Pascabencana Tsunami Selat Sunda, Susiyani: Kami Butuh Seragam Sekolah

Pascabencana tsunami selat sunda yang melanda sejumlah pesisir pantai di Pandeglang tidak saja menelan ratusan korban jiwa dan menghancurkan ribuan rumah. Namun demikian, bencana tersebut juga membuat anak-anak dan kaum perempuan menjadi trauma berkepanjangan.

Meski demikian, lebih prihatin lagi saat menyaksikan seorang anak kelas 4B SDN Teluk 2 Labuan, Susiyani. Hari pertama masuk sekolah, murid SD ini tampak memperlihatkan tulisan dalam kertas karton bertuliskan “Tolong Kami Butuh Seragam Sekolah”.

Susiyani menuliskan pesan itu, karena saat ini tidak saja dirinya kehilangan seragam sekolah dan alat tulis sekolah. Namun perabotan rumah dan harta benda keluarganya kandas disapu gelombang tsunami yang terjadi Sabtu (22/12/2018).

Dalam menjalani aktivitas sekolah, Susiyani hanya bisa memakai pakaian seadanya yang didapat dari bantuan di posko pengungsian, karena tidak ada pakaian seragam sekolah. Selain mendapat dari posko, dia juga terpaksa memulung baju layak pakai di beberapa sanak saudaranya. Rasa sedih bercampur sedikit ketakutan masih menyelimuti Susiyani korban bencana tsunami.

Meski demikian, anak sekolah ini masih memancarkan semangat dan motivasi untuk bersekolah. Sebab, cita-cita agung nan mulia ingin menjadi polisi wanita. Karenanya, dia selalu semangat bersekolah.

Mengambang di kasur

Susiyani menceritakan, saat kejadian dirinya dipegang erat oleh mamahnya (ibunya). Meskipun sang mamah sambil menggendong adiknya yang baru berusia 3 (tiga) bulan, sambil menangis dan berdoa agar bisa menyelamatkan anak-anaknya.

“Saya pakai baju ini dapat mulung (memungut) dari orang lain. Kemarin pas kejadian tsunami saya ngambang di kasur sama mama sama adik, bapak ke laut, sekarang saya hanya bisa bersekolah dengan pakaian bebas,” ucap Susiyani kepada Kabar Banten saat ditemui di SDN Teluk 2 Labuan, Senin (7/1/2019).

Sembari dibaluti kesedihan yang mendalam, ia menuturkan bagaimana perjuangan untuk bertahan dengan melawan gelombang tsunami yang membuatnya sempat terkatung-katung dan terapung di dalam rumahnya selama beberapa jam.

“Ngambang, ya sekitar satu jam, tapi pas airnya datang itu cepet naik dan cepet surut juga. Sekarang harapan saya dapat baju seragam, punya tempat tinggal lagi, cita-cita Susi ingin jadi polwan dan ingin membahagiakan orangtua,” tuturnya.

Sementara itu, orangtua Susiyani, Uun Kurniasih mengharapkan ada bantuan peralatan sekolah dan kebutuhan dasar bayi tidak dioper-oper. Sebab hingga saat ini dirinya belum mendapatkan susu formula, pampers dari posko bantuan dan saya baru mendapatkan kebutuhan itu dari para dermawan semata. (Ade Taufik)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here