankie Sudiono membantah adanya larangan untuk menggunakan ambulans puskesmas tersebut. Namun untuk bisa menggunakannya, harus mengikuti alur rujukan. Selaku dokter puskesmas, dia harus konsultasi dulu dengan dokter jaga IGD di rumah sakit yang akan dituju. “Kalau RS nya penuh, tidak ada tempat otomatis kami tidak bisa memberangkatkan pasien,” ujarnya.

Namun jika pasien itu datang sendiri, dia akan selalu menerima meski menunggu lama di IGD. Namun jika menggunakan ambulans, maka prosedurnya tetap harus konsultasi terlebih dahulu. “Sudah dijelaskan, dan itu keputusannya mereka, yang mengatakan menggunakan ambulans salah satu partai. Ya boleh saja, tapi kalau tidak didampingi oleh perawat kami, tidak bisa memberikan bantuan medis,” ujarnya.

Ia mengakui, pada saat pasien datang sedang melakukan pemeriksaan jemaah haji. Setelah itu selesai, ia langsung memeriksa pasien. Namun selama pemeriksaan jemaah haji, perawat yang ada sudah berkonsultasi dengannya. “Dan sudah memberikan gambaran keadaan pasien stabil. Tidak ada kegawatdaruratan dan setelah selesai periksa jemaah haji, saya lihat saya putuskan ini bukan pasien berobat jalan, harus dirawat. Jadi, saya yang putuskan untuk dirawat. Yang tadinya pasien mau berobat ke poli saya justru melarang,” tuturnya.

Dirinya pun menjelaskan kepada pasien, sebelum dibawa harus ditanyakan soal pembiayaan. Sebab, jika konsultasi ke rumah sakit, masalah pembiayaan akan ditanyakan jaminannya. “Pribadi, asuransi, BPJS atau apa. Kemudian dilengkapi persyaratannya di tingkat desa, supaya sampai sana berkas itu sudah lengkap tidak mempersulit pasien,” ucapnya. (Dindin Hasanudin)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here