Pascabencana Tsunami Selat Sunda, Rp 5 Miliar untuk Pulihkan Anyer-Cinangka

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyiapkan dana tak terduga (TT) senilai Rp 5 miliar untuk memulihkan kondisi Kawasan Pariwisata Anyer-Cinangka pascaditerjang tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018). Dana tersebut, akan digunakan untuk memperbaiki rumah, warung milik warga, dan perahu nelayan.

Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah mengatakan, sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Tata Bangunan (DPKPTB), serta Kodim sudah turun ke lapangan untuk mendata kerusakan akibat tsunami.

Tetapi, dari hasil rapat terbatas ada perubahan data, di mana salah satunya warung yang tidak menempati tanah miliknya akan direlokasi dan dirapikan. “Kalau mereka (Tim BPBD) kan menaksir kerusakan senilai bangunan asal mereka, tapi rencana kami kan ada perubahan, warung-warung yang sebelah kanan akan kami relokasi ke sebelah kiri dan kami akan meminjam lahan ke perusahaan. Cuma kalau buat prototipe yang sama dengan nilai bangunan akan berubah,” katanya.

Ia menuturkan, untuk perbaikan bangunan yang rusak tersebut, akan menggunakan dana tak terduga dengan total dana yang disiapkan secara maksimal senilai Rp 5 miliar. Dana tersebut, akan segera dicairkan setelah pendataan selesai. “Kami maksimalkan dana yang ada, kalau melihat rekapan yang ada insya Allah cukup.

Tetapi, kami menunggu hasil dari lapangan, mendata yang finalnya. Kemudian, Perkim juga sekarang sedang membuat prototipe untuk warung-warung berapa butuhnya, terus perbaikan rumah berapa fiksnya, sehingga tidak ada perubahan lagi, termasuk perahu oleh Dinas Kelautan,” ucapnya.

Sementara, Kasubid Penilaian Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) pada BPBD Kabupaten Serang, Siti Komariah sebelumnya menuturkan, pascabencana terjadi, pihaknya langsung meninjau kerusakan untuk melakukan pendataan. Pihaknya mencatat kerugian akibat tsunami yang diterjadi di Kecamatan Anyer-Cinangka belum lama ini mencapai sekitar Rp 300 juta.

Hitungan kerugian material tersebut, hanya meliputi kerusakan pada warung, gazebo yang biasa digunakan oleh wisatawan, dan perahu nelayan. “Itu di luar hotel, vila, dan kendaraan,” tuturnya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here