Pascabencana Tsunami Selat Sunda, Pemprov Banten Siap Relokasi Rumah Warga

Pemerintah Provinsi Banten siap merelokasikan pascabencana tsunami selat sunda di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang agar korban tsunami selat sunda memiliki kehidupan layak juga jauh dari ancaman bencana alam.

“Kita minta pemerintah Pandeglang dan Serang segera menyiapkan berapa jumlah kerusakan rumah juga jiwa yang terdampak tsunami itu,” kata Gubernur Wahidin Halim saat memimpin Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Tsunami Banten di Labuan, Pandeglang, Kamis (3/1/2018).

Pembangunan relokasi itu salah satu solusi yang tepat untuk menanggulangi masyarakat yang terdampak bencana tsunami agar tidak berkepanjangan. Saat ini, warga korban tsunami masih ada yang tinggal di pengungsian, karena rumah miliknya roboh maupun rusak berat.

Karena itu, Pemprov Banten siap membantu para korban tsunami untuk direlokasikan agar mereka terhindar dari ancaman bencana tsunami. Namun, masyarakat yang tinggal direlokasi itu nantinya dibangun rumah hunian tetap, tetapi lokasinya tidak begitu jauh dengan perkampungan sebelumnya.

Kebanyakan warga pesisir pantai Kabupaten Pandeglang dan Anyer berprofesi nelayan. “Kita relokasi para korban tsunami itu yang lokasinya tidak jauh dari pesisir pantai, tapi aman dari terjangan tsunami,” katanya menjelaskan.

Menurut Gubernur, pemerintah daerah diminta menyiapkan jumlah warga yang terdampak tsunami juga berikut rumah-rumah yang rusak berat dan roboh. Sejauh ini, Pemprov Banten belum memiliki data akurat jumlah warga yang terdampak tsunami maupun rumah yang roboh dan rusak berat.

Kemungkinan relokasi masyarakat itu di tanah yang tidak garap, namun nantinya melibatkan Badan Pertanahan Nasional (BPN). “Kita belum mengetahui lokasi tanahnya dimana, tetapi secepatnya bisa direalisasikan relokasi bagi warga yang terdampak tsunami,” katanya menegaskan.

Bupati Pandeglang Irna Narulita mengatakan pemerintah daerah mengapresiasi kesiapan Pemprov Banten akan membantu relokasi warga terdampak tsunami. Masyarakat yang dilanda bencana tsunami itu berada di zona merah dan menempati tanah bengkok milik desa. Saat ini, katanya, jika tidak segera ditangani para pengungsi, dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap sosial dan ekonomi masyarakat korban tsunami.

Jumlah pengungsi saat ini mulai berkurang hingga 17.000 jiwa dari sebelumnya sebanyak 33.316 jiwa. Sedangkan, kata dia, jumlah korban meninggal dunia di wilayah Pandeglang berdasarkan laporan Puskesmas sebanyak 479 jiwa dan berbeda dengan data Badan SAR nasional (Basarnas) di atas 200 jiwa.

Sementara jumlah rumah yang rusak berat sebanyak 457 unit, sehingga perlu mendapat penanganan serius agar mereka kembali membangun kehidupan yang lebih baik. “Kami berharap bantuan relokasi rumah hunian tetap itu bisa direalisasikan satu hingga dua bulan ke depan,” katanya. (MH/Ant)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here